Minggu, 04 Oktober 2015

Teknik Produksi Tanaman Kedelai

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan kedelai yang kita kenal sekarang (Glycine max). Kedelai termasuk dalam tanaman musim, yang bisa dipanen beberapa kali dalam satu tahun. Taksonomi tanaman kedelai adalah sebagai berikut Familia: Leguminosae, Subfamili: Papilionoidae, Genus: Glycine, Species: Glycine max L. Tanaman kedelai sangat cocok untuk hidup di  daerah sub tropis, namun masih mamu beradaptasi dengan baik didaerah tropis. Tanaman kedelai mampu tumbuh secara optimal dengan curah hujan diatas 500 mm setahun, suhu optimal 25º-30º C dengan penyinaran penuh minimal 10 jam perhari, kelembaban rata-rata 65%. Penanaman dengan ketinggian lebih dari 750 m dpl (meter dari pemukaan laut pertumbuhan akan terhambat dan masih dapat berproduksi dengan baik pada ketinggian 110 m dpl. Sehingga akan lebih baik dan lebih tepat jika tanaman kedelai sebaiknya dibudidayakan pada ketinggian 110-750 m di atas permukaan laut.
Kedelai, atau kacang kedelai, adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya dilakukan pada akhir musim penghujan, setelah panen padi. Pengerjaan tanah biasanya minimal. Biji dimasukkan langsung pada lubang-lubang yang dibuat. Biasanya berjarak 20-30cm. Pemupukan dasar nitrogen dan fosfat diperlukan, namun setelah tanaman tumbuh penambahan nitrogen tidak memberikan keuntungan apa pun. Lahan yang belum pernah ditanami kedelai dianjurkan diberi "starter" bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penugalan tanah dilakukan pada saat tanaman remaja (fase vegetatif awal), sekaligus sebagai pembersihan dari gulma dan tahap pemupukan fosfat kedua. Menjelang berbunga pemupukan kalium dianjurkan walaupun banyak petani yang mengabaikan untuk menghemat biaya. Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapi ada pula yang bundar atau bulat agak pipih.
Tanaman kedelai juga cukup banyak dibutuhkan selain padi dan jagung. Kedelai bisasanya digunakan sebagai bahan makanan olahan, namun bisa juga sebagai bahan konsumsi langsung. Selain sebagai bahan makanan, kedelai juga digunakan sebagai bahan baku industri, seperti: kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil. Produktivitas kedelai di Indonseia sendiri juga msih kurang baik, permintaan pasar yang besar tidak berimbang dengan besarnya produksi tanaman kedelai sehingga sangat diperlukan pengembangan produksi tanaman kedelai.

1.2  Tujuan
1.    Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman kedelai.
2.    Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman kedelai yang baik dan sesuai dengan kondisi tanah.



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Kedelai merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang mengandung protein nabati yang tinggi, sumber lemak, vitamin dan mineral. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk maka permintaan kedelai semakin meningkat. Pada tahun 1998 konsumsi perkapita sebesar 9 Kg/tahun dan pada Februari 2008 naik menjadi 10 Kg/tahun. Dengan jumlah penduduk sebesar 220 juta orang maka dibutuhkan kedelai sebanyak 2 juta ton lebih pertahun (Barokah, 2011).  Produksi kedelai di Indonesia pernah mencapai puncaknya pada tahun 1992 yaitu sebanyak 1,87 juta ton. Namun setelah itu, produksi terus mengalami penurunan hingga hanya 0,672 juta ton pada tahun 2003. Artinya, dalam 11 tahun produksi kedelai merosot mencapai 64 persen. Sebaliknya, konsumsi kedelai cenderung meningkat sehingga impor kedelai juga mengalami peningkatan mencapai 1,307 juta ton pada tahun 2004 (hampir dua kali produksi nasional). Impor ini berdampak menghabiskan devisa Negara sekitar Rp.3 triliun per tahun. Selain itu, impor bungkil kedelai telah mencapai 1,3 juta ton per tahun yang menghabiskan devisa negara sekitar Rp. 2 triliun per tahun (Atman, 2009).
Menurut Partohardjono (2005) dalam Atman (2008), terdapat berbagai kendala untuk meningkatkan produksi kedelai di Indonesia, antara lain: (a) faktor fisik, seperti tanah dan iklim terutama curah hujan, sebaran hujan, dan suhu udara; (b) faktor biologis, terutama hama, penyakit, dan gulma; (c) faktor social yang meliputi rendahnya adopsi teknologi oleh petani yang berakibat beragamnya pengelolaan tanaman kedelai di lapang; (d) faktor ekonomi yang mencakup rendahnya keuntungan (profitabilitas) usahatani dan lemahnya daya saing kedelai terhadap komoditas pertanian lainnya; dan (e) kurang berkembangnya kelembagaan penunjang usahatani kedelai, diantaranya system perbenihan, kurang tersedianya sarana produksi penting lainnya seperti penyediaan inokulum rhizobium bagi daerah-daerah pengembangan. Di tingkat usahatani kedelai di lapang, beberapa masalah yang dijumpai adalah: (a) benih bermutu dan varietas unggul yang dianjurkan tidak tersedia; (b) pengolahan tanah tidak optimal, terutama pada lahan tegalan; (c) penyiangan yang tidak sempurna mengakibatkan persaingan berat antara tanaman kedelai dengan gulma; (d) terjadi cekaman kekeringan; (e) keterlambatan pengendalian hama; (f) kurangnya tenaga kerja sehingga budidaya kedelai menjadi ekstensif; (g) perluasan areal kedelai mengarah pada lahan kering masam/pasang surut; dan (h) kurang dipahami teknik budidaya, penyediaan rhizobium, dan minat petani yang rendah.
Penyebab menurunnya produksi tanaman tersebut adalah tidak sesuainya pengelolaan usaha tani dengan kondisi iklim, waktu tanam, varietas dan paket usahatani yang diterapkan. Selain itu terdapat luas sekali lahan yang diberokan, meskipun secara ekologi hal tersebut memungkinkan untuk ditanami. Oleh karena itu perlu penggalian potensi sumberdaya dan pemanfaatan peluang yang ada seperti peningkatan intensitas tanam, pemanfaatan potensi iklim dan lahan kering yang selama ini belum dikelola secara optimal (Ode et al, 2012). Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjamin ketersediaan kedelai dalam jumlah dan kualitas yang baik dapat dengan cara pemupukan menggunakan bahan organik. Bokashi merupakan bahan yang dihasilkan melalui fermentasi dengan pemberian bahan aktif berupa Effective Microorganism-4 (EM-4). Penggunaan pupuk bokashi dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, menyehatkan tanah dan dapat meningkatkan produksi dan kualitas hasil tanaman (Mohammadi dan Amiri, 2011).
Menurut penelitian Adam et al (2013) menyatakan bahwa pemberian bokashi kotoran sapi mampu meningkatkan jumlah cabang produktif dan jumlah polong pada tanaman kedelai. Hal ini disebabkan karena bokashi kotoran sapi selain memperbaiki kondisi tanah juga mampu mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga pada dosis 10 t ha-1 memberikan hasil yang terbaik. Unsur phospat yang terdapat pada bokashi kotoran sapi mampu mempercepat pendewasaan tanaman sehingga pada dosis B2 memberikan jumlah cabang produkktif dan jumlah poling yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Pavadai et al (2013) yang menyatakan bahwa phospat berperan penting untuk merangsang pembentukan bunga, buah dan biji. Selain meningkatkan P tersedia, bahan organic juga dapat memperbaiki struktur tanah sehingga penyerapan unsur hara oleh tanaman semakin baik.
Pitojo (2003) mengatakan bahwa bahan organik diperlukan oleh tanaman selain sebagai sumber hara juga digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki struktur tanah. Murbandono (2003) dalam Pavadi et al (2013) menyatakan bahwa pemberian bahan organik berpengaruh besar terhadap sifat-sifat tanah. Fahmuddin, (1999) dalam Adam et al (2013) melaporkan bahwa pemberian bahan organik (pupuk kandang) berpengaruh terhadap tanaman seperti peningkatan kegiatan respirasi, bertambah lebarnya daun yang berpengaruh terhadap kegiatan fotosintesis yang bermuara pada produksi dan kandungan bahan kering.
Pemanfaatan bahan organik sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Rukmana dan Yuniarsih, 2002). Ditambahkan oleh Ode et al, (2012) bahwa selain memperbaiki bahan organik juga berperan sebagai penyumbang unsur hara serta meningkatkan efisiensi pemupukan dan serapan hara untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Barokah (2011) bahwa pupuk kandang merupakan pupuk yang melepaskan unsur hara secara perlahan-lahan sehingga mempunyai residu bagi pertanaman berikutnya. Penggunaan pupuk hayati merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman secara alami, dengan memanfaatkan mikroorganisme hidup ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu tanaman memfasilitasi atau menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Salah satu pupuk hayati yang sering digunakan adalah rhizobium.
Novriani (2011) mengatakan bahwa  Rhizobium merupakan kelompok bakteri berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman kedelai. Bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini mampu menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar. Bintil akar berfungsi mengambil nitrogen di atmosfer dan menyalurkannya sebagai unsur hara yang diperlukan tanaman inang. Rhizobium mampu menyumbangkan N dalam bentuk asam amino kepada tanaman kedelai. Adam (2013) melaporkan bahwa nitrogen (N) merupakan unsur paling penting bagi pertumbuhan tanaman kedelai, namun ketersediaan N di daerah tropis termasuk Indonesia tergolong rendah. Pupuk N buatan yang menggunakan gas alam sebagai bahan dasar mempunyai keterbatasan karena gas alam tidak dapat diperbarui. Oleh karena itu, diperlukan teknologi penambatan N secara hayati melalui inokulasi rhizobium untuk mengefisienkan pemupukan N pada tanaman kedelai, walaupun ini masih harus dilakukan pemupukan.




BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum Produksi Tanaman dengan judul acara “Teknik Produksi Tanaman Kedelai” ini dilakukan pada hari Senin, 24 Oktober 2013 pada pukul 08.00 WIB - selesai, bertempat di lahan agroteknopark Universitas Negeri Jember desa jubung.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Benih kedelai
2. Tanah
3. Pupuk (urea, SP-36, KCl)
4. Tanah kering angin diayak.

3.2.2 Alat
1. Cangkul
2. Tugal
3. Roll meter
4. Tali rafia
5. Papan nama
6. Ayakan
7. Timba

3.3 Cara Kerja
1.  Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah, dan menjemur sampai kering angin.
3. Mengambil sampel tanah kemudian dianalisis sidik cepat untuk mengetahui kondisi tanah melalui pH, C-Organik, dan sifat fisik tanah.
4. Memasukkan tanah sebanyak 10 kg ke dalam polibag, untukperlakuan dengan penambahan BO berat tanah disesuaikan, kemudian menyiram dengan air.
5.  Menanam benih kedelai pada masing-masing perlakuan, satu lubang diisi 2 benih.
6.  Pemupukan SP-36 dan KCl serta penambahan bahan organik sesuai dengan dosis anjuran sidik cepat sedangkan untuk pupuk urea sesuai dengan perlakuan.
7.  Melakukan pengamatan secara rutin.



BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum dan pengamatan maka dapat diperoleh hasil berupa tabel sebagai berikut :
Perlakuan
(Kel.)
Minggu
Ke-
Rerata
Tinggi
Tan.
(cm)
Rerata
Σ Daun
Rerata
Jarak
Antar
Ruas
(cm)
Rerata
Panjang
Akar
(cm)
Rerata
Σ Akar
Rerata
Σ Bintil Akar
1
(1 dan 4)
1
5,9





2
9,3


3
13,49


4
15,47


5
22,76



6







7








2
(2 dan 5)

1






2



3



4



5




6







7








3
(3 dan 6)

1






2



3



4



5




6







7






Tabel 1. Tabel data golongan hasil pengamatan tanaman kedelai berbagai perlakuan.
4.2 Pembahasan
Hampir tiap tahun produksi kedelai Indonesia terus menurun. Ini yang membuat Indonesia sangat bergantung pada kedelai impor. Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun selalu meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perbaikan pendapatan perkapita.Oleh karena itu, diperlukan suplai kedelai tambahan yang harus diimpor karena produksi dalam negeri belum dapat mencukupi kebutuhan tersebut.Lahan budidaya kedelai pun diperluas dan produktivitasnya ditingkatkan.Untuk pencapaian usaha tersebut, diperlukan pengenalan mengenai tanaman kedelai yang lebih mendalam.
Menteri Pertanian bahkan menegaskan bahwa problem kedelai di Indonesia saat ini masih mengandalkan kedelai impor dari Amerika terutama untuk produksi tahu tempe dan karena terbatasnya ketersediaan lahan untuk menanam kedelai. Bahkan diberitakan bahwa kondisi import kedelai mengalami permasalahan terkait dengan penurunan produksi kedelai Amerika karena mengalami kegagalan panen akibat iklim/cuaca buruk.
Pernyataan ini dikuatkan dengan fakta empiris bahwa komoditas pertanian termasuk didalamnya kedelai sangat rentan dengan perubahan iklim/cuaca karena perubahan jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap produksi kedelai. Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan  produksi kedelai menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan penurunan produksi kedelai  sebesar 0,030 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penuruna sebesar 0,386 satuan.  Selain itu,  perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap penurunan   luas tanam sebesar 0,094 dan luas panen sebesar 0,109 satuan.
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar, daun, batang, polong, dan biji sehingga pertumbuhannya bisa optimal.
1. Akar
Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil. Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam, yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang. Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Pada umumnya, akar adventif terjadi karena cekaman tertentu, misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi.
Perkembangan akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah, jenis tanah, cara pengolahan lahan, kecukupan unsur hara, serta ketersediaan air di dalam tanah. Pertumbuhan akar tunggang dapat3 mencapai panjang sekitar 2 m atau lebih pada kondisi yang optimal, namun demikian, umumnya akar tunggang hanya tumbuh pada kedalaman lapisan tanah olahan yang tidak terlalu dalam, sekitar 30-50 cm. Sementara akar serabut dapat tumbuh pada kedalaman tanah sekitar 20-30 cm. Akar serabut ini mula-mula tumbuh di dekat ujung akar tunggang, sekitar 3-4 hari setelah berkecambah dan akan semakin bertambah banyak dengan pembentukan akar-akar muda yang lain.
2. Batang dan cabang
Hipokotil pada proses perkecambahan merupakan bagian batang, mulai dari pangkal akar sampai kotiledon. Hopikotil dan dua keeping kotiledon yang masih melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang kecambah yang berada diatas kotiledon tersebut dinamakan epikotil. Pertumbuhan batang kedelai dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate. Perbedaan sistem pertumbuhan batang ini didasarkan atas keberadaan bunga pada pucuk batang. Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Sementara pertumbuhan batang tipe indeterminate dicirikan bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah mulai berbunga. Disamping itu, ada varietas hasil persilangan yang mempunyai tipe batang mirip keduanya sehingga dikategorikan sebagai semi-determinate atau semiindeterminate.
3. Daun
Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa pertumbuhan. Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Bentuk daun diperkirakan mempunyai korelasi yang sangat erat dengan
potensi produksi biji. Umumnya, daerah yang mempunyai tingkat kesuburan tanah tinggi sangat cocok untuk varietas kedelai yang mempunyai bentuk daun lebar. Daun mempunyai stomata, berjumlah antara 190-320 buah/m 2.
4. Bunga
Tanaman kacang-kacangan, termasuk tanaman kedelai, mempunyai dua stadia tumbuh, yaitu stadia vegetatif dan stadia reproduktif. Stadia vegetatif mulai dari tanaman berkecambah sampai saat berbunga, sedangkan stadia reproduktif mulai dari pembentukan bunga sampai pemasakan biji. Tanaman kedelai di Indonesia yang mempunyai panjang hari rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi (>30° C), sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Tanaman kedelai termasuk peka terhadap perbedaan panjang hari, khususnya saat pembentukan bunga. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak tangkai daun yang diberi nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga, tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Bunga pertama yang terbentuk umumnya pada buku kelima, keenam, atau pada buku yang lebih tinggi.
Pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Pada suhu tinggi dan kelembaban rendah, jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak tangkai daun lebih banyak. Hal ini akan merangsang pembentukan bunga. Setiap ketiak tangkai daun yang mempunyai kuncup bunga dan dapat berkembang menjadi polong disebut sebagai buku subur. Tidak setiap kuncup bunga dapat tumbuh menjadi polong, hanya berkisar 20-80%. Jumlah bunga yang rontok tidak dapat membentuk polong yang cukup besar. Rontoknya bunga ini dapat terjadi pada setiap posisi buku pada 1- 10 hari setelah mulai terbentuk bunga.
5. Polong dan biji
Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak.
Warna kulit biji bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau kombinasi campuran dari warna-warna tersebut. Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam. Namun demikian, biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.
6. Bintil akar dan Fiksasi Nitrogen
Tanaman kedelai dapat mengikat nitrogen (N2) di atmosfer melalui aktivitas bekteri pengikat nitrogen, yaitu Rhizobium japonicum. Bakteri ini terbentuk di dalam akar tanaman yang diberi nama nodul atau bintil akar. Keberadaan Rhizobium japonicum di dalam tanah memang sudah ada karena tanah tersebut ditanami kedelai atau memang sengaja ditambahkan ke dalam tanah. Nodul atau bintil akar tanaman kedelai umumnya dapat mengikat nitrogen dari udara pada umur 10 – 12 hari setelah tanam, tergantung kondisi lingkungan tanah dan suhu.
Kelembaban tanah yang cukup dan suhu tanah sekitar 25°C sangat mendukung pertumbuhan bintil akar tersebut. Perbedaan warna hijau daun pada awal pertumbuhan (10 – 15 hst) merupakan indikasi efektivitas Rhizobium japonicum. Namun demikian, proses pembentukan bintil akar sebenarnya sudah terjadi mulai umur 4 – 5 hst, yaitu sejak terbentuknya akar tanaman. Pada saat itu, terjadi infeksi pada akar rambut yang merupakan titik awal dari proses pembentukan bintil akar. Oleh karena itu, semakin banyak volume akar yang terbentuk, semakin besar pula kemungkinan jumlah bintil akar atau nodul yang terjadi. Kemampuan memfikasi N2 ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman, tetapi maksimal hanya sampai akhir masa berbunga atau mulai pembentukan biji. Setelah masa pembentukan biji, kemampuan bintil akar memfikasi N2 akan menurun bersamaan dengan semakin banyaknya bintil akar yang tua dan luruh. Di samping itu, juga diduga karena kompetisi fotosintesis antara proses pembentukan biji dengan aktivitas bintil akar.
Tanaman kedelai dapat tumbuh di berbagai agroekosistem dengan jenis tanah, kesuburan tanah, iklim, dan pola tanam yang berbeda sehingga kendala satu agroekosistem akan berbeda dengan agroekosistem yang lain. Hal ini akan mengindikasikan adanya spesifikasi cara bertanam kedelai. Oleh karena itu, langkah-langkah utama yang harus diperhatikan dalam bertanam kedelai yaitu pemilihan benih, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan.
1. Persiapan Lahan
Tanaman kedelai biasanya ditanam pada tanah kering (tegalan) atau tanah persawahan. Pengolahan tanah bagi pertanaman kedelai di lahan kering sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau, sedangkan pada lahan sawah, umumnya dilakukan pada musim kemarau. Persiapan lahan penanaman kedelai di areal persawahan dapat dilakukan secara sederhana. Mula-mula jerami padi yang tersisa
dibersihkan, kemudian dikumpulkan, dan dibiarkan mengering. Selanjutnya, dibuat petak-petak penanaman dengan lebar 3 m - 10 m, yang panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Diantara petak penanaman dibuat saluran drainase selebar 25 cm - 30 cm, dengan kedalaman 30 cm. Setelah didiamkan selama 7-10 hari, tanah siap ditanami.
Apabila lahan yang digunakan termasuk tanah asam (memiliki pH <5,0), bersamaan dengan pengolahan tanah dilakukan pengapuran. Dosis pengapuran disesuaikan dengan pH lahan. Lahan sawah supra insus dianjurkan diberi kapur sebanyak 300 kg/ha. Kapur disebarkan merata, kemudian tanah dibalik sedalam 20 cm – 30 cm dan disiram hingga cukup basah.
2. Pemilihan Benih
Kualitas benih sangat menentukan keberhasilan usaha tani kedelai. Pada penanaman kedelai, biji atau benih ditanam secara langsung, sehingga apabila kemampuan tumbuhnya rendah, jumlah populasi per satuan luas akan berkurang. Di samping itu, kedelai tidak dapat membentuk anakan sehingga apabila benih tidak tumbuh, tidak dapat ditutup oleh tanaman yang ada. Oleh karena itu, agar dapat memberikan hasil yang memuaskan, harus dipilih varietas kedelai yang sesuai dengan kebutuhan, mampu beradaptasi dengan kondisi lapang, dan memenuhi standar mutu benih yang baik. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas yaitu umur panen, ukuran dan warna biji, serta tingkat adaptasi terhadap lingkungan tumbuh yang tinggi.
a. Umur panen
Varietas yang akan ditanam harus mempunyai umur panen yang cocok dalam pola tanam pada agroekosistem yang ada. Hal ini menjadi penting untuk menghindari terjadinya pergeseran waktu tanam setelah kedelai dipanen.
b. Ukuran dan warna biji
Ukuran dan warna biji varietas yang ditanam harus sesuai dengan permintaan pasar di daerah sekitar sehingga setelah panen tidak sulit dalam menjual hasilnya.
c. Bersifat aditif
Untuk daerah sentra pertanaman tertentu, misalnya di tanah masam, hendaknya memilih varietas kedelai unggul yangmempunyai tingkat adaptasi tinggi terhadap tanah masam sehinggaakan diperoleh hasil optimal, contohnya varietas Tanggamus.Demikian pula bila kedelai ditanam di daerah banyak terdapat ham ulat grayak maka pemilihan varietas tahan ulat grayak amat menguntungkan, contohnya varietas Ijen. Selain itu, varietas yang ditanam tersebut harus sudah bersifat aditif dengan kondisi lahan21 yang akan ditanami sehingga tidak mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.
3. Penanaman
Cara tanam yang terbaik untuk memperoleh produktivitas tinggi yaitu dengan membuat lubang tanam memakai tugal dengan kedalaman antara 1,5 – 2 cm. Setiap lubang tanam diisi sebanyak 3 – 4 biji dan diupayakan 2 biji yang bisa tumbuh. Observasi di lapangan dijumpai bahwa setiap lubang tanam diisi 5 biji, bahkan ada yang sampai 7 – 9 biji sehingga terjadi pemborosan benih yang cukup banyak. Di sisi lain, pertumbuhan tanaman mengalami etiolisasi sehingga dapat mengakibatkan tanaman menjadi mudah roboh. Penempatan arah tanam di daerah tropik tidak menunjukkan perbedaan antara ditanam arah timur-barat dengan utara-selatan yang terpenting yaitu arah tanam harus sejajar dengan arah saluran irigasi atau pematusan sehingga air tidak menggenang dalam petakan.
4. Pemeliharaan
Untuk mengurangi penguapan tanah pada lahan, dapat digunakan mulsa berupa jerami kering. Mulsa ditebarkan di antara barisan tempat penanaman benih dengan ketebalan antara 3 cm – 5 cm. Satu minggu setelah penanaman, dilakukan kegiatan penyulaman. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih kedelai yang mati atau tidak tumbuh. Keterlambatan penyulaman akan mengakibatkan tingkat pertumbuhan tanaman yang jauh berbeda. Tanaman kedelai sangat memerlukan air saat perkecambahan (0 – 5 hari setelah tanam), stadium awal vegetatif (15 – 20 hari), masa pembungaan dan pembentukan biji (35 – 65 hari). Pengairan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Pengairan dilakukan dengan menggenangi saluran drainase selama 15 – 30 menit. Kelebihan air dibuang melalui saluran pembuangan. Jangan sampai terjadi tanah terlalu becek atau bahkan kekeringan.
Pada saat tanaman berumur 20 – 30 hari setelah tanam, dilakukan kegiatan penyiangan. Penyiangan pertama dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemupukan susulan. Penyiangan kedua dilakukan setelah tanaman kedelai selesai berbunga. Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh menggunakan tangan atau kored. Selain itu, dilakukan pula penggemburan tanah. Penggemburan dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman. Pemberian pupuk susulan dilakukan saat tanaman berumur 20 – 30 hari setelah tanam. Pemberian pupuk susulan hanya dilakukan pada tanah yang kurang subur saja.
Pada praktikum kali ini telah banyak ditemukan banyak kedelai yang mati, kematian kedelai dikarenakan pada saat tanam dan selama pengamatan yang dilakukan hamper setiap hari turun terus menerus, karena kelebihan air tanaman kedelai tidak bias menyerap air yang ada, sehingga terjadi pembusukan pada batang karena kondisi kelembaban dan lingkungan yang tidak stabil, selain itu cuaca yang tidak menentu menyebabkan tanaman banyak yang batangnya busuk dan akhirnya mati. Agar air dapat meresap alangkah baiknya jika dilakukan penggemburan tanah agar air dapat lolos dengan baik dan tidak merendam tanaman kedelai.
Untuk tahap pemupukan pada tanaman kedelai, para ahli dan peneliti sendiri masih berbeda pendapat tentang pemberian pupuk nitrogen  terhadap tanaman kedelai.  Ada yang berpendapat perlu diberikan ada juga yang  sebaliknya tidak perlu. Namun demikian pemupukan nitrogen tergantung kepada  ketersediaan nitrogen itu sendiri. Apabila tanaman memperlihatkan gejala kekurangan, maka perlu diberikan. Rhizobium adalah bakteri penambat N simbiotik yang dapat mencukupi hampir seluruh kebutuhan N tanaman kedelai. Akan tetapi perlu diketahui untuk terbentuknya bintil akar  diperlukan nitrogen secukupnya sebagai stater. Menurut Tim Balai Penelitian Tanah Bogor, pupuk N untuk tanaman kedelai pada tegalan, diperlukan 25 kg urea/ha sebagai starter pertumbuhan. Kebutuhan N tanaman bisa dipenuhi dari hasil fiksasi N dari udara oleh bakteri Rhizobium. Untuk meyakinkan proses tersebut terjadi dengan baik, diperlukan inokulasi Rhizobium dengan dosis 200 g untuk 40 kg benih. Produk inokulum yang baik adalah inokulum yang juga mengandung bakteri pelarut fosfat, kalium dan hormon pertumbuhan, selain bakteri pengikat N udara.  Pemakaian inokulum yang baik dapat menekan 100% kebutuhan N dan 50% kebutuhan pupuk P dan K.
Para ahli/peneliti masih berbeda pendapat tentang pemberian pupuk nitrogen terhadap tanaman kedelai. Ada yang berpendapat perlu diberikan ada juga yangsebaliknya tidak perlu. Namun demikian pemupukan nitrogen tergantung kepada ketersediaan nitrogen itu sendiri. Apabila tanaman memperlihatkan gejala kekurangan, maka perlu diberikan. Akan tetapi perlu diketahui untuk terbentuknya bintil akar diperlukan nitrogen secukupnya sebagai stater.
Menurut Tim Balai Penelitian Tanah Bogor, pupuk N untuk tanaman kedelai pada tegalan, diperlukan 25 kg urea/ha sebagai starter pertumbuhan. Kebutuhan N tanaman bisa dipenuhi dari hasil fiksasi N dari udara oleh bakteri Rhizobium. Untuk meyakinkan proses tersebut terjadi dengan baik, diperlukan inokulasi Rhizobium dengan dosis 200 g untuk 40 kg benih. Produk inokulum yang baik adalah inokulum yang juga mengandung bakteri pelarut fosfat, kalium dan hormon pertumbuhan, selain bakteri pengikat N udara. Pemakaian inokulum yang baik dapat menekan 100% kebutuhan N dan 50%  kebutuhan pupuk P dan K.
Dari data pengamatan hasil praktikum tanaman kedelai dapat dilihat sesuai pada grafik, pengamatan dilakukan selama 5 minggu. Dalam praktikum kali ini dilakukan beberapa perlakuan dengan pemberian pupuk N,P,K dengan dosis yang berbeda-beda. Dari data tersebut perlakuan yang baik yaitu perlakuan yang diberi pupuk urea lebih banyak, hal tersebut terbukti dengan banyaknya bintil akar yang sudah dirata-rata dengan jumlah 27,6, dibandingkan dengan kelompok yan lain, panjang akar kelompok 1 juga lebih panjang setelah di rata-rata, hasilnya berbeda jauh dengan kelompo 2, dan 3. Dari praktikum tersebut terbukti bahwa pupuk urea adalah pupuk yang mengandung N yang dibutuhkan tanaman kedelaiu dan dibantu oleh bakteri rhizobium sehingga dapat memfiksasi N dari udara yang kemudian membentuk bintil akar sehingga tidak heran apabila pada tanaman kedelai di temui banyak bintil akar yang berkembang.



BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari acara praktikum Produksi Tanaman dalam acara “ Teknik Produksi Tanaman Kedelai” kali ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Tanaman kedelai tidak membutuhkan pemupukan N dosis tinggi
2. Tanaman kedelai dapat tumbuh di berbagai agroekosistem dengan jenis tanah, kesuburan tanah, iklim, dan pola tanam yang berbeda sehingga kendala satu agroekosistem akan berbeda dengan agroekosistem yang lain.

5.2 Saran
Pada saat praktikum kedelai banyak yang mati akibat kelebihan air, hal tersebut bisa di antisipasi dengan melakukan pnggenburan pada tanah agar air bias lolos sehingga tidak merendam tanaman kedelai.




DAFTAR PUSTAKA

Adam, B.P., et al. 2013. Soybean [Glycine max (L.) Merrill] Seed Yield Response to High Temperature Stress During Reproductive Growth Stages. Crop Science, 7(10): 1472-1479.

Atman. 2008. Pengelolaan Tanaman Kedelai di Lahan Kering Masam. Ilmiah Tambua, 5(3): 281-287.

Atman. 2009. Strategi Peningkatan Produksi Kedelai di Indonesia. Tambua, 8(1):39-45.

Barokah, U. 2011. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Sukoharjo. Sepa. 8(1): 9-13.

Mohammadi, G.R., dan Amri, F. 2011. Critical Period of Weed Control in Soybean (Glycine max) as Influenced by Starter Fertilizer. Crop Science, 5(11): 1350-1355.

Novriani. 2011. Peranan Rhizobium dalam Meningkatkan Ketersediaan Nitrogen bagi Tanaman Kedelai. Agronobis, 3(5): 35-42.

Ode, L.S., Karimuna, L., dan Sabaruddin, L. 2012. Produksi Kedelai (Glycine max L. Merrill) Pada Berbagai Dosis Bokashi Kotoran Sapi. Penelitian Agronomi, 1(2): 145-147.

Pavadi, P., Gnanamurthy, S., dan Dhanavel, D. 2013. Effect of Mutagens on Cytological studies in Soybean (Glycine max (L.) Merr.). Advanced Research. 1(7): 223-228.

Pitojo, S. 2003. Benih Kedelai. Yogyakarta: Kanisius.


Rukmana, R., dan Yuniarsih, Y. 2002. Kedelai Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar