Minggu, 04 Oktober 2015

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Bibit Single Bud Singkong (Manihot esculenta)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1   Latar belakang
Tanaman singkong merupakan Produk Pertanian yang cocok untuk di jadikan unit bisnis atau dijadikan sarana produksi yang tinggi setelah padi karena kandungan dari tanaman singkong ini karbohidratnya tinggi, dan juga karena manfaat yang di peroleh komoditi tersebut cukup banyak dan bermanfaat melihat pangsa pasar yang cukup menggiurkan atas bahan baku singkong. Singkong (Manihot esculenta) yang di kenal juga Ktela pohon atau Umbi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae  Kelebihan singkong terletak pada kandungan karbohidrat, lemak, Protein, kalori, fosfor dan cita rasanya yang lezat. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terus menurunnya produksi singkong di Indonesia, salah satunya adalah karena tidak tersedinya bibit unggul siap tanam. Pada umumnya petani Indonesia tetap melakukan cara tradisional dalam budidaya singkong, dimana bahan tanam berupa batang dipotong dan ditancapkan begitu saja tanpa perlakuan khusus. Hal inilah yang menyebabkan prouduksi singkong terus mengalami penurunan. Sehingga diperlukan suatu teknologi inovasi produksi untuk mengatasi masalah tersebut.
Cara budidaya tanaman dengan menggunakan satu mata tunas disebut dengan istilah Single bud. Metode tersebut di adopsi dari Columbia. Pada umumnya metode single bud digunakan dalam pembibitan tanaman tebu. Metode tersebut sampai saat ini masih belum diterapkan pada pembibitan singkong. Sehingga dalam upaya inovasi produksi pertanian, maka metode single bud dapat digunakan sebagai salah satu alternatif metode pembibitan untuk menyiapkan bahan tanam guna meningkatkan produksi singkong.
Untuk memenuhi upaya peningkatan kualitas bahan tanam tidak cukup hanya dengan mengadopsi metode pembibitan. Dengan diperlakukannya perlakuan khusus seperti pemberian Zat Pengatur Tumbuh atau bisa dikenal ZPT, pemupukan dan lain sebagainya. Zat pengatur tumbuh atau sering kita sebut dengan ZPT mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan untuk kelangsungan hidup suatu tanaman. Zat pengatur Tumbuh adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu Auxin, giberelin, sitokinin, ethylene generators dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis.
Zat Pengatur Tumbuh Rootone F meru-pakan ZPT sintetis yang berbentuk serbuk, berwarna putih, yang berguna untuk memper-cepat dan memperbanyak keluarnya akar-akar baru, karena mengandung bahan aktif dari hasil formulasi beberapa hormon tumbuh akar yaitu naftalenasetamida 0,067%, 2 metil 1 naftalenasetamida 0,013%, 2 metil 1 naftalen asetat 0,033%, indole 3 butirat (IBA) 0,057%, dan tiram 4%. Hormon yang terkandung dalam di dalam Rootone-F ini juga di temukan secara alami didalam urin sapi. Dengan demikian, konsentrasi yang tepat, urin sapi adalah mudah didapat dengan harga murah, serta tidak meninbulkan pencemaran terhadap lingkungan pada sekitarnya.

1.2   Tujuan
1.      Untuk mengetahui metode pembibitan single bud.
2.      Untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh Rootone-F terhadap pertumbuhan bibit singkong single bud.
3.      Untuk mengetahui konsentrasi zat pengatur tumbuh yang efektif dalam pembibitan single bud singkong.








BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman singkong atau (Manihot utilissima Pohl) termasuk di dalam famili Euphorbiaceae, dalam arti Euphorbiaceae berupa tanaman menahun. Singkong berasal dari Amerika Selatan yang hidup subur pada daerah tropis dan subtropis. Singkong merupakan tanaman pangan yang sangat penting diantara tanaman pertanian lainnya karena dalam pemeliharaannya mudah dan produktif.  Bagian dari tanaman singkong yang dapat dimanfaatkan adalah daun dan akar-akar yang menebal membentuk umbi. Bagian umbi ini banyak mengandung zat tepung atau pati (Faizul, 2008). Pada umumnya petani Indonesia tetap melakukan cara tradisional dalam budidaya singkong, dimana bahan tanam berupa batang dipotong dan ditancapkan begitu saja tanpa perlakuan khusus. Hal inilah yang menyebabkan prouduksi singkong terus mengalami penurunan. Sehingga diperlukan suatu teknologi inovasi produksi untuk mengatasi masalah tersebut.
Salah satu cara budidaya tanaman dengan menggunakan cara single bud dengan menggunakan mata tunas. Single bud merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan menggunakan cabang atau ranting yang hanya memiliki satu mata tunas. Cara pengambilan cabang atau ranting bisa dilakukan dengan menghitung ruas batang atau ranting. Tunas yang tumbuh di bagiang batang atau ranting biasanya terdapat di setiap batang ruas. Apabila yang diambil hanya satu mata tunas, diperlukan satu ruas. Contoh ruas atau buku yang terlihat sangat jelas terdapat pada tanaman bambu atau tebu (Rahardja dan Wiryanta, 2009). Metode single bud tersebut samapai hingga saat ini  masih belum diterapkan pada pembibitan singkong. Sehingga dapat diguakan dalam upaya inovasi produksi pertanian. Maka metode ini salah satu alternative metode pembibitan untuk menyiapkan bahan tanam guna meningkatkan produksi singkong. Pertumbuhan adalah peningkatan permanen ukuran organisme atau bagiannya yang merupakan hasil dari peningkatan jumlah dan ukuran sel. Selain pertumbuhan, tanaman juga mengalami perkembangan dalam siklus hidupnya. Perkembangan sendiri merupakan koordinasi pertumbuhan dan diferensiasi dari suatu sel tunggal menjadi jaringan, organ, dan organisme seutuhnya (Aisya et al, 2012). Dalam tujuan utama dari pembibitan adalah untuk mempersiapkan bibit yang baik dengan kriteria sehat, kuat dan kokoh. Hal tersebut merupakan salah satu faktor penentu bagi keberhasilan penanaman di lapangan dan untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang maksimal (Setyamidjaja dalam Irawan, 2013).
Untuk memenuhi upaya peningkatan kualitas bahan tanam tidak cukup hanya dengan mengadopsi metode pembibitan. Dengan diperlakukannya perlakuan khusus seperti pemberian Zat Pengatur Tumbuh atau bisa dikenal ZPT, pemupukan dan lain sebagainya. Zat pengatur tumbuh atau sering kita sebut dengan ZPT mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan untuk kelangsungan hidup suatu tanaman (Edward dan Carroll, 2004). Zat pengatur Tumbuh adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu Auxin, giberelin, sitokinin, ethylene generators dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis (Supriyanto dan kaka, 2011).
Untuk menstimulir pertumbuhan akar stek maka digunakan ZPT (Rootone-F) dengan beberapa dosis. Penambahan zat pengatur tumbuh pada stek diharapkan meningkatkan kemampuan berakar dan persentase hidup stek. Pada umumnya campuran dari beberapa zat pengatur tumbuh lebih efektif dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh tunggal, seperti pada zat pengatur tumbuh rootone-f adalah formulasi dari beberapa zat : Napthalene Acetic Acid (NAA), Indole Acetic Acid (IAA), dan IBA yang berbentuk tepung berwarna putih kotor dan sukar larut dalam air ( Barber dalam Gorska, 2010). Komposisi bahan aktif rootone-f adalah Napthalene Acetamida (NAA) 0,067 %; 2-metil-1-Napthalene Acetatamida (MNAD) 0,013%; 2-metil-1-naftalenasetat 0.33%; 3-Indol butyric Acid (IBA) 0,057% dan Thyram (Tetramithiuram disulfat) 4,00 %. NAD, NAA, DAN IBA merupakan senyawa organik yang dapat mempercepat dan memperbanyak perakaran stum (Salwa et al, 2013).
Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah NAA dan BAP yang dapat meningkatkan perkecambahan biji dan menginduksi terbentuknya protokorm. Penambahan 0,4 mg/L NAA dan 0,1 mg/L BAP menunjukkan pertumbuhan tertinggi pada perkecambahan biji Dendrobium capra sedangkan 0,1 mg l-1 NAA atau 0,5 mg l-1 BA efektif untuk meningkatkan tingkat perkecambahan biji Calanthe hybrid. Penggunaan kombinasi NAA dan BAP dengan konsentrasi baik untuk perkecambahan biji Dendrobium sp. secara in vitro adalah NAA 1 mg.L-1 dan BAP 0,5 mg.L-1(Aisya et al, 2012). Protokorm adalah bentukan bulat padat berwarna hijau yang siap membentuk pucuk dan akar sebagai awal perkecambahan pada biji yang tidak mempunyai endosperm. Proses ini terbagi dalam 5 fase, fase 0: biji belum belum berkecambah, fase 1: biji berkembang menjadi protokorm, fase 2: protokorm dengan primordia daun, fase 3: prokorm dengan daun dan akar pertama, fase 4: protokorm dengan beberapa daun  dan akar, fase 5: planlet . Penelitian mengenai perkembangan protokorm telah banyak dilakukan, namun informasi mengenai perkembangan dan penambahan konsentrasi zat pengatur tumbuh dalam medium yang menggunakan eksplan dari spesies anggrek langka masih kurang. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh NAA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji (Edward dan Carroll, 2004).













BAB 3. METODOLOGI

3.1  Waktu dan Tempat
Praktikum Teknologi Inovasi Produksi Pertanian dengan acara Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Bibit Single Bud Singkong (Manihot esculenta) dilaksanakan mulai tanggal 19 Oktober 2013 jam 08.00 WIB sampai selesai. Bertempat di Laboraturium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Gergaji/pisau emoting
2. Gelas air mineral
3. Pipet
4. Gelas Ukur
5. Beaker glass
6. Spatula
7. Handsprayer

3.2.2 Bahan
1. Batang singkong
2. Rootone-F
3. Aquades
4. Media tanam (pasir, kompos. tanah)

3.3 Cara Kerja
1. Mempersiapkan alat dan bahan.
2. Memilih bahan tanam (batang singkong) yang memiliki kualitas tinggi.
3. Memotong batang singkong (dengan panjang masing-masing 1 cm) diantara mata tunas.
4. Merendam batang singkong yang telah dipotong tersebut kedalam larutan Rootone-F (Konsentrasu 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm) masing-masing buat 5 kali ulangan. Sebagai pembanding buat komtrol (tanpa perlakuan Rootone-F).
5. Menancapkan stek pada media tanam (campuran pasir, tanah, kompos perbandingan 1:1:1) yang telah disediakan selama 4-5 minggu, kemudian menyiriram air secukupnya.
6. Memelihara tanaman dengan melakukakan penyiraman setiap hari selama 2-4 minggu.


















BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm)
HST
Perlakuan
Kontrol
100 ppm
200 ppm
300 ppm
H 0
0
1,4
0,42
0,18
H 3
0
3,5
1,18
0,46
H 6
0
3,76
2,86
1,76
H 9
0,36
6,4
3,26
3,2
H 12
1,82
9,9
9
7
H 15
4,4
12,6
12,4
8,7
H 18
7,3
13,7
12,46
9,3
H 21
6,8
15,7
21,7
13,46
H 24
11,74
14,5
15,6
17,1
H 27
9,6
21,64
16,5
23,7

4.1.2Tabel pengamatan rerata jumlah daun
HST
Perlakuan
Kontrol
100 ppm
200 ppm
300 ppm
H 0
0
0
0
0
H 3
0
2,2
4,2
0,8
H 6
0
3,4
4
1.8
H 9
2,4
4,4
3,2
3,6
H 12
0,6
3,2
5
2,8
H 15
2,8
4,4
5
4,2
H 18
5
4,6
5,3
5
H 21
3,8
5
6,2
5,6
H 24
4,2
5
6,8
5,6
H 27
3,8
6,2
10,2
6,4

4.1.3Tabel pengamatan rerata lebar daun (cm)
HST
Perlakuan
Kontrol
100 ppm
200 ppm
300 ppm
H 0
0
0
0
0
H 3
0
0,12
0,4
0,02
H 6
0
0,24
0,2
0,12
H 9
0,24
0,46
0,48
0,42
H 12
0,24
1,16
0,84
0,76
H 15
1,9
1,44
3,9
2,73
H 18
5
3,8
5,2
3,5
H 21
3,56
8,3
8,4
7,9
H 24
5,1
8,3
5,9
8,98
H 27
4,89
19,44
11,4
9,46

4.1.4 Tabel rerata panjang daun
HST
Perlakuan
Kontrol
100 ppm
200 ppm
300 ppm
H 0
0
0
0
0
H 3
0
0,94
0,3
0,28
H 6
0
1,36
1,26
0,98
H 9
0,2
1,45
1,68
1,38
H 12
0,8
3,2
3,16
3,06
H 15
2,7
4,4
3,2
4,2
H 18
5
3,43
3,88
5,6
H 21
4,64
6,7
4,88
6,22
H 24
6,06
6,7
6,6
6,62
H 27
6,2
7,4
8,3
8,56

4.1.5Tabel panjang akar (cm)
HST
Perlakuan
Kontrol
100 ppm
200 ppm
300 ppm
H 27
11,2
11,85
11,96
11,6



4.2 Pembahasan

4.2.1 Grafik Rerata Tinggi Tanaman (cm)
           

4.2.2 Grafik  Rerata Jumlah Daun



4.2.3 Grafik  Rerata Lebar Daun (cm)
4.2.4 Grafik Rerata Panjang Daun (cm)
4.2.5 Grafik Rerata Panjang Akar (cm)

Dari tabel 4.1.1 dan grafik 4.2.1 dapat di ketahui bahwa pada tinggi tanaman perlakuan kontrol pada pada  H0 rata-rata tidak mengalami pertumbuhan, sedangkan pada perlakuan 100 ppm mengalami pertumbuhan tinggi sebesar 1,4 cm, sedangkan pada perlakuan 200 ppm mengalami pertambahan tinggi sebesar 0,42 cm dan 300 ppm sebesar 0,18 cm. namun pada akhir pengamatan hari ke 27 tanaman singkong yang paling tinggi adalah perlakuan 300 ppm yaitu sebesar 23,7 cm disusul dengan perlakuan 100 ppm dan 200 ppm, dan yang paling rendah pertumbuhan tingginya adalah perlakuan control. Dalam hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ppm yang di berikan pada pembibitan single bud sangat mempengaruhi pertumbuhan tinggi pada pembibitan single bud. Terbukti pada perlakuan control ketinggian tanaman yang terjadi tertinggal sangat jauh dengan yang di beri perlakuan. Serta perlakuan yang terbaik pada tinggi tanaman yaitu pada perlakuan 300 ppm.
Pada table 4.1.2 dan grafik 4.2.2 dapat diketahui pada hasil pengamatan praktikum kali ini yaitu jumlah daun terbanyak terjadi pada perlakuan 200 ppm. Dan yang paling sedikit adalah perlakuan control. Pada perlakuan 200 ppm jumlah daun pada akhir pengamatan adalah 10 helai daun. Sedangkan pada 100 dan 300 ppm adalah 6 helai dan control 4 helai. Pada jumlah daun dapat di pengaruhi oleh konsentrasi ppm perlakuan yang di berikan. Konsentrasi ini mempengaruhi kebutuhan hara yang dapat di serap oleh tanaman di mana konsentrasi tertentu dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan baik. Pada single bud ini untuk perlakuan terbaik untuk pembentukan jumlah daun adalah perlakuan 200 ppm. Dari setiap helai daun pada singkong terdapat mata tunas yang dapat di tumbuhkan sebagai tanaman baru.
Pada tabel 4.1.3 dan grafik 4.2.3 dapat diketahui dari hasil pengamatan prakttikum kali ini perlakuan yang mempunyai daun terlebar adalah pelakuan 100 ppm. Disusul dengan perlakuan 200 ppm, 300 ppm dan control. Pada 100 ppm lebar daun rata-rata sebesar 19,4 cm, pada 200 ppm lebar daun rata-rata sebesar 11,4 cm, 300 ppm rata-rata sebesar 9,46 cm dan control sebesar 4,89 cm. lebar daun ini dapat di pengaruhi kandungan hara yang terdapat pada pupuk, terbukti percepatan lebar daun yang konstan ada pada perlakuan 100 ppm yang berarti perlakuan ini cukup baik dalam pemanfatannya untuk daun.
Pada tabel 4.1.4 dan grafik 4.2.4 perlakuan terbaik ada pada konsentrasi 300 ppm dengan panjang daun rata-rata sebesar 8,56 cm. Pada perlakuan 200 ppm panjang daun rata-rata 8,3 cm, 100 ppm panjang daun rata-rata mencapai 7,4 cm sedangkan perlakuan control panjang daun hanya rata-rata 6,3 cm. pada perlakuan ini panjang daun terbaik berurutan mulai dari konsentrasi tertinggi hingga control. Namun pada awalnya daun yang terbentuk paling cepat adalah perlakuan 100 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan 100 ppm dapat merangsang pertumbuhan panjang daun lebih cepat namun semakin lama perkembangan panjang daunnya semakin menyusut sedangkan pada perlakuan 200 ppm kenaikannya standar pada perlakuan 300 ppm kenaikan panjang daunnya lebih tinggi pada akhir-akhir pengamatan. Hal ini dapat terjadi karena kandungan yang terdapat pada media lebih banyak sehingga kebutuhan hara yang di perlukan untuk pertumbuhan terpenuhi yang cukup untuk pertumbuhan daun.
Pada tabel 4.1.5 dan grafik 4.2.5 pada pengamatan panjang akar, perlakuan yang terpanjang akarnya pada perlakuan 200 ppm. Di susul dengan perlakuan 100 ppm dan 300 ppm dan yang paling rendah adalah perlakuan control. Panjang akar pada perlakuan 200 ppm adalah 11,96 cm. pada perlakuan 100 ppm 11,85 cm, pada 300 ppm 11,5 cm dan pada perlakuan control 11,2 cm. konsentrasi pupuk juga dapat mempengaruhi pada panjang akar tanaman ini. Di mana pada perlakuan 200 ppm adalah konsentrasi yang cukup tepat untuk merangsang pertumbuhan akar.
Sistem pembibitan Single Bud Planting ( SBP ) adalah salah satu metode pembibitan baru dalam dunia pertebuan Indonesia. Teknologi ini berasal dari Brazil dan Columbia. Brazil dan Columbia selama ini dipandang sebagai negara di Amerika Selatan yang cukup maju dalam hal budidaya tanaman tebu. Produksi kui/ha rata-rata Brazil dan Columbia mencapai 90-95 ton/ha dengan Rendemen antara 13%-15% dengan produksi hablur rata-rata per hektar adalah 11.7 - 12.35 ton/ha. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh sistem pembibitan SBP ini adalah Mempunyai daya tumbuh seragam, jumlah anakan yang dihasilkan lebih banyak dibanding sistem pembibitan konvensional, penangkaran bibit tinggi antara 20-25, hemat tempat dalam proses pembibitan (dalam 1 ha tempat SBP bisa dihasilkan kurang lebih 9,6 juta mata atau setara dengan 518 hektar tertanam (dalam 1 hektar membutuhkan bibit 18.500 mata), biaya pembibitan yang diperlukan lebih murah, dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) permata hanya Rp. 300,- dan kebutuhan per hektar 18.500 mata maka biaya bibit yang dibutuhkan hanya Rp.5.550.000, jika dibandingkan dengan bibit bagal yang dalam 1 hektar perlu 100 kuintal bibit dengan harga perkuintal rata-rata Rp. 65.000 maka biaya bibit single bud lebih murah. Selain keunggulan Sistem pembibitan SBP juga mempunyai kelemahan, antara lain biaya investasi cukup tinggi terutama untuk pembelian alat-alat (Pottray dan pembuatan tangkringan), jumlah anakan kurang optimal jika ditanam di saat curah hujan sudah cukup tinggi dan intens.
ZPT (zat pengatur tumbuh) dibuat agar tanaman memacu pembentukan fitohormon (hormon tumbuhan) yang sudah ada di dalam tanaman atau menggantikan fungsi dan peran hormon bila tanaman kurang dapat memproduksi hormon dengan baik. Hormon yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hormaein ini mempunyai arti : merangsang, membangkitkan atau mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia sehingga fito-hormon tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organik tanaman yang bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologi tanaman. Untuk menstimulir pertumbuhan akar stek maka digunakan ZPT (Rootone-F) dengan beberapa dosis. Penambahan zat pengatur tumbuh pada stek diharapkan meningkatkan kemampuan berakar dan persentase hidup stek. Pada umumnya campuran dari beberapa zat pengatur tumbuh lebih efektif dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh tunggal, seperti pada zat pengatur tumbuh rootone-f adalah formulasi dari beberapa zat : Napthalene Acetic Acid (NAA), Indole Acetic Acid (IAA), dan IBA yang berbentuk tepung berwarna putih kotor dan sukar larut dalam air ( Barber dalam Gorska, 2010). Komposisi bahan aktif rootone-f adalah Napthalene Acetamida (NAA) 0,067 %; 2-metil-1-Napthalene Acetatamida (MNAD) 0,013%; 2-metil-1-naftalenasetat 0.33%; 3-Indol butyric Acid (IBA) 0,057% dan Thyram (Tetramithiuram disulfat) 4,00 %. NAD, NAA, DAN IBA merupakan senyawa organik yang dapat mempercepat dan memperbanyak perakaran.
Salah satu cara budidaya tanaman dengan menggunakan cara single bud dengan menggunakan mata tunas. Single bud merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan menggunakan cabang atau ranting yang hanya memiliki satu mata tunas. Cara pengambilan cabang atau ranting bisa dilakukan dengan menghitung ruas batang atau ranting. Tunas yang tumbuh di bagiang batang atau ranting biasanya terdapat di setiap batang ruas. Apabila yang diambil hanya satu mata tunas, diperlukan satu ruas. Contoh ruas atau buku yang terlihat sangat jelas terdapat pada tanaman bambu atau tebu (Rahardja dan Wiryanta, 2009). Metode single bud tersebut samapai hingga saat ini  masih belum diterapkan pada pembibitan singkong. Sehingga dapat diguakan dalam upaya inovasi produksi pertanian. Maka metode ini salah satu alternative metode pembibitan untuk menyiapkan bahan tanam guna meningkatkan produksi singkong. Pertumbuhan adalah peningkatan permanen ukuran organisme atau bagiannya yang merupakan hasil dari peningkatan jumlah dan ukuran sel. Selain pertumbuhan, tanaman juga mengalami perkembangan dalam siklus hidupnya. Perkembangan sendiri merupakan koordinasi pertumbuhan dan diferensiasi dari suatu sel tunggal menjadi jaringan, organ, dan organisme seutuhnya maka dari itu teknik ini dapat dikatakan sebagai teknik single bud.


BAB 5. KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat pada praktikum pengaruh zat pengatur tumbuh ini yaitu :
1.      Untuk memenuhi upaya peningkatan kualitas bahan tanam tidak cukup hanya dengan mengadopsi metode pembibitan. Dengan diperlakukannya perlakuan khusus seperti pemberian Zat Pengatur Tumbuh atau bisa dikenal ZPT, pemupukan dan lain sebagainya. Zat pengatur tumbuh atau sering kita sebut dengan ZPT mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan untuk kelangsungan hidup suatu tanaman. Zat pengatur Tumbuh adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan.
2.      Untuk menstimulir pertumbuhan akar stek maka digunakan ZPT (Rootone-F) dengan beberapa dosis. Penambahan zat pengatur tumbuh pada stek diharapkan meningkatkan kemampuan berakar dan persentase hidup stek.
3.      Pada hasil pengamatan praktikum single bud kali ini konsentrasi yang paling tepat yang dapat di gunakan adalah 200 ppm Ratoon-F karena pada singkong yang di butuhkan untuk pertumbuhannya adalah perakaran dan panjang batang. Pada praktikum di atas yang sangat baik pertumbuhannya dalam perkembangan akar dan pertumbuhan batang adalah konsentrasi 200 ppm.

5.2  Saran
Dalam pengamatan praktikum kali ini seharusnya praktikan dalam melakukan pengukuran sebaiknya mengetahui cara mengukur parameter yang telah disesuaikan supaya tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran, sehingga tidak terjadi perbedaan cara pengukuran antar praktikan pada saat waktu pengamatan nantinya.



DAFTAR PUSTAKA

Aisya, I.P. et al. (2012). Pengaruh Penambahan Kombinasi Konsentrasi ZPT NAA dan BAP terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Biji Dendrobium Taurulinum J.J Smith Secara In Vitro. Sains dan Seni, 1(1): 40-43.

Edwar, H. dan Carroll, L. 2004. Introductory Horticulture. Albany: Thomson Learning.

Faizul et al. 2008. BBN (Bahan Bakar Nabati). Depok: Penebar Swadaya.

Gorska, A. et al. 2010. The Capacity For Nitrate Regulation Of Root Hydraulic Properties Correlates With Species’ Nitrate Uptake Rates. Plant Soil, 337: 447-455.

Irawan, P. et al. 2013. Pengaruh Pemberian Giberellin Terhadap Pertumbuhan Bibit Aren (Arenga Pinnata Merr). Agroekoteknologi, 1(3): 583-589.


Rahardja, P.C. dan Wiryanta, W. 2009. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman. Bandung: Agromedia Pustaka.

Salwa, M. et al. 2013. Physiological and Biochemical Responses of Two Cultivars of Phaseolus vulgaris L. to Application of Organic Fertilizers and Nile Compost in Sandy Soil. Experimental Agricultur,. 3(4): 698-717.

Supriyanto dan Kaka, E. 2011. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Rootone-F Terhadap Pertumbuhan Stek Duabanga mollucana Blume. Silvikultur Tropika, 3(1): 59-65

Tidak ada komentar:

Posting Komentar