BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Tanaman singkong
merupakan Produk Pertanian yang cocok untuk di jadikan unit bisnis atau
dijadikan sarana produksi yang tinggi setelah padi karena kandungan dari
tanaman singkong ini karbohidratnya tinggi, dan juga karena manfaat yang di
peroleh komoditi tersebut cukup banyak dan bermanfaat melihat pangsa pasar yang
cukup menggiurkan atas bahan baku singkong. Singkong (Manihot esculenta) yang di
kenal juga Ktela pohon atau Umbi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika
dari keluarga Euphorbiaceae Kelebihan singkong terletak pada kandungan
karbohidrat, lemak, Protein, kalori, fosfor dan cita rasanya yang lezat.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terus menurunnya produksi singkong di
Indonesia, salah satunya adalah karena tidak tersedinya bibit unggul siap
tanam. Pada umumnya petani Indonesia tetap melakukan cara tradisional dalam
budidaya singkong, dimana bahan tanam berupa batang dipotong dan ditancapkan
begitu saja tanpa perlakuan khusus. Hal inilah yang menyebabkan prouduksi
singkong terus mengalami penurunan. Sehingga diperlukan suatu teknologi inovasi
produksi untuk mengatasi masalah tersebut.
Cara budidaya
tanaman dengan menggunakan satu mata tunas disebut dengan istilah Single bud.
Metode tersebut di adopsi dari Columbia. Pada umumnya metode single bud
digunakan dalam pembibitan tanaman tebu. Metode
tersebut sampai saat ini masih belum diterapkan pada pembibitan singkong.
Sehingga dalam upaya inovasi produksi pertanian, maka metode single bud dapat
digunakan sebagai salah satu alternatif metode pembibitan untuk menyiapkan
bahan tanam guna meningkatkan produksi singkong.
Untuk memenuhi
upaya peningkatan kualitas bahan tanam tidak cukup hanya dengan mengadopsi
metode pembibitan. Dengan diperlakukannya perlakuan khusus seperti pemberian
Zat Pengatur Tumbuh atau bisa dikenal ZPT, pemupukan dan lain sebagainya. Zat pengatur tumbuh atau sering kita sebut dengan ZPT
mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan untuk kelangsungan
hidup suatu tanaman. Zat pengatur Tumbuh adalah senyawa organik yang bukan hara
yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses
fisiologi tumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh dalam tanaman terdiri dari lima
kelompok yaitu Auxin, giberelin, sitokinin, ethylene generators dan inhibitor
dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis.
Zat Pengatur
Tumbuh Rootone F meru-pakan ZPT sintetis yang berbentuk serbuk, berwarna putih,
yang berguna untuk memper-cepat dan memperbanyak keluarnya akar-akar baru,
karena mengandung bahan aktif dari hasil formulasi beberapa hormon tumbuh akar
yaitu naftalenasetamida 0,067%, 2 metil 1 naftalenasetamida 0,013%, 2 metil 1
naftalen asetat 0,033%, indole 3 butirat (IBA) 0,057%, dan tiram 4%. Hormon
yang terkandung dalam di dalam Rootone-F ini juga di temukan secara alami
didalam urin sapi. Dengan demikian, konsentrasi yang tepat, urin sapi adalah
mudah didapat dengan harga murah, serta tidak meninbulkan pencemaran terhadap
lingkungan pada sekitarnya.
1.2
Tujuan
1. Untuk
mengetahui metode pembibitan single bud.
2. Untuk
mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh Rootone-F terhadap pertumbuhan bibit
singkong single bud.
3. Untuk
mengetahui konsentrasi zat pengatur tumbuh yang efektif dalam pembibitan single
bud singkong.
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman
singkong atau (Manihot
utilissima Pohl) termasuk di dalam famili Euphorbiaceae,
dalam arti Euphorbiaceae berupa tanaman
menahun. Singkong berasal dari Amerika Selatan yang hidup subur pada daerah
tropis dan subtropis. Singkong merupakan tanaman pangan yang sangat penting
diantara tanaman pertanian lainnya karena dalam pemeliharaannya mudah dan
produktif. Bagian dari tanaman singkong
yang dapat dimanfaatkan adalah daun dan akar-akar yang menebal membentuk umbi.
Bagian umbi ini banyak mengandung zat tepung atau pati (Faizul,
2008). Pada umumnya petani
Indonesia tetap melakukan cara tradisional dalam budidaya singkong, dimana
bahan tanam berupa batang dipotong dan ditancapkan begitu saja tanpa perlakuan
khusus. Hal inilah yang menyebabkan prouduksi singkong terus mengalami
penurunan. Sehingga diperlukan suatu teknologi inovasi produksi untuk mengatasi
masalah tersebut.
Salah satu cara
budidaya tanaman dengan menggunakan cara single bud dengan menggunakan mata
tunas. Single bud merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan menggunakan
cabang atau ranting yang hanya memiliki satu mata tunas. Cara pengambilan
cabang atau ranting bisa dilakukan dengan menghitung ruas batang atau ranting.
Tunas yang tumbuh di bagiang batang atau ranting biasanya terdapat di setiap
batang ruas. Apabila yang diambil hanya satu mata tunas, diperlukan satu ruas.
Contoh ruas atau buku yang terlihat sangat jelas terdapat pada tanaman bambu
atau tebu (Rahardja dan Wiryanta, 2009). Metode single bud tersebut samapai
hingga saat ini masih belum diterapkan
pada pembibitan singkong. Sehingga dapat diguakan dalam upaya inovasi produksi
pertanian. Maka metode ini salah satu alternative metode pembibitan untuk
menyiapkan bahan tanam guna meningkatkan produksi singkong. Pertumbuhan adalah
peningkatan permanen ukuran organisme atau bagiannya yang merupakan hasil dari
peningkatan jumlah dan ukuran sel. Selain pertumbuhan, tanaman juga mengalami
perkembangan dalam siklus hidupnya. Perkembangan sendiri merupakan koordinasi
pertumbuhan dan diferensiasi dari suatu sel tunggal menjadi jaringan, organ,
dan organisme seutuhnya (Aisya et al, 2012). Dalam tujuan utama dari pembibitan
adalah untuk mempersiapkan bibit yang baik dengan kriteria sehat, kuat dan
kokoh. Hal tersebut merupakan salah satu faktor penentu bagi keberhasilan
penanaman di lapangan dan untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang maksimal
(Setyamidjaja dalam Irawan, 2013).
Untuk memenuhi
upaya peningkatan kualitas bahan tanam tidak cukup hanya dengan mengadopsi
metode pembibitan. Dengan diperlakukannya perlakuan khusus seperti pemberian
Zat Pengatur Tumbuh atau bisa dikenal ZPT, pemupukan dan lain sebagainya. Zat pengatur tumbuh atau sering kita sebut dengan ZPT
mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan untuk kelangsungan
hidup suatu tanaman (Edward dan Carroll, 2004). Zat pengatur Tumbuh adalah
senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung,
menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh
dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu Auxin, giberelin, sitokinin,
ethylene generators dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan
terhadap proses fisiologis (Supriyanto dan kaka, 2011).
Untuk menstimulir pertumbuhan akar stek
maka digunakan ZPT (Rootone-F) dengan beberapa dosis. Penambahan zat pengatur
tumbuh pada stek diharapkan meningkatkan kemampuan berakar dan persentase hidup
stek.
Pada umumnya campuran dari beberapa zat pengatur tumbuh lebih efektif
dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh tunggal, seperti pada zat pengatur
tumbuh rootone-f adalah formulasi dari beberapa zat : Napthalene Acetic Acid (NAA), Indole Acetic Acid (IAA), dan IBA yang berbentuk tepung berwarna putih
kotor dan sukar larut dalam air ( Barber dalam Gorska, 2010). Komposisi bahan
aktif rootone-f adalah Napthalene
Acetamida (NAA) 0,067 %; 2-metil-1-Napthalene
Acetatamida (MNAD) 0,013%; 2-metil-1-naftalenasetat
0.33%; 3-Indol butyric Acid (IBA)
0,057% dan Thyram (Tetramithiuram
disulfat) 4,00 %. NAD, NAA, DAN IBA merupakan senyawa organik yang dapat
mempercepat dan memperbanyak perakaran stum (Salwa et al, 2013).
Zat pengatur tumbuh yang digunakan
adalah NAA dan BAP yang dapat meningkatkan perkecambahan biji dan menginduksi
terbentuknya protokorm. Penambahan 0,4 mg/L NAA dan 0,1 mg/L BAP menunjukkan
pertumbuhan tertinggi pada perkecambahan biji Dendrobium capra sedangkan
0,1 mg l-1 NAA atau 0,5 mg l-1 BA efektif untuk meningkatkan tingkat
perkecambahan biji Calanthe hybrid. Penggunaan kombinasi NAA dan BAP
dengan konsentrasi baik untuk perkecambahan biji Dendrobium sp. secara in
vitro adalah NAA 1 mg.L-1 dan BAP 0,5 mg.L-1(Aisya et al, 2012). Protokorm
adalah bentukan bulat padat berwarna hijau yang siap membentuk pucuk dan akar
sebagai awal perkecambahan pada biji yang tidak mempunyai endosperm. Proses ini
terbagi dalam 5 fase, fase 0: biji belum belum berkecambah, fase 1: biji
berkembang menjadi protokorm, fase 2: protokorm dengan primordia daun, fase 3:
prokorm dengan daun dan akar pertama, fase 4: protokorm dengan beberapa
daun dan akar, fase 5: planlet .
Penelitian mengenai perkembangan protokorm telah banyak dilakukan, namun
informasi mengenai perkembangan dan penambahan konsentrasi zat pengatur tumbuh
dalam medium yang menggunakan eksplan dari spesies anggrek langka masih kurang.
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat
pengatur tumbuh NAA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji (Edward dan Carroll, 2004).
BAB
3. METODOLOGI
3.1
Waktu
dan Tempat
Praktikum
Teknologi Inovasi Produksi Pertanian dengan acara Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh
Terhadap Pertumbuhan Bibit Single Bud Singkong (Manihot esculenta) dilaksanakan mulai tanggal 19 Oktober 2013 jam
08.00 WIB sampai selesai. Bertempat di Laboraturium Fisiologi Tumbuhan Fakultas
Pertanian Universitas Negeri Jember.
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Gergaji/pisau emoting
2. Gelas air mineral
3. Pipet
4. Gelas Ukur
5. Beaker glass
6. Spatula
7. Handsprayer
3.2.2 Bahan
1. Batang singkong
2. Rootone-F
3. Aquades
4. Media tanam (pasir, kompos.
tanah)
3.3
Cara Kerja
1. Mempersiapkan alat dan bahan.
2. Memilih bahan tanam (batang singkong)
yang memiliki kualitas tinggi.
3. Memotong batang singkong (dengan
panjang masing-masing 1 cm) diantara mata tunas.
4. Merendam batang singkong yang telah
dipotong tersebut kedalam larutan Rootone-F (Konsentrasu 100 ppm, 200 ppm dan
300 ppm) masing-masing buat 5 kali ulangan. Sebagai pembanding buat komtrol
(tanpa perlakuan Rootone-F).
5. Menancapkan stek pada media tanam (campuran
pasir, tanah, kompos perbandingan 1:1:1) yang telah disediakan selama 4-5
minggu, kemudian menyiriram air secukupnya.
6. Memelihara tanaman dengan melakukakan
penyiraman setiap hari selama 2-4 minggu.
BAB
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
4.1.1Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm)
|
HST
|
Perlakuan
|
|||
|
Kontrol
|
100 ppm
|
200 ppm
|
300 ppm
|
|
|
H 0
|
0
|
1,4
|
0,42
|
0,18
|
|
H 3
|
0
|
3,5
|
1,18
|
0,46
|
|
H 6
|
0
|
3,76
|
2,86
|
1,76
|
|
H 9
|
0,36
|
6,4
|
3,26
|
3,2
|
|
H 12
|
1,82
|
9,9
|
9
|
7
|
|
H 15
|
4,4
|
12,6
|
12,4
|
8,7
|
|
H 18
|
7,3
|
13,7
|
12,46
|
9,3
|
|
H 21
|
6,8
|
15,7
|
21,7
|
13,46
|
|
H 24
|
11,74
|
14,5
|
15,6
|
17,1
|
|
H 27
|
9,6
|
21,64
|
16,5
|
23,7
|
4.1.2Tabel pengamatan rerata jumlah daun
|
HST
|
Perlakuan
|
|||
|
Kontrol
|
100 ppm
|
200 ppm
|
300 ppm
|
|
|
H 0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
H 3
|
0
|
2,2
|
4,2
|
0,8
|
|
H 6
|
0
|
3,4
|
4
|
1.8
|
|
H 9
|
2,4
|
4,4
|
3,2
|
3,6
|
|
H 12
|
0,6
|
3,2
|
5
|
2,8
|
|
H 15
|
2,8
|
4,4
|
5
|
4,2
|
|
H 18
|
5
|
4,6
|
5,3
|
5
|
|
H 21
|
3,8
|
5
|
6,2
|
5,6
|
|
H 24
|
4,2
|
5
|
6,8
|
5,6
|
|
H 27
|
3,8
|
6,2
|
10,2
|
6,4
|
4.1.3Tabel pengamatan rerata lebar daun (cm)
|
HST
|
Perlakuan
|
|||
|
Kontrol
|
100 ppm
|
200 ppm
|
300 ppm
|
|
|
H 0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
H 3
|
0
|
0,12
|
0,4
|
0,02
|
|
H 6
|
0
|
0,24
|
0,2
|
0,12
|
|
H 9
|
0,24
|
0,46
|
0,48
|
0,42
|
|
H 12
|
0,24
|
1,16
|
0,84
|
0,76
|
|
H 15
|
1,9
|
1,44
|
3,9
|
2,73
|
|
H 18
|
5
|
3,8
|
5,2
|
3,5
|
|
H 21
|
3,56
|
8,3
|
8,4
|
7,9
|
|
H 24
|
5,1
|
8,3
|
5,9
|
8,98
|
|
H 27
|
4,89
|
19,44
|
11,4
|
9,46
|
4.1.4 Tabel rerata panjang daun
|
HST
|
Perlakuan
|
|||
|
Kontrol
|
100 ppm
|
200 ppm
|
300 ppm
|
|
|
H 0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
H 3
|
0
|
0,94
|
0,3
|
0,28
|
|
H 6
|
0
|
1,36
|
1,26
|
0,98
|
|
H 9
|
0,2
|
1,45
|
1,68
|
1,38
|
|
H 12
|
0,8
|
3,2
|
3,16
|
3,06
|
|
H 15
|
2,7
|
4,4
|
3,2
|
4,2
|
|
H 18
|
5
|
3,43
|
3,88
|
5,6
|
|
H 21
|
4,64
|
6,7
|
4,88
|
6,22
|
|
H 24
|
6,06
|
6,7
|
6,6
|
6,62
|
|
H 27
|
6,2
|
7,4
|
8,3
|
8,56
|
4.1.5Tabel panjang akar (cm)
|
HST
|
Perlakuan
|
|||
|
Kontrol
|
100 ppm
|
200 ppm
|
300 ppm
|
|
|
H 27
|
11,2
|
11,85
|
11,96
|
11,6
|
4.2
Pembahasan
4.2.1 Grafik Rerata Tinggi Tanaman (cm)
4.2.2 Grafik Rerata Jumlah Daun

4.2.3 Grafik Rerata Lebar Daun (cm)

4.2.4 Grafik Rerata Panjang Daun (cm)

4.2.5 Grafik Rerata Panjang Akar (cm)

Dari
tabel 4.1.1 dan grafik 4.2.1 dapat di ketahui bahwa pada tinggi tanaman
perlakuan kontrol pada pada H0 rata-rata
tidak mengalami pertumbuhan, sedangkan pada perlakuan 100 ppm mengalami
pertumbuhan tinggi sebesar 1,4 cm, sedangkan pada perlakuan 200 ppm mengalami
pertambahan tinggi sebesar 0,42 cm dan 300 ppm sebesar 0,18 cm. namun pada
akhir pengamatan hari ke 27 tanaman singkong yang paling tinggi adalah
perlakuan 300 ppm yaitu sebesar 23,7 cm disusul dengan perlakuan 100 ppm dan
200 ppm, dan yang paling rendah pertumbuhan tingginya adalah perlakuan control.
Dalam hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ppm yang di berikan pada pembibitan
single bud sangat mempengaruhi pertumbuhan tinggi pada pembibitan single bud.
Terbukti pada perlakuan control ketinggian tanaman yang terjadi tertinggal
sangat jauh dengan yang di beri perlakuan. Serta perlakuan yang terbaik pada
tinggi tanaman yaitu pada perlakuan 300 ppm.
Pada
table 4.1.2 dan grafik 4.2.2 dapat diketahui pada hasil pengamatan praktikum
kali ini yaitu jumlah daun terbanyak terjadi pada perlakuan 200 ppm. Dan yang
paling sedikit adalah perlakuan control. Pada perlakuan 200 ppm jumlah daun
pada akhir pengamatan adalah 10 helai daun. Sedangkan pada 100 dan 300 ppm
adalah 6 helai dan control 4 helai. Pada jumlah daun dapat di pengaruhi oleh
konsentrasi ppm perlakuan yang di berikan. Konsentrasi ini mempengaruhi
kebutuhan hara yang dapat di serap oleh tanaman di mana konsentrasi tertentu
dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan baik. Pada single bud ini untuk
perlakuan terbaik untuk pembentukan jumlah daun adalah perlakuan 200 ppm. Dari
setiap helai daun pada singkong terdapat mata tunas yang dapat di tumbuhkan
sebagai tanaman baru.
Pada
tabel 4.1.3 dan grafik 4.2.3 dapat diketahui dari hasil pengamatan prakttikum
kali ini perlakuan yang mempunyai daun terlebar adalah pelakuan 100 ppm.
Disusul dengan perlakuan 200 ppm, 300 ppm dan control. Pada 100 ppm lebar daun
rata-rata sebesar 19,4 cm, pada 200 ppm lebar daun rata-rata sebesar 11,4 cm,
300 ppm rata-rata sebesar 9,46 cm dan control sebesar 4,89 cm. lebar daun ini
dapat di pengaruhi kandungan hara yang terdapat pada pupuk, terbukti percepatan
lebar daun yang konstan ada pada perlakuan 100 ppm yang berarti perlakuan ini cukup
baik dalam pemanfatannya untuk daun.
Pada
tabel 4.1.4 dan grafik 4.2.4 perlakuan terbaik ada pada konsentrasi 300 ppm
dengan panjang daun rata-rata sebesar 8,56 cm. Pada perlakuan 200 ppm panjang
daun rata-rata 8,3 cm, 100 ppm panjang daun rata-rata mencapai 7,4 cm sedangkan
perlakuan control panjang daun hanya rata-rata 6,3 cm. pada perlakuan ini
panjang daun terbaik berurutan mulai dari konsentrasi tertinggi hingga control.
Namun pada awalnya daun yang terbentuk paling cepat adalah perlakuan 100 ppm. Hal
ini menunjukkan bahwa perlakuan 100 ppm dapat merangsang pertumbuhan panjang
daun lebih cepat namun semakin lama perkembangan panjang daunnya semakin
menyusut sedangkan pada perlakuan 200 ppm kenaikannya standar pada perlakuan
300 ppm kenaikan panjang daunnya lebih tinggi pada akhir-akhir pengamatan. Hal
ini dapat terjadi karena kandungan yang terdapat pada media lebih banyak
sehingga kebutuhan hara yang di perlukan untuk pertumbuhan terpenuhi yang cukup
untuk pertumbuhan daun.
Pada
tabel 4.1.5 dan grafik 4.2.5 pada pengamatan panjang akar, perlakuan yang
terpanjang akarnya pada perlakuan 200 ppm. Di susul dengan perlakuan 100 ppm
dan 300 ppm dan yang paling rendah adalah perlakuan control. Panjang akar pada
perlakuan 200 ppm adalah 11,96 cm. pada perlakuan 100 ppm 11,85 cm, pada 300
ppm 11,5 cm dan pada perlakuan control 11,2 cm. konsentrasi pupuk juga dapat
mempengaruhi pada panjang akar tanaman ini. Di mana pada perlakuan 200 ppm
adalah konsentrasi yang cukup tepat untuk merangsang pertumbuhan akar.
Sistem
pembibitan Single Bud Planting ( SBP ) adalah salah satu metode pembibitan baru
dalam dunia pertebuan Indonesia. Teknologi ini berasal dari Brazil dan
Columbia. Brazil dan Columbia selama ini dipandang sebagai negara di Amerika
Selatan yang cukup maju dalam hal budidaya tanaman tebu. Produksi kui/ha
rata-rata Brazil dan Columbia mencapai 90-95 ton/ha dengan Rendemen antara
13%-15% dengan produksi hablur rata-rata per hektar adalah 11.7 - 12.35 ton/ha.
Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh sistem pembibitan SBP ini adalah
Mempunyai daya tumbuh seragam, jumlah anakan yang dihasilkan lebih banyak
dibanding sistem pembibitan konvensional, penangkaran bibit tinggi antara 20-25,
hemat tempat dalam proses pembibitan (dalam 1 ha tempat SBP bisa dihasilkan
kurang lebih 9,6 juta mata atau setara dengan 518 hektar tertanam (dalam 1
hektar membutuhkan bibit 18.500 mata), biaya pembibitan yang diperlukan lebih
murah, dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) permata hanya Rp. 300,- dan kebutuhan
per hektar 18.500 mata maka biaya bibit yang dibutuhkan hanya Rp.5.550.000,
jika dibandingkan dengan bibit bagal yang dalam 1 hektar perlu 100 kuintal
bibit dengan harga perkuintal rata-rata Rp. 65.000 maka biaya bibit single bud
lebih murah. Selain keunggulan Sistem pembibitan SBP juga mempunyai kelemahan,
antara lain biaya investasi cukup tinggi terutama untuk pembelian alat-alat
(Pottray dan pembuatan tangkringan), jumlah anakan kurang optimal jika ditanam
di saat curah hujan sudah cukup tinggi dan intens.
ZPT
(zat pengatur tumbuh) dibuat agar tanaman memacu pembentukan fitohormon (hormon
tumbuhan) yang sudah ada di dalam tanaman atau menggantikan fungsi dan peran
hormon bila tanaman kurang dapat memproduksi hormon dengan baik. Hormon yang
berasal dari bahasa Yunani yaitu hormaein ini mempunyai arti : merangsang,
membangkitkan atau mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia sehingga
fito-hormon tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organik tanaman yang
bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman
sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologi tanaman. Untuk
menstimulir pertumbuhan akar stek maka digunakan ZPT (Rootone-F) dengan
beberapa dosis. Penambahan zat pengatur tumbuh pada stek diharapkan
meningkatkan kemampuan berakar dan persentase hidup stek.
Pada umumnya campuran dari beberapa zat pengatur tumbuh lebih efektif
dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh tunggal, seperti pada zat pengatur
tumbuh rootone-f adalah formulasi dari beberapa zat : Napthalene Acetic Acid (NAA), Indole Acetic Acid (IAA), dan IBA yang berbentuk tepung berwarna putih
kotor dan sukar larut dalam air ( Barber dalam Gorska, 2010). Komposisi bahan
aktif rootone-f adalah Napthalene
Acetamida (NAA) 0,067 %; 2-metil-1-Napthalene
Acetatamida (MNAD) 0,013%; 2-metil-1-naftalenasetat
0.33%; 3-Indol butyric Acid (IBA)
0,057% dan Thyram (Tetramithiuram
disulfat) 4,00 %. NAD, NAA, DAN IBA merupakan senyawa organik yang dapat
mempercepat dan memperbanyak perakaran.
Salah
satu cara budidaya tanaman dengan menggunakan cara single bud dengan
menggunakan mata tunas. Single bud merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan
menggunakan cabang atau ranting yang hanya memiliki satu mata tunas. Cara
pengambilan cabang atau ranting bisa dilakukan dengan menghitung ruas batang
atau ranting. Tunas yang tumbuh di bagiang batang atau ranting biasanya
terdapat di setiap batang ruas. Apabila yang diambil hanya satu mata tunas,
diperlukan satu ruas. Contoh ruas atau buku yang terlihat sangat jelas terdapat
pada tanaman bambu atau tebu (Rahardja dan Wiryanta, 2009). Metode single bud
tersebut samapai hingga saat ini masih
belum diterapkan pada pembibitan singkong. Sehingga dapat diguakan dalam upaya
inovasi produksi pertanian. Maka metode ini salah satu alternative metode
pembibitan untuk menyiapkan bahan tanam guna meningkatkan produksi singkong.
Pertumbuhan adalah peningkatan permanen ukuran organisme atau bagiannya yang
merupakan hasil dari peningkatan jumlah dan ukuran sel. Selain pertumbuhan,
tanaman juga mengalami perkembangan dalam siklus hidupnya. Perkembangan sendiri
merupakan koordinasi pertumbuhan dan diferensiasi dari suatu sel tunggal
menjadi jaringan, organ, dan organisme seutuhnya maka dari itu teknik ini dapat
dikatakan sebagai teknik single bud.
BAB
5. KESIMPULAN
Kesimpulan
yang didapat pada praktikum pengaruh zat pengatur tumbuh ini yaitu :
1. Untuk
memenuhi upaya peningkatan kualitas bahan tanam tidak cukup hanya dengan
mengadopsi metode pembibitan. Dengan diperlakukannya perlakuan khusus seperti
pemberian Zat Pengatur Tumbuh atau bisa dikenal ZPT, pemupukan dan lain
sebagainya. Zat pengatur tumbuh atau sering kita
sebut dengan ZPT mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan
untuk kelangsungan hidup suatu tanaman. Zat pengatur Tumbuh adalah senyawa organik
yang bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat
merubah proses fisiologi tumbuhan.
2. Untuk
menstimulir pertumbuhan akar stek maka digunakan ZPT (Rootone-F) dengan
beberapa dosis. Penambahan zat pengatur tumbuh pada stek diharapkan
meningkatkan kemampuan berakar dan persentase hidup stek.
3. Pada
hasil pengamatan praktikum single bud kali ini konsentrasi yang paling tepat
yang dapat di gunakan adalah 200 ppm Ratoon-F karena pada singkong yang di
butuhkan untuk pertumbuhannya adalah perakaran dan panjang batang. Pada
praktikum di atas yang sangat baik pertumbuhannya dalam perkembangan akar dan
pertumbuhan batang adalah konsentrasi 200 ppm.
5.2
Saran
Dalam
pengamatan praktikum kali ini seharusnya praktikan dalam melakukan pengukuran
sebaiknya mengetahui cara mengukur parameter yang telah disesuaikan supaya
tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran, sehingga tidak terjadi perbedaan cara
pengukuran antar praktikan pada saat waktu pengamatan nantinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Aisya, I.P. et al.
(2012). Pengaruh
Penambahan Kombinasi Konsentrasi ZPT NAA dan BAP terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Biji Dendrobium Taurulinum J.J Smith Secara In
Vitro. Sains
dan Seni, 1(1): 40-43.
Edwar,
H. dan Carroll, L. 2004. Introductory
Horticulture. Albany: Thomson Learning.
Faizul
et al. 2008. BBN (Bahan Bakar Nabati).
Depok: Penebar Swadaya.
Gorska, A. et al. 2010. The Capacity For Nitrate Regulation Of Root Hydraulic Properties
Correlates With Species’ Nitrate Uptake Rates. Plant Soil, 337: 447-455.
Irawan,
P. et al. 2013. Pengaruh Pemberian
Giberellin Terhadap Pertumbuhan Bibit Aren (Arenga Pinnata Merr). Agroekoteknologi, 1(3): 583-589.
Rahardja,
P.C. dan Wiryanta, W. 2009. Aneka Cara
Memperbanyak Tanaman. Bandung: Agromedia Pustaka.
Salwa,
M. et al. 2013. Physiological and
Biochemical Responses of Two Cultivars of Phaseolus vulgaris L. to Application
of Organic Fertilizers and Nile Compost in Sandy Soil. Experimental
Agricultur,. 3(4): 698-717.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar