BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Kedelai
merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar
Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan kedelai yang kita kenal
sekarang (Glycine max). Kedelai termasuk dalam tanaman musim, yang bisa dipanen
beberapa kali dalam satu tahun. Taksonomi tanaman kedelai adalah sebagai
berikut Familia: Leguminosae, Subfamili: Papilionoidae, Genus: Glycine,
Species: Glycine max L. Tanaman kedelai sangat cocok untuk hidup di daerah sub tropis, namun masih mamu
beradaptasi dengan baik didaerah tropis. Tanaman kedelai mampu tumbuh secara
optimal dengan curah hujan diatas 500 mm setahun, suhu optimal 25º-30º C dengan
penyinaran penuh minimal 10 jam perhari, kelembaban rata-rata 65%. Penanaman dengan
ketinggian lebih dari 750 m dpl (meter dari pemukaan laut pertumbuhan akan
terhambat dan masih dapat berproduksi dengan baik pada ketinggian 110 m dpl.
Sehingga akan lebih baik dan lebih tepat jika tanaman kedelai sebaiknya
dibudidayakan pada ketinggian 110-750 m di atas permukaan laut.
Kedelai, atau kacang kedelai, adalah salah satu
tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur
seperti kecap,
tahu,
dan tempe.
Berdasarkan peninggalan arkeologi,
tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.
Kedelai merupakan sumber utama protein
nabati dan minyak
nabati dunia. Kedelai
dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya
dilakukan pada akhir musim penghujan, setelah panen padi. Pengerjaan tanah
biasanya minimal. Biji dimasukkan langsung pada lubang-lubang yang dibuat.
Biasanya berjarak 20-30cm. Pemupukan dasar nitrogen dan fosfat diperlukan,
namun setelah tanaman tumbuh penambahan nitrogen tidak memberikan keuntungan
apa pun. Lahan yang belum pernah ditanami kedelai dianjurkan diberi
"starter" bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum untuk
membantu pertumbuhan tanaman. Penugalan tanah dilakukan pada saat tanaman
remaja (fase vegetatif awal), sekaligus sebagai pembersihan dari gulma dan
tahap pemupukan fosfat kedua. Menjelang berbunga pemupukan kalium dianjurkan
walaupun banyak petani yang mengabaikan untuk menghemat biaya. Biji kedelai
berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma.
Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau,
coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding
buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapi ada pula yang bundar
atau bulat agak pipih.
Tanaman
kedelai juga cukup banyak dibutuhkan selain padi dan jagung. Kedelai bisasanya
digunakan sebagai bahan makanan olahan, namun bisa juga sebagai bahan konsumsi
langsung. Selain sebagai bahan makanan, kedelai juga digunakan sebagai bahan
baku industri, seperti: kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil.
Produktivitas kedelai di Indonseia sendiri juga msih kurang baik, permintaan
pasar yang besar tidak berimbang dengan besarnya produksi tanaman kedelai
sehingga sangat diperlukan pengembangan produksi tanaman kedelai.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan menghitung
produktivitas tanaman kedelai.
2. Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman
kedelai yang baik dan sesuai dengan kondisi tanah.
BAB 2.
TINJAUAN PUSTAKA
Kedelai merupakan salah satu jenis kacang-kacangan
yang mengandung protein nabati yang tinggi, sumber lemak, vitamin dan mineral.
Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk maka permintaan kedelai semakin meningkat.
Pada tahun 1998 konsumsi perkapita sebesar 9 Kg/tahun dan pada Februari 2008
naik menjadi 10 Kg/tahun. Dengan jumlah penduduk sebesar 220 juta orang maka dibutuhkan
kedelai sebanyak 2 juta ton lebih pertahun (Barokah, 2011). Produksi kedelai di Indonesia pernah mencapai
puncaknya pada tahun 1992 yaitu sebanyak 1,87 juta ton. Namun setelah itu,
produksi terus mengalami penurunan hingga hanya 0,672 juta ton pada tahun 2003.
Artinya, dalam 11 tahun produksi kedelai merosot mencapai 64 persen.
Sebaliknya, konsumsi kedelai cenderung meningkat sehingga impor kedelai juga
mengalami peningkatan mencapai 1,307 juta ton pada tahun 2004 (hampir dua kali
produksi nasional). Impor ini berdampak menghabiskan devisa Negara sekitar Rp.3
triliun per tahun. Selain itu, impor bungkil kedelai telah mencapai 1,3 juta
ton per tahun yang menghabiskan devisa negara sekitar Rp. 2 triliun per tahun
(Atman, 2009).
Menurut Partohardjono (2005) dalam Atman (2008), terdapat berbagai
kendala untuk meningkatkan produksi kedelai di Indonesia, antara lain: (a)
faktor fisik, seperti tanah dan iklim terutama curah hujan, sebaran hujan, dan
suhu udara; (b) faktor biologis, terutama hama, penyakit, dan gulma; (c) faktor
social yang meliputi rendahnya adopsi teknologi oleh petani yang berakibat
beragamnya pengelolaan tanaman kedelai di lapang; (d) faktor ekonomi yang
mencakup rendahnya keuntungan (profitabilitas) usahatani dan lemahnya daya
saing kedelai terhadap komoditas pertanian lainnya; dan (e) kurang
berkembangnya kelembagaan penunjang usahatani kedelai, diantaranya system
perbenihan, kurang tersedianya sarana produksi penting lainnya seperti
penyediaan inokulum rhizobium bagi daerah-daerah pengembangan. Di tingkat
usahatani kedelai di lapang, beberapa masalah yang dijumpai adalah: (a) benih
bermutu dan varietas unggul yang dianjurkan tidak tersedia; (b) pengolahan
tanah tidak optimal, terutama pada lahan tegalan; (c) penyiangan yang tidak
sempurna mengakibatkan persaingan berat antara tanaman kedelai dengan gulma;
(d) terjadi cekaman kekeringan; (e) keterlambatan pengendalian hama; (f)
kurangnya tenaga kerja sehingga budidaya kedelai menjadi ekstensif; (g)
perluasan areal kedelai mengarah pada lahan kering masam/pasang surut; dan (h)
kurang dipahami teknik budidaya, penyediaan rhizobium, dan minat petani yang
rendah.
Penyebab menurunnya produksi tanaman tersebut
adalah tidak sesuainya pengelolaan usaha tani dengan kondisi iklim, waktu
tanam, varietas dan paket usahatani yang diterapkan. Selain itu terdapat luas
sekali lahan yang diberokan, meskipun secara ekologi hal tersebut memungkinkan
untuk ditanami. Oleh karena itu perlu penggalian potensi sumberdaya dan
pemanfaatan peluang yang ada seperti peningkatan intensitas tanam, pemanfaatan
potensi iklim dan lahan kering yang selama ini belum dikelola secara optimal
(Ode et al, 2012). Salah satu upaya
yang dilakukan untuk menjamin ketersediaan kedelai dalam jumlah dan kualitas
yang baik dapat dengan cara pemupukan menggunakan bahan organik. Bokashi
merupakan bahan yang dihasilkan melalui fermentasi dengan pemberian bahan aktif
berupa Effective Microorganism-4 (EM-4). Penggunaan pupuk bokashi dapat
memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, menyehatkan tanah dan dapat
meningkatkan produksi dan kualitas hasil tanaman (Mohammadi dan Amiri, 2011).
Menurut penelitian Adam et al (2013) menyatakan bahwa pemberian bokashi kotoran sapi mampu
meningkatkan jumlah cabang produktif dan jumlah polong pada tanaman kedelai.
Hal ini disebabkan karena bokashi kotoran sapi selain memperbaiki kondisi tanah
juga mampu mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga pada dosis 10
t ha-1 memberikan hasil yang terbaik. Unsur phospat yang terdapat pada bokashi
kotoran sapi mampu mempercepat pendewasaan tanaman sehingga pada dosis B2
memberikan jumlah cabang produkktif dan jumlah poling yang lebih baik. Hal ini
sesuai dengan penelitian Pavadai et al
(2013) yang menyatakan bahwa phospat berperan penting untuk merangsang
pembentukan bunga, buah dan biji. Selain meningkatkan P tersedia, bahan organic
juga dapat memperbaiki struktur tanah sehingga penyerapan unsur hara oleh
tanaman semakin baik.
Pitojo (2003)
mengatakan bahwa bahan organik diperlukan oleh tanaman selain sebagai sumber
hara juga digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki struktur tanah. Murbandono
(2003) dalam Pavadi et al
(2013) menyatakan bahwa pemberian bahan organik berpengaruh besar terhadap
sifat-sifat tanah. Fahmuddin, (1999) dalam Adam et al (2013) melaporkan bahwa pemberian bahan organik (pupuk
kandang) berpengaruh terhadap tanaman seperti peningkatan kegiatan respirasi,
bertambah lebarnya daun yang berpengaruh terhadap kegiatan fotosintesis yang
bermuara pada produksi dan kandungan bahan kering.
Pemanfaatan bahan organik sangat penting dalam
memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Rukmana dan Yuniarsih, 2002).
Ditambahkan oleh Ode et al, (2012)
bahwa selain memperbaiki bahan organik juga berperan sebagai penyumbang unsur
hara serta meningkatkan efisiensi pemupukan dan serapan hara untuk pertumbuhan
dan produksi tanaman. Barokah (2011) bahwa pupuk kandang merupakan pupuk yang
melepaskan unsur hara secara perlahan-lahan sehingga mempunyai residu bagi
pertanaman berikutnya. Penggunaan pupuk hayati merupakan upaya untuk memenuhi
kebutuhan hara tanaman secara alami, dengan memanfaatkan mikroorganisme hidup
ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu tanaman memfasilitasi atau
menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Salah satu pupuk hayati yang
sering digunakan adalah rhizobium.
Novriani
(2011) mengatakan bahwa Rhizobium merupakan
kelompok bakteri berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman kedelai. Bila
bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini mampu menginfeksi akar
tanaman dan membentuk bintil akar. Bintil akar berfungsi mengambil nitrogen di
atmosfer dan menyalurkannya sebagai unsur hara yang diperlukan tanaman inang. Rhizobium
mampu menyumbangkan N dalam bentuk asam amino kepada tanaman kedelai. Adam
(2013) melaporkan bahwa nitrogen (N) merupakan unsur paling penting bagi
pertumbuhan tanaman kedelai, namun ketersediaan N di daerah tropis termasuk
Indonesia tergolong rendah. Pupuk N buatan yang menggunakan gas alam sebagai
bahan dasar mempunyai keterbatasan karena gas alam tidak dapat diperbarui. Oleh
karena itu, diperlukan teknologi penambatan N secara hayati melalui inokulasi
rhizobium untuk mengefisienkan pemupukan N pada tanaman kedelai, walaupun ini
masih harus dilakukan pemupukan.
BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Produksi Tanaman dengan
judul acara “Teknik Produksi Tanaman Kedelai” ini dilakukan pada hari Senin, 24
Oktober 2013 pada pukul 08.00 WIB - selesai, bertempat di lahan agroteknopark
Universitas Negeri Jember desa jubung.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.
Benih kedelai
2.
Tanah
3.
Pupuk (urea, SP-36, KCl)
4.
Tanah kering angin diayak.
3.2.2 Alat
1.
Cangkul
2.
Tugal
3.
Roll meter
4.
Tali rafia
5.
Papan nama
6.
Ayakan
7.
Timba
3.3 Cara Kerja
1.
Menyiapkan alat dan bahan yang
diperlukan.
2.
Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah, dan menjemur sampai kering
angin.
3.
Mengambil sampel tanah kemudian dianalisis sidik cepat untuk mengetahui kondisi
tanah melalui pH, C-Organik, dan sifat fisik tanah.
4.
Memasukkan tanah sebanyak 10 kg ke dalam polibag, untukperlakuan dengan
penambahan BO berat tanah disesuaikan, kemudian menyiram dengan air.
5.
Menanam benih kedelai pada masing-masing
perlakuan, satu lubang diisi 2 benih.
6.
Pemupukan SP-36 dan KCl serta penambahan
bahan organik sesuai dengan dosis anjuran sidik cepat sedangkan untuk pupuk
urea sesuai dengan perlakuan.
7.
Melakukan pengamatan secara rutin.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum dan pengamatan maka dapat
diperoleh hasil berupa tabel sebagai berikut :
|
Perlakuan
(Kel.)
|
Minggu
Ke-
|
Rerata
Tinggi
Tan.
(cm)
|
Rerata
Σ Daun
|
Rerata
Jarak
Antar
Ruas
(cm)
|
Rerata
Panjang
Akar
(cm)
|
Rerata
Σ Akar
|
Rerata
Σ
Bintil Akar
|
|
1
(1 dan
4)
|
1
|
5,9
|
|
|
|
|
|
|
2
|
9,3
|
|
|
||||
|
3
|
13,49
|
|
|
||||
|
4
|
15,47
|
|
|
||||
|
5
|
22,76
|
|
|
||||
|
|
6
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
|
|
|
|
|
|
|
2
(2 dan
5)
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
||||
|
3
|
|
|
|
||||
|
4
|
|
|
|
||||
|
5
|
|
|
|
||||
|
|
6
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
|
|
|
|
|
|
|
3
(3 dan
6)
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
||||
|
3
|
|
|
|
||||
|
4
|
|
|
|
||||
|
5
|
|
|
|
||||
|
|
6
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
|
|
|
|
|
|
4.2 Pembahasan
Hampir tiap tahun produksi kedelai Indonesia terus menurun.
Ini yang membuat Indonesia sangat bergantung pada kedelai impor. Kebutuhan
kedelai di Indonesia setiap tahun selalu meningkat seiring dengan pertambahan
penduduk dan perbaikan pendapatan perkapita.Oleh karena itu, diperlukan suplai
kedelai tambahan yang harus diimpor karena produksi dalam negeri belum dapat
mencukupi kebutuhan tersebut.Lahan budidaya kedelai pun diperluas dan
produktivitasnya ditingkatkan.Untuk pencapaian usaha tersebut, diperlukan
pengenalan mengenai tanaman kedelai yang lebih mendalam.
Menteri Pertanian bahkan menegaskan bahwa problem kedelai di
Indonesia saat ini masih mengandalkan kedelai impor dari Amerika terutama untuk
produksi tahu tempe dan karena terbatasnya ketersediaan lahan untuk menanam
kedelai. Bahkan diberitakan bahwa kondisi import kedelai mengalami permasalahan
terkait dengan penurunan produksi kedelai Amerika karena mengalami kegagalan
panen akibat iklim/cuaca buruk.
Pernyataan ini dikuatkan dengan fakta empiris bahwa komoditas
pertanian termasuk didalamnya kedelai sangat rentan dengan perubahan
iklim/cuaca karena perubahan jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif
terhadap produksi kedelai. Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan
basah/lembab) dengan produksi kedelai menunjukkan bahwa kenaikan satu
satuan bulan basah/lembab mengakibatkan penurunan produksi kedelai
sebesar 0,030 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penuruna
sebesar 0,386 satuan. Selain itu, perubahan jumlah bulan basah juga
berpengaruh terhadap penurunan luas tanam sebesar 0,094 dan luas
panen sebesar 0,109 satuan.
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak,
berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai
didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar, daun, batang, polong, dan biji
sehingga pertumbuhannya bisa optimal.
1.
Akar
Akar kedelai
mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil. Calon akar
tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang
terdiri dari dua keping akan terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan
yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam,
yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang.
Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari
bagian bawah hipokotil. Pada umumnya, akar adventif terjadi karena cekaman
tertentu, misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi.
Perkembangan
akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah, jenis
tanah, cara pengolahan lahan, kecukupan unsur hara, serta ketersediaan air di
dalam tanah. Pertumbuhan akar tunggang dapat3 mencapai panjang sekitar 2 m atau
lebih pada kondisi yang optimal, namun demikian, umumnya akar tunggang hanya
tumbuh pada kedalaman lapisan tanah olahan yang tidak terlalu dalam, sekitar
30-50 cm. Sementara akar serabut dapat tumbuh pada kedalaman tanah sekitar
20-30 cm. Akar serabut ini mula-mula tumbuh di dekat ujung akar tunggang,
sekitar 3-4 hari setelah berkecambah dan akan semakin bertambah banyak dengan
pembentukan akar-akar muda yang lain.
2. Batang dan cabang
Hipokotil pada
proses perkecambahan merupakan bagian batang, mulai dari pangkal akar sampai
kotiledon. Hopikotil dan dua keeping kotiledon yang masih melekat pada
hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang kecambah yang berada
diatas kotiledon tersebut dinamakan epikotil. Pertumbuhan batang kedelai
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate. Perbedaan
sistem pertumbuhan batang ini didasarkan atas keberadaan bunga pada pucuk
batang. Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang
tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Sementara pertumbuhan
batang tipe indeterminate dicirikan bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh
daun, walaupun tanaman sudah mulai berbunga. Disamping itu, ada varietas hasil
persilangan yang mempunyai tipe batang mirip keduanya sehingga dikategorikan
sebagai semi-determinate atau semiindeterminate.
3. Daun
Tanaman kedelai
mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat
tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun
bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa pertumbuhan. Umumnya,
bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua
bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Bentuk daun diperkirakan
mempunyai korelasi yang sangat erat dengan
potensi produksi biji. Umumnya,
daerah yang mempunyai tingkat kesuburan tanah tinggi sangat cocok untuk
varietas kedelai yang mempunyai bentuk daun lebar. Daun mempunyai stomata,
berjumlah antara 190-320 buah/m 2.
4. Bunga
Tanaman
kacang-kacangan, termasuk tanaman kedelai, mempunyai dua stadia tumbuh, yaitu
stadia vegetatif dan stadia reproduktif. Stadia vegetatif mulai dari tanaman
berkecambah sampai saat berbunga, sedangkan stadia reproduktif mulai dari
pembentukan bunga sampai pemasakan biji. Tanaman kedelai di Indonesia yang
mempunyai panjang hari rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi
(>30° C), sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Tanaman
kedelai termasuk peka terhadap perbedaan panjang hari, khususnya saat
pembentukan bunga. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. Tangkai bunga umumnya
tumbuh dari ketiak tangkai daun yang diberi nama rasim. Jumlah bunga pada
setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga, tergantung
kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Bunga pertama yang terbentuk
umumnya pada buku kelima, keenam, atau pada buku yang lebih tinggi.
Pembentukan
bunga juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Pada suhu tinggi dan
kelembaban rendah, jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak tangkai daun
lebih banyak. Hal ini akan merangsang pembentukan bunga. Setiap ketiak tangkai
daun yang mempunyai kuncup bunga dan dapat berkembang menjadi polong disebut
sebagai buku subur. Tidak setiap kuncup bunga dapat tumbuh menjadi polong,
hanya berkisar 20-80%. Jumlah bunga yang rontok tidak dapat membentuk polong
yang cukup besar. Rontoknya bunga ini dapat terjadi pada setiap posisi buku
pada 1- 10 hari setelah mulai terbentuk bunga.
5. Polong dan biji
Polong kedelai
pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama.
Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap
ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok.
Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan
ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat
setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi
maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh
perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak.
Warna kulit biji
bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau kombinasi campuran
dari warna-warna tersebut. Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga
setelah proses pembijian selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam. Namun
demikian, biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.
6. Bintil akar dan Fiksasi Nitrogen
Tanaman kedelai
dapat mengikat nitrogen (N2) di atmosfer melalui aktivitas bekteri pengikat
nitrogen, yaitu Rhizobium japonicum. Bakteri ini terbentuk di dalam akar
tanaman yang diberi nama nodul atau bintil akar. Keberadaan Rhizobium japonicum
di dalam tanah memang sudah ada karena tanah tersebut ditanami kedelai atau
memang sengaja ditambahkan ke dalam tanah. Nodul atau bintil akar tanaman
kedelai umumnya dapat mengikat nitrogen dari udara pada umur 10 – 12 hari
setelah tanam, tergantung kondisi lingkungan tanah dan suhu.
Kelembaban tanah
yang cukup dan suhu tanah sekitar 25°C sangat mendukung pertumbuhan bintil akar
tersebut. Perbedaan warna hijau daun pada awal pertumbuhan (10 – 15 hst)
merupakan indikasi efektivitas Rhizobium japonicum. Namun demikian, proses
pembentukan bintil akar sebenarnya sudah terjadi mulai umur 4 – 5 hst, yaitu
sejak terbentuknya akar tanaman. Pada saat itu, terjadi infeksi pada akar
rambut yang merupakan titik awal dari proses pembentukan bintil akar. Oleh
karena itu, semakin banyak volume akar yang terbentuk, semakin besar pula
kemungkinan jumlah bintil akar atau nodul yang terjadi. Kemampuan memfikasi N2
ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman, tetapi maksimal
hanya sampai akhir masa berbunga atau mulai pembentukan biji. Setelah masa
pembentukan biji, kemampuan bintil akar memfikasi N2 akan menurun bersamaan
dengan semakin banyaknya bintil akar yang tua dan luruh. Di samping itu, juga
diduga karena kompetisi fotosintesis antara proses pembentukan biji dengan
aktivitas bintil akar.
Tanaman kedelai
dapat tumbuh di berbagai agroekosistem dengan jenis tanah, kesuburan tanah,
iklim, dan pola tanam yang berbeda sehingga kendala satu agroekosistem akan
berbeda dengan agroekosistem yang lain. Hal ini akan mengindikasikan adanya
spesifikasi cara bertanam kedelai. Oleh karena itu, langkah-langkah utama yang
harus diperhatikan dalam bertanam kedelai yaitu pemilihan benih, persiapan
lahan, penanaman, pemeliharaan.
1. Persiapan Lahan
Tanaman kedelai
biasanya ditanam pada tanah kering (tegalan) atau tanah persawahan. Pengolahan
tanah bagi pertanaman kedelai di lahan kering sebaiknya dilakukan pada akhir
musim kemarau, sedangkan pada lahan sawah, umumnya dilakukan pada musim
kemarau. Persiapan lahan penanaman kedelai di areal persawahan dapat dilakukan
secara sederhana. Mula-mula jerami padi yang tersisa
dibersihkan, kemudian dikumpulkan,
dan dibiarkan mengering. Selanjutnya, dibuat petak-petak penanaman dengan lebar
3 m - 10 m, yang panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Diantara petak
penanaman dibuat saluran drainase selebar 25 cm - 30 cm, dengan kedalaman 30
cm. Setelah didiamkan selama 7-10 hari, tanah siap ditanami.
Apabila lahan
yang digunakan termasuk tanah asam (memiliki pH <5,0), bersamaan dengan
pengolahan tanah dilakukan pengapuran. Dosis pengapuran disesuaikan dengan pH
lahan. Lahan sawah supra insus dianjurkan diberi kapur sebanyak 300 kg/ha.
Kapur disebarkan merata, kemudian tanah dibalik sedalam 20 cm – 30 cm dan
disiram hingga cukup basah.
2. Pemilihan Benih
Kualitas benih
sangat menentukan keberhasilan usaha tani kedelai. Pada penanaman kedelai, biji
atau benih ditanam secara langsung, sehingga apabila kemampuan tumbuhnya
rendah, jumlah populasi per satuan luas akan berkurang. Di samping itu, kedelai
tidak dapat membentuk anakan sehingga apabila benih tidak tumbuh, tidak dapat
ditutup oleh tanaman yang ada. Oleh karena itu, agar dapat memberikan hasil yang
memuaskan, harus dipilih varietas kedelai yang sesuai dengan kebutuhan, mampu
beradaptasi dengan kondisi lapang, dan memenuhi standar mutu benih yang baik.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas yaitu umur panen,
ukuran dan warna biji, serta tingkat adaptasi terhadap lingkungan tumbuh yang
tinggi.
a. Umur panen
Varietas yang
akan ditanam harus mempunyai umur panen yang cocok dalam pola tanam pada
agroekosistem yang ada. Hal ini menjadi penting untuk menghindari terjadinya
pergeseran waktu tanam setelah kedelai dipanen.
b. Ukuran dan warna biji
Ukuran dan warna
biji varietas yang ditanam harus sesuai dengan permintaan pasar di daerah
sekitar sehingga setelah panen tidak sulit dalam menjual hasilnya.
c. Bersifat aditif
Untuk daerah
sentra pertanaman tertentu, misalnya di tanah masam, hendaknya memilih varietas
kedelai unggul yangmempunyai tingkat adaptasi tinggi terhadap tanah masam
sehinggaakan diperoleh hasil optimal, contohnya varietas Tanggamus.Demikian
pula bila kedelai ditanam di daerah banyak terdapat ham ulat grayak maka
pemilihan varietas tahan ulat grayak amat menguntungkan, contohnya varietas
Ijen. Selain itu, varietas yang ditanam tersebut harus sudah bersifat aditif
dengan kondisi lahan21 yang akan ditanami sehingga tidak mengalami hambatan
dalam pertumbuhannya.
3. Penanaman
Cara tanam yang
terbaik untuk memperoleh produktivitas tinggi yaitu dengan membuat lubang tanam
memakai tugal dengan kedalaman antara 1,5 – 2 cm. Setiap lubang tanam diisi
sebanyak 3 – 4 biji dan diupayakan 2 biji yang bisa tumbuh. Observasi di
lapangan dijumpai bahwa setiap lubang tanam diisi 5 biji, bahkan ada yang
sampai 7 – 9 biji sehingga terjadi pemborosan benih yang cukup banyak. Di sisi
lain, pertumbuhan tanaman mengalami etiolisasi sehingga dapat mengakibatkan
tanaman menjadi mudah roboh. Penempatan arah tanam di daerah tropik tidak
menunjukkan perbedaan antara ditanam arah timur-barat dengan utara-selatan yang
terpenting yaitu arah tanam harus sejajar dengan arah saluran irigasi atau
pematusan sehingga air tidak menggenang dalam petakan.
4. Pemeliharaan
Untuk mengurangi
penguapan tanah pada lahan, dapat digunakan mulsa berupa jerami kering. Mulsa
ditebarkan di antara barisan tempat penanaman benih dengan ketebalan antara 3
cm – 5 cm. Satu minggu setelah penanaman, dilakukan kegiatan penyulaman.
Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih kedelai yang mati atau tidak tumbuh.
Keterlambatan penyulaman akan mengakibatkan tingkat pertumbuhan tanaman yang
jauh berbeda. Tanaman kedelai sangat memerlukan air saat perkecambahan (0 – 5
hari setelah tanam), stadium awal vegetatif (15 – 20 hari), masa pembungaan dan
pembentukan biji (35 – 65 hari). Pengairan sebaiknya dilakukan pada pagi atau
sore hari. Pengairan dilakukan dengan menggenangi saluran drainase selama 15 –
30 menit. Kelebihan air dibuang melalui saluran pembuangan. Jangan sampai
terjadi tanah terlalu becek atau bahkan kekeringan.
Pada saat
tanaman berumur 20 – 30 hari setelah tanam, dilakukan kegiatan penyiangan.
Penyiangan pertama dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemupukan susulan.
Penyiangan kedua dilakukan setelah tanaman kedelai selesai berbunga. Penyiangan
dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh menggunakan tangan atau kored.
Selain itu, dilakukan pula penggemburan tanah. Penggemburan dilakukan secara
hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman. Pemberian pupuk susulan
dilakukan saat tanaman berumur 20 – 30 hari setelah tanam. Pemberian pupuk
susulan hanya dilakukan pada tanah yang kurang subur saja.
Pada praktikum
kali ini telah banyak ditemukan banyak kedelai yang mati, kematian kedelai
dikarenakan pada saat tanam dan selama pengamatan yang dilakukan hamper setiap
hari turun terus menerus, karena kelebihan air tanaman kedelai tidak bias
menyerap air yang ada, sehingga terjadi pembusukan pada batang karena kondisi
kelembaban dan lingkungan yang tidak stabil, selain itu cuaca yang tidak
menentu menyebabkan tanaman banyak yang batangnya busuk dan akhirnya mati. Agar
air dapat meresap alangkah baiknya jika dilakukan penggemburan tanah agar air
dapat lolos dengan baik dan tidak merendam tanaman kedelai.
Untuk tahap pemupukan pada
tanaman kedelai, para ahli dan peneliti sendiri masih berbeda pendapat tentang
pemberian pupuk nitrogen terhadap
tanaman kedelai. Ada yang berpendapat
perlu diberikan ada juga yang sebaliknya
tidak perlu. Namun demikian pemupukan nitrogen tergantung kepada ketersediaan nitrogen itu sendiri. Apabila
tanaman memperlihatkan gejala kekurangan, maka perlu diberikan. Rhizobium
adalah bakteri penambat N simbiotik yang dapat
mencukupi hampir seluruh kebutuhan N tanaman kedelai. Akan
tetapi perlu diketahui untuk terbentuknya bintil akar diperlukan nitrogen secukupnya sebagai
stater. Menurut Tim Balai Penelitian Tanah Bogor, pupuk N untuk tanaman kedelai
pada tegalan, diperlukan 25 kg urea/ha sebagai starter pertumbuhan. Kebutuhan N
tanaman bisa dipenuhi dari hasil fiksasi N dari udara oleh bakteri Rhizobium.
Untuk meyakinkan proses tersebut terjadi dengan baik, diperlukan inokulasi
Rhizobium dengan dosis 200 g untuk 40 kg benih. Produk inokulum yang baik
adalah inokulum yang juga mengandung bakteri pelarut fosfat, kalium dan hormon
pertumbuhan, selain bakteri pengikat N udara.
Pemakaian inokulum yang baik dapat menekan 100% kebutuhan N dan 50%
kebutuhan pupuk P dan K.
Para
ahli/peneliti masih berbeda pendapat tentang pemberian pupuk nitrogen terhadap
tanaman kedelai. Ada yang berpendapat perlu diberikan ada juga yangsebaliknya
tidak perlu. Namun demikian pemupukan nitrogen tergantung kepada ketersediaan
nitrogen itu sendiri. Apabila tanaman memperlihatkan gejala kekurangan, maka
perlu diberikan. Akan tetapi perlu diketahui untuk terbentuknya bintil akar
diperlukan nitrogen secukupnya sebagai stater.
Menurut Tim
Balai Penelitian Tanah Bogor, pupuk N untuk tanaman kedelai pada tegalan,
diperlukan 25 kg urea/ha sebagai starter pertumbuhan. Kebutuhan N tanaman bisa
dipenuhi dari hasil fiksasi N dari udara oleh bakteri Rhizobium. Untuk
meyakinkan proses tersebut terjadi dengan baik, diperlukan inokulasi Rhizobium
dengan dosis 200 g untuk 40 kg benih. Produk inokulum yang baik adalah inokulum
yang juga mengandung bakteri pelarut fosfat, kalium dan hormon pertumbuhan,
selain bakteri pengikat N udara. Pemakaian inokulum yang baik dapat menekan
100% kebutuhan N dan 50% kebutuhan pupuk
P dan K.
Dari
data pengamatan hasil
praktikum tanaman kedelai dapat dilihat sesuai pada
grafik, pengamatan dilakukan selama 5 minggu. Dalam
praktikum kali ini dilakukan
beberapa perlakuan dengan pemberian pupuk N,P,K dengan dosis yang berbeda-beda. Dari data tersebut perlakuan
yang baik yaitu perlakuan yang diberi pupuk urea lebih banyak, hal tersebut
terbukti dengan banyaknya bintil akar yang sudah dirata-rata dengan jumlah 27,6, dibandingkan dengan
kelompok yan lain, panjang akar kelompok 1 juga lebih panjang setelah di
rata-rata, hasilnya berbeda jauh dengan kelompo 2, dan 3. Dari praktikum tersebut
terbukti bahwa pupuk urea adalah pupuk yang mengandung N yang dibutuhkan
tanaman kedelaiu dan dibantu oleh bakteri rhizobium sehingga dapat memfiksasi N
dari udara yang kemudian membentuk bintil akar sehingga tidak heran apabila
pada tanaman kedelai di temui banyak bintil akar yang berkembang.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari
acara praktikum Produksi Tanaman dalam acara “ Teknik Produksi Tanaman Kedelai”
kali ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Tanaman
kedelai tidak membutuhkan pemupukan N dosis tinggi
2. Tanaman
kedelai dapat tumbuh di berbagai agroekosistem dengan jenis tanah, kesuburan
tanah, iklim, dan pola tanam yang berbeda sehingga kendala satu agroekosistem
akan berbeda dengan agroekosistem yang lain.
5.2 Saran
Pada saat
praktikum kedelai banyak yang mati akibat kelebihan air, hal tersebut bisa di
antisipasi dengan melakukan pnggenburan pada tanah agar air bias lolos sehingga
tidak merendam tanaman kedelai.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, B.P., et al. 2013. Soybean [Glycine max (L.)
Merrill] Seed Yield Response to High Temperature Stress During Reproductive
Growth Stages. Crop Science, 7(10):
1472-1479.
Atman.
2008. Pengelolaan Tanaman Kedelai di Lahan Kering Masam. Ilmiah Tambua, 5(3): 281-287.
Atman.
2009. Strategi Peningkatan Produksi Kedelai di Indonesia. Tambua, 8(1):39-45.
Barokah, U. 2011. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani
Kedelai di Kabupaten Sukoharjo. Sepa.
8(1): 9-13.
Mohammadi, G.R., dan Amri, F. 2011. Critical Period
of Weed Control in Soybean (Glycine max) as Influenced by Starter Fertilizer.
Crop Science, 5(11): 1350-1355.
Novriani. 2011. Peranan Rhizobium dalam
Meningkatkan Ketersediaan Nitrogen bagi Tanaman Kedelai. Agronobis, 3(5): 35-42.
Ode, L.S., Karimuna, L., dan Sabaruddin, L. 2012. Produksi
Kedelai (Glycine max L. Merrill) Pada Berbagai Dosis Bokashi Kotoran
Sapi. Penelitian Agronomi, 1(2):
145-147.
Pavadi, P., Gnanamurthy, S., dan
Dhanavel, D. 2013. Effect of Mutagens on Cytological studies in Soybean (Glycine
max (L.) Merr.). Advanced Research.
1(7): 223-228.
Pitojo, S. 2003. Benih Kedelai. Yogyakarta: Kanisius.
Rukmana,
R., dan Yuniarsih, Y. 2002. Kedelai
Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar