BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Tanaman
jagung atau sering disebut (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan di
Indonesia yang merupakan famili dari gramineae. Jagung merupakan tanaman
semusim (annual), dengan satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua
untuk tahap pertumbuhan generatif. satu tanaman pangan dunia yang terpenting,
selain gandum dan padi. Berasal dari
Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang
Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia
termasuk Indonesia. Taksonomi tanaman
jagung adalah sebagai berikut: Kingdom: Plantae (tumbuh-tumbuhan), Divisio:
Spermatophyta (tumbuhan berbiji), Sub Divisio: Angiospermae (berbiji tertutup),
Classis : Monocotyledone (berkeping satu), Ordo: Graminae
(rumput-rumputan),Familia: Graminaceae, Genus: Zea, Species : Zea mays L.
Untuk
budidaya jagung dapat dipengaruhi beberapa faktor umum yang harus diperhatikan.
Faktor umum yang harus diperhatiakan antara lain seperti faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal menyangkut sifat genetis yang terkandung pada
tanaman yang akan dibudidayakan. Faktor genetis pada tanaman yaitu keunggulan-keunggulan
tertentu yang dimiliki oleh tanaman itu sendiri, seperti genetis yang mendukung
jumlah produksi tanaman, mendukung tanaman agar toleran terhadap faktor biotik
dan abiotik yang kurang menguntungkan. Sedangkan faktor eksternal mencakup
keadaan lingkungan di sekitar tempat tanaman tumbuh, baik itu lingkungan biotik
dan lingkungan abiotik. Lingkungan biotik meliputi makhluk hidup yang ada
disekitar jagung yang berperan positif ataupun berperan negatif sebagai hama
bagi jagung, sedangkan lingkungan abiotik, meliputi iklim, tanah, tinggi
tempat, intensitas cahaya, curah hujan dan lain sebagainya.
Ketinggian
yang paling tepat untuk budidaya tanaman jagung adalah antara 0-1300 m di atas
permukaan laut. Untuk varietas yang digunakan sebaiknya varietas-varietas
unggul. Namun pada dasarnya ada beberapa varietas jagung yang biasa digunakan,
antara lain Abimanyu, Arjuna, Bromo, Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas,dll.
Untuk pemberian unsur hara, perlu dilakukan sesuai dengan dosis dan kebutuhan
jagung. Sedangkan pemeliharaan dilakukan secara rutin, termasuk dalam hal
pengairan dan pemberantasan organisme pengganggu tanaman yang bisa mengurangi
hasil produksi jagung.
Tanaman
jagung merupakan komoditi tanaman pangan yang dibutuhkan dalam jumlah yang
sangat banyak, di Indonesia jagung banyak digunakan sebagai produk konsumsi
maupun sebagai pakan ternak. Sekarang ini telah banyak informasi yang
menyebutkan bahwa harus ada bahan makanan pengganti beras. Selain gandum,
singkong, dan sagu, sebenarnya jagung memiliki
potensi yang sangat besar untuk menggantikan beras. Karena, jagung
merupakan sumber karbohidrat sebagaimana
beras, dan dapat dijadikan bahan baku untuk aneka ragam produk olahan. Di beberapa daerah di Indonesia,
misalnya Nusa Tenggara, telah
menggunakan jagung sebagai bahan pangan pokok Sehubungan dengan
tingginya permintaan terhadap tanaman jagung dan produksi jagung di Indonesia
yang kurang maksimal, maka dibutuhkan inovasi-inovasi baru yang bisa
meningkatkan produksi tanaman ini.
1.2
Tujuan
1. Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman
jagung.
2. Untuk mengetahui teknik budidaya
tanaman jagung yang baik sesuai dengan kondisi tanah.
BAB 2.
TINJAUAN PUSTAKA
Peranan
strategis jagung sebagai subtitusi beras atau bahkan menjadi menu utama di
beberapa wilayah tertentu, telah menempatkan jagung sebagai tanaman yang banyak
diusahakan petani. Produktivitas jagung di Indonesia masih rendah jika
dibandingkan dengan negara penghasil jagung lainnya yakni baru mncapai 2,61 ton-1.
Sendangkan Negara penghasil jagung utama di Asia seperti Kora selatan dan cina
mampu menghasilkan jagung masing-masing 6,14 dan 3,85 ton ha-1 (Armando,
2009). Jagung merupakan sumber karbohidrat dan protein yang dapat digunakan
sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku untuk industry. Akhir-akhir
ini pengembangan jagung di Indonesia semakin pesat sejalan dengan peningkatan
kebutuhan akan jagung khususnya untuk pakan ternak. Di lain pihak pengembangan
jagung yang intensif juga mengakibatkan munculnya berbagai masalah baik
penurunan produksi maupun kualitas biji. Penurunan produksi maupun kualits biji
jagung sangat ditentukan oleh factor abiotic dan biotik. Kendala dalam budidaya
jagung menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain serangan hama dan
penyakit sebagai factor biotik (Suprapto et
al, 2012).
Peningkatan
produksi jagung tergantung pada tingkat teknologi yang tersedia dan kesediaan
petani untuk mengalokasikan faktor-faktor yang menjadi komponen dari teknologi
tersebut di lokasi-lokasi usaha taninya. Penyebab rendahnya produksi jagung di
Indonesia antara lain terbatasnya penggunaan varietas unggul, kualitas benih
yang jelek, pengolahan tanah dan tanaman yang kurang tepat, kesuburan tanah
rendah dan tekanan lingkungan (Irfan dan Chairunas dalam Armando, 2009). Saat
ini petani kita umumnya menggunakan benih jagung varietas unggul yang mempunyai
karakteristik antara lain adalah sangat sangat responsif terhadap pemupukan dan
hanya cocok di tanam pada tanah yang subur dengan tingkat pemupukan yang tinggi
(Suprapto et al, 2012). Program
pemuliaan tanaman pangan untuk menghasilkan varietas unggul baru dengan
produktivitas dan stabilitas hasil tinggi selalu membutuhkan sumber-sumber gen
dari sifat-sifat tanaman yang mendukung tujuan tersebut. Sifat-sifat yang diingkan
antara lain adalah potensi hasil tinggi, daya adaptasi lebih baik terhadap
kondisi lingkungan suboptimal, lahan trhadap hama dan penyakit utama, umur
lebih pendek (genjah), kandungan dan kualitas gizi yang baik. Sumber-sumber gen
untuk sifat-sifat tersebut perlu diidentifikasi dan ditemukan pada koleksi
plasma nutfah melalui kegiatan karakterisasi dan evaluasi.
Upaya peningkatan produksi tanaman perluasan tertentu dapat
dilakukan dengan meningkatkan populasi tanaman dengan jarak tanam turut
mempengaruhi produktifitas tanaman. Kerapatan atau ukuran populasi tanaman
sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi
persaingan dalam hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan
tinggi dan kedalaman akar tanaman (Dahlan dan Zaqi, 2008). Pengaturan populasi
tanaman melalui pengaturan jarak tanam pada suatu tanaman akan mempengaruhi
keefisienan tanaman dalam memanfaatkan matahari dan pesaingan tanaman dalam
pemanfaatan hara dan air yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi tanaman. Dengan pengaturan jarak tanam yang baik, maka pemanfaatan
ruang yang ada bagi pertumbuhan tanaman dan kapasitas penyangga terhadap
peristiwa yang merugikan dapat diefesienkan.
Perubahan
iklim global yang sekarang makin terasa dengan kenaikan suhu udara, saat ini
dituduh sebagai penyebab krisis pangan dunia. Menurut laporan IPCC
(Intergovermental Panel on Climate Change), perubahan suhu rata-rata yang
terjadi belakangan ini berdampak pada produksi pangan. Hal ini tentu juga berpengaruh
pada produksi pangan Indonesia. Sejalan dengan itu menurut Suastini dalam Saleh
(2012), perubahan iklim berdampak terhadap pertanian dan persediaan pangan,
karena menyebabkan pergantian musim tidak pasti, gagal tanam, gagal panen,
musim kemarau lebih panjang, serangan hama penyakit, dan degradasi hutan lahan.
Warisno
(2008) mengungkapkan bahwa faktor-faktor iklim yang perlu diperhatikan agar
tanaman jagung dapat tumbuh baik dan berproduksi cukup tinggi, atara lain
adalah suhu, curah hujan, sinar matahari, tinggi tempat.
1. Suhu
Suhu
yang dikehendaki tanaman jatanaman jagung adalah antara 210C-300C.
Akan tetapi, untuk pertumbuhan yang baik bagi tanamn jagung, suhu optimum
adalah 230C-270C. Suhu yang terlalu tinggi dan kelembaban
yang rendah akan dapat mengganggu proses persarian. Suhu yang rndah (sekitar 150C)
akan mengakibatkan perkecambahan tertunda sehingga muncul dia atas tanah lebih
dari tujuh hari. Suhu di suatu daerah erat sekali hubungannya dengan ketinggian
tempat. Makin tinggi suatu daerah, suhunya sakan semakin rendah; demikian juga
sebaliknya.
2. Curah
hujan
Curah hujan berhubungan erat
dengan ketersediaan air. Proses fotosintesis, mengubah zat hara menjadi makanan
yang diperlukan, sangat memerlukan air di samping bantuan dari sinar matahari.
Air merupakan media pengatur suhu bagi tanaman sebab air dapat menyalurkan
panas. Dan paling vital, air merupakan sarana tranportasi untuk mengangkut hara
dari luar kedalam tubuh tanaman jagung. Untuk mudahnya curah hujan yang normal
untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar 250 mm/tahun sampai
2.000 mm/tahun, dan yang paling penting adalah distribusinya pada setiap tahap
pertumbuhan.
3. Sinar
Matahari
Kebutuhan
akan sinar matahari bagi suatu tanaman adalah mutlak, tidakterkecuali untuk
tanaman jagunga hibrida. Sinar matahari sangat brguna bagi proses fotosintesis.
Tanpa sinar matahari, proses fotosintesis suatu tanaman sulit terlasana.
Kebutuhan akan sinar matahari berbeda-beda anatara jenis tanaman yang satu dan
jenis tanaman yang lain. Dari hasil penelitian, intensitas cahaya yang tinggi
baik untuk pertumbuhan tanaman jagung. Intensitas cahaya yang rendah akan
berakkibat tanaman jagung tumbuh memanjang (tinggi), tongkolnya ringan dan
bijinya kurang berisi.
4. Tinggi
Tempat
Jagung
dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi yang memiliki ketinggian
1.000 m atau lebih dari permukaan air laut. Umumnya, jagung tyang ditanam di
daerah dengan ketinggian antara 800 m sampai 1.200 m dari permukaan air laut
juga masih bisa berproduksi dengan baik. Keadaan tinggi tempat erat kaitannya
dengan suhu udara, kelembapan, dan intensitas penyinaran matahari. Semuanya itu
akan saling mempengaruhi keadaan fisiologis tanaman jagung.
Novriani
(2010) mengatakan bahwa tanaman jagung memerlukan media tumbuh yang gembur dan
subur karena tanaman ini memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung mampu
tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asalkan mendapatkan pengelolaan yang
baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu adalah tanah yang terbaik untuk
pertumbuhan jagung. Untuk tanah yang bertekstur berat dapat dilakukan
pengolahan secara optimal sehingga aerasi dan ketersediaan air dalam tanah
berada dalam kodisi baik.
Kemasaman
tanah juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan jagung karena ini berkaitan
erat dengan ketersediaan hara dalam tanah. pH yang baik untuk pertumbuhan
jagung berkisar antara 5,5–7,0. Tanaman jagung juga akan tumbuh baik ada daerah
dengan ketinggian 0–1300 m dpl. Tanah yang tingkat kemiringannya tidak lebih
dari 8%, masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah
kemiringan tanah, dengan maksud mencegah erosi tanah apabila ada hujan (Diniz
dan Oliviera, 2009).
Pupuk
yang sering diberikan untuk tanaman jagung adalah pupuk Urea, TSP dan KCl
dengan kisaran Urea 200 kg/ha yang diberikan tiga kali tahapan 1/3 pada saat
tanam, 1/3 pada waktu 30 hari dan / lainnya pada umur 40-45 hari.TSP sekitar 80
kg/ha dan KCl 50 kg/ha. TSP dan KCl diberikan sebagai pupuk dasar yang
diberikan pada saat tanam dengan cara dibuat tugal di kiri dan kanan lubang
tanam dengan jarak 5 cm dan kedalaman 10 cm (Bavec et al, 2011).
Oseni
dan Masarirambi (2011) menyatakan bahwa bentuk P organik di dalam tanah sekitar
1% terdapat dalam mikroorganisme, berarti dalam 1 ton bahan organik P dapat
dibebaskan 10 kg (setara degan 22 kg TSP) berarti terdapat 200 kg
P-organik/ha/ton bahan organik. P organik ini terdistribusi paling besar di
permukaan tanah dibandingkan dengan subsoil, karena sesuai akumulasi bahan
organik tanah.
Fosfor
(P) termasuk unsur hara makro yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman,
namun kandungannya di dalam tanaman lebih rendah dibanding nitrogen (N), dan
kalium (K). Tanaman menyerap P dari tanah dalam bentuk ion fosfat, terutama
H2PO4- dan HPO42- yang terdapat dalam larutan tanah. Ion H2PO4- lebih banyak
dijumpai pada tanah yang lebih masam, sedangkan pada pH yang lebih tinggi
(>7) bentuk HPO42- lebih dominan. Di samping ion-ion tersebut, tanaman dapat
menyerap P dalam bentuk asam nukleat, fitin, dan fosfohumat (Rukmana, 2005).
BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Produksi Tanaman dengan
judul acara “Teknik Produksi Tanaman Jagung” ini dilakukan pada hari Senin, 24
Oktober 2013 pada pukul 08.00 WIB - selesai, bertempat di lahan agroteknopark
Universitas Negeri Jember desa jubung.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.
Benih kedelai
2.
Tanah
3.
Pupuk (urea, SP-36, KCl)
4.
Tanah kering angin diayak.
3.2.2 Alat
1.
Cangkul
2.
Tugal
3.
Roll meter
4.
Tali rafia
5.
Papan nama
6.
Ayakan
7.
Timba
3.3 Cara Kerja
1.
Menyiapkan alat dan bahan yang
diperlukan.
2.
Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah, dan menjemur sampai kering
angin.
3.
Mengambil sampel tanah kemudian dianalisis sidik cepat untuk mengetahui kondisi
tanah melalui pH, C-Organik, dan sifat fisik tanah.
4.
Memasukkan tanah sebanyak 10 kg ke dalam polibag, untukperlakuan dengan
penambahan BO berat tanah disesuaikan, kemudian menyiram dengan air.
5.
Menanam benih kedelai pada masing-masing
perlakuan, satu lubang diisi 2 benih.
6.
Pemupukan SP-36 dan KCl serta penambahan
bahan organik sesuai dengan dosis anjuran sidik cepat sedangkan untuk pupuk
urea sesuai dengan perlakuan.
7.
Melakukan pengamatan secara rutin.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
4.2
Pembahasan
Jagung
tidak hanya digunakan untuk bahan pangan tetapi juga untuk pakan. Dalam
beberapa tahun terakhir proposi penggunaan jagung oleh industri pakan telah
mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam 20 tahun ke depan, penggunaan
jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan bahkan setelah tahun 2020
lebih dari 60% dari total kebutuhan nasional. Ditinjau dari sumberdaya lahan
dan ketersediaan teknologi, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk
berswasembada jagung dan bahkan berpeluang pula menjadi pemasok di pasar dunia
mengingat makin meningkatnya permintaan dan makin menipisnya volume jagung di
pasar internasonal.
Jagung
memiliki potensi yang cukup besar, hal ini karena tanaman ini memiliki prospek
yang cerah untuk diusahakan baik dari aspek budidaya maupun dari aspek peluang
pasar. Dari aspek budidaya tanaman jagung tidak sulit untuk dibudidayakan.
Tanaman jagung dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah. Yang terpenting dan
sangat berhubungan erat dengan hasil jagung adalah tersedianya unsur hara NPK
pada tanah tersebut. Untuk pertumbuhan yang lebih baik lagi, tanaman jagung
memerlukan tanah yang subur, gembur dan kaya humus (Rukmana, 2005).
Demikian
juga benih jagung telah banyak varietas-varietas unggul yang dilepas. Menurut Armando
(2009), perkembangan daya hasil dari varietas-varietas unggul yang diadopsi
petani telah terbukti memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap
peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional. Dari aspek peluang
pasar tanaman jagung mempunyai prospek yang cerah untuk diusahakan, karena
permintaan konsumen dalam negeri dan peluang ekspor yang terus meningkat.
Novriani
(2010) mengemukakan bahwa prospek usahatani tanaman jagung cukup cerah bila
dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Permintaan pasar
dalam negeri dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun
ke tahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan. Disamping itu
juga prospek pasar produksi jagung semakin baik, karena didukung oleh adanya
kesadaran gizi dan diversifikasi bahan makanan pada masyarakat. Demikian juga
untuk keperluan bahan baku industri rumah tangga seperti emping jagung, wingko
jagung dan produk jagung olahan lainnya dan untuk keperluan bahan baku pakan
ternak, serta untuk ekspor memerlukan produk jagung dalam jumlah yang besar.
Keadaan ini merupakan peluang pasar yang potensial bagi petani dalam
mengusahakan tanaman jagung. Dengan demikian peningkatan produksi jagung baik
kualitas maupun kuantitas sangat penting.
Adapun
morfologi tanaman jagung sebagai berikut:
1. Biji
Biji
tanaman jagung dikenal sebagai kernel terdiri dari 3 bagian utama, yaitu
dinding sel, endosperma, dan embrio. Bagian biji ini merupakan bagian yang
terpenting dari hasil pemaneman. Bagian biji rata-rata terdiri dari 10%
protein, 70% karbohidrat, 2.3% serat. Biji jagung juga merupakan sumber dari
vitamin A dan E.
Biji
jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji
atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama,
yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio
dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b) endosperm, sebagai cadangan
makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung 90% pati dan 10% protein,
mineral, minyak, dan lainnya; dan (c) embrio (lembaga), sebagai miniatur
tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil.
Kulit
biji merupakan bagian dari biji yang terdiri dari dua lapis sel yang
menyelubungi biji yang disebut integumen. Pada biji yang telah masak, didnding
sel telur (perikarp) melekat sangat erat pada kulit biji, sehingga perikarp dan
kulit biji ini seolah-olah merupakan selaput tunggal. Kulit biji dan perikarp
yang bersatu dan merupakan satu lapisan disebut hull yang merupakn cirikhas
dari tanaman rumput-rumputan. Embrio dan endosperm yang merupakan sumber
makanan terdiri dari yaitu eksternal dan internal. Bagian eksternal adalah
endosperma, sedangkan bagian internal terdapat pada kotiledon atau skutellum.
Skutellum merupakan penghubung yang terletak di bagian tengah kotiledon. Pada
umumnya endosperm terdiri dari dua macam yaitu endosperm lunak dan endosperm
keras. Kotiledon diselubungi oleh lapisan sel-sel tipis tipis yang disebut
epithelium yang terletak di antara kotiledon dan endosperm. Koleoptil adalah
adalah calon daun yang berfungsi untuk penetrasi ke atas permukaan tanah selama
proses perkecambahan.
2. Daun
Pada
awal fase pertumbuhan, batang dan daun tidak bisa dibedakan secara jelas. Ini
dikarenakan titik tumbuh masih dibawah tanah. Daun baru dapat dibedakan dengan
batang ketika 5 daun pertama dalam fase pertumbuhan muncul dari tanah. Daun
terbentuk dari pelepah dan daun (leaf blade & sheath). Daun muncul dari
ruas-ruas batang. Pelepah daun muncul sejajar dengan batang. Pelepah daun
bewarna kecoklatan yang menutupi hampir semua batang jagung.
Daun
baru akan muncul pada titik tumbuhnya.
Titik tumbuh daun jagung berada pada ruas batang. Daun jagung berjumlah sekitar
20 helai tergantung dari varietasnya.
Sejalan dengan pertumbuhan jagung, diameter batang akan meningkat. Pertumbuhan
diameter pada tanaman jagung menyebabkan 7-8 daun pada bagian bawah tanaman
jagung mengalami kerontokan.
3. Batang
Jagung
berbentuk ruas. Ruas-ruas berjajat secara vertikal pada batang jagung. Pada
tanaman jagung yang sudah tua, jarak antar ruas semakin berkurang.
Batang
tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah 10-40 ruas. Tanaman jagung umumnya
tidak bercabang. Batang memiliki dua fungsi yaitu sebagai tempat daun dan
sebagai tempat pertukaran unsur hara. Unsur hara dibawa oleh pembuluh
bernama xilem dan
floem. Floem bergerak dua arah dari atas kebawah dan dari bawah ke atas.
Floem membawa sukrose menuju seluruh bagian tanaman dengan bentuk cairan.
4. Akar
Pada
tanaman jagung, akar utama yang terluar berjumlah antara 20-30 buah. Akar
lateral yang tumbuh dari akar utama mencapai ratusan dengan panjang 2,5-25 cm.
Botani tanaman jagung termasuk tanaman monokotil (Warisno, 2008). Sistem
perakaran tanaman jagung terdiri atas akar-akar seminal, koronal, dan akar
udara. Akar utama muncul dan berkembang kedalam tanah saat benih ditanam.
Pertumbuhan akar melambat ketika batang mulai muncul keluar tanah dan kemudian
berhenti ketika tanaman jagung telah memiliki 3 daun.
Pertumbuhan
akar kemudian dilanjutkan dengan pertumbuhan akar adventif yang berkembang pada
ruas pertama tanaman jagung. Akar adventif yang tidak tumbuh dari radikula
tersebut kemudian melebar dan menebal. Akar adventif kemudian berperan penting
sebagai penegak tanaman dan penyerap unsur hara. Akar adventif juga ditemukan
tumbuh pada bagian ruas ke 2 dan ke 3 batang, namun fungsi utamanya belum
diketahui secara pasti.
5. Bunga
Tanaman
jagung memiliki bunga jantan dan betina yang letaknya terpisah. Bunga jantan
terdapat pada malai bunga di ujung tanaman, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Tangkai kepala
putik merupakan rambut yang terjumbai di ujung tongkol yang selalu dibungkus
kelobot yang jumlahnya 6-14 helai. Pada bunga betina, terdapat sejumlah rambut
yang ujungnya membelah dan jumlahnya cukup banyak (Warisno, 2008).
6. Tongkol
Tanaman
jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung
diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya
lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian
bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu
genap.
Pertumbuhan
adalah proses perubahan pada makhluk hidup yang berupa pertambahan ukuran
(volume, massa, dan tinggi). Ciri pertumbuhan adalah sel bertambah banyak, 2
selnya membesar, 3 bersifat irreversible. Perkembangan adalah proses menuju
tercapainya kedewasaan pada masing-masing individu. Adapun faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan:
1. Cahaya merupakan factor utama sebagai sumber energy dalam
fatosintesis untuk memproduksi tepung atau karbohidrat, namun cahaya juga
sebagai penghambat pertumbuhan meninggi karena cahaya dapat mengurangi auksin.
2. Suhu atau Temperatur, mempengaruhi pertumbuhan pada rproduksi
tumbuhan . Perubahan temperature dari dingin atau panas mempengaruhi kemampuan
fotosintesis ,translokasi, respirasi, dan transpirasi.
3. Kelembaban , kondisi lembab menyebabkan banyak air yang diserap
tumbuhan dan lebih sedikit yang di uapkan. Kondisi tersebut mendukung
pemanjangan sel-sel.
4. Air merupakan senyawa utama yang sangat dibutuhkan tumbuhan . Air
berfungsi untuk fotosintesis , mengatifkan reaksi enzimatik, menjaga kelembaban
dan membantu perkecambahan biji. Tanpa air reaksi kimia dalam sel tidak dapat
berlangsung sehingga mengakibatkan kematian tumbuhan.
5. Nutrisi (makanan) merupakan bahan baku utama untuk organism dalam
proses pertumbuhan dan perkembangannya. Seperti karbon, oksigen, hydrogen,
nitrogen, sulfur, fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium. Jika tumbuhan
kekurangan sebagian nutrisi itu maka akan mengalami defisien.
6. Oksigen, berfungsi dalam reaksi metabolism tumbuhan karena oksigen
penting dalam respirasi yang menghasilkan energy.
7. Grafitasi, Bila cahaya mempengaruhi arah tumbuhan tunas maka
pengaruhi bumi akan mempengaruhi pertumbuhan akar menuju ke pusat bumi. Arah
gerak akar yang membumi disebut Geotropisme.
Jarak
tanam dan populasi sangat mempengaruhi kerapatan daun. Semakin tinggi kerapatan
daun maka jumlah cahaya yang masuk ke tanaman bagian bawah menjadi lebih
sedikit. Penurunan jumlah cahaya yang masuk ini akan menurunkan laju
fotosintesis. Akibatnya produksi biomassa akan menurun.
Ada
beberapa macam Kendala yang dihadapi praktikan saaat mencoba membudidayakan
Jagung. Kendala yang dialami adalah sebagai berikut:
Gulma
Pengendalian
gulma seharusnya menjadin suatu keharusan pada budidaya jagung. Ini dikarenakan
gulma yang tumbuh cepat menyesuaikan diri dengan cara bercocock tanam yang
dilakukan. Umumnya pengendalian gulma hanya mengandalkan tangan sehingga
terkadan kurang efisien karena butuh waktu dan tenaga lebih. Metode lain yang
lebih mudah yakni secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. Apabila gulma
dapat dikendaliakan pada masa awal pertumbuhan, tanaman akan mempunyai daa
persaingan yang lebih tinggi dari pada pertumbuhan gulma. Perkecambahan biji
dan saat awal perkembangan biji merupakan masa yang penting karena tanaman akan
peka terhadap kompetisi gulma dalam daur hidup gulma.
Permasalahan
gulma di kebun percobaan memang menjadi kendala yang cukup serius. Seperti yang
diuraikan diatas pada awal pertumbuhan jagung gulma menjadi sulit dikendalikan
karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan kurangnya perisapan dari praktikan
untuk pencegahan kompetisi dari gulma terhadap tanaman jagung. Perlakuan
penyiangan juga menjadi kurang efisien karena membutuhkan waktu yang cukup lama
terlebih perkaluan ini hanya dilakukan seminggu sekali saat pelaksanaan
praktikum. Gulma mulai dapat terkendali saat tanaman jagung sudah cukup dewasa,
pada saat itu pertumbuhan jagung sudah dapat menekan pertumbuhan gulma yang ada
di lahan.
Tanaman
budidaya seperti jagung, selain memerlukan unsur hara dalam tanah juga
memerlukan tambahan hara agar pertumbuhannya optimal.tidak dapat dipungkiri
bahwa pemupukan mengambil peran yang cukup penting dalam budidaya tanaman
semusim. Pemupukan harusla dilakuakan secara tepat baik dosis, cara dan waktu
pemupukan agar dapat diserap tanaman secara maksimal.
Pemupukan
sangat diperlukan bagi tanaman dalam penambahan nutrisi, utamanya N, P, dan K.
N merupakan hara yang penting bagi tumbuhan, termasuk jagung. Nitrogen
berpengaruh besar pada kuantitas jumlah helaipada tanaman jagung, yang secara
tidak langsung berhubungan dengan kuantitas hasil panen. Dalam 1 hektar,
tanaman jagung membutuhkan 115 kg/ha. N
dapat diperoleh dari pupuk organik atau
urea. Kekurangan N pada jagung
terlihat pada saat fase pertumbuhan awal. Tanaman yang kekurangan unsur
tersebut akan akan bewarna kuning, dan ketika tanaman telah dewasa. Bagian daun
yang tidak terkena sinar matahari akan menguning dan nampak terbakar.
P
(phosporus) merupakan unsur hara makro yang penting bagi jagung. Pada tanaman
Jagung, P harus diberkan langsung pada
saat penanaman benih ditanah. P merunpakan unsur hara yang diambil oleh tanaman pada saat muda (pertumbuhan). Hal itu disebabkan
oleh P sangat berperan
penting bagi pertumbuhan akar. P dapat ditingkatkan pengambilannya oleh
tanaman jagung secara organik jika terdapat mikoriza pada tanaman jagung.
Kekuranan P diindikasikan dengan akar yang tidak kuat danpendek, serta daunnya
melengkung tidak beraturan.
K adalah
unsur yang sangat berperan penting dalam
pembungaan tanaman jagung. Sekitar 86% Kalium diserap oleh bunga. Dalam
1 hektar wilayah, jagung membutuhkan 75 kg. Kekurangan unsur K akan berdampak
buruk pada biji jagung yang akan dipanen.
Armando,
Y.G. 2009. Peningkatan Produktivitas Jagung pada Lahan Kering Utisol Melalui
Penggunaan Bokashi Serbuk Gergaji Kayu. Akta
Agrosia, 12(2): 124-129.
Bavec, O., Bavec, M., dan Fekonja, M. 2013. Organic
And Mineral Nitrogen Fertilizers In Sweet Maize (Zea mays L. saccharata
Sturt.) Production Under Temperate Climate. Zemdirbyste-Agriculture,
100(3): 243-150.
Dahlan dan
Zaqi, A.P. 2008. Pengaruh
Jarak Tanam Pagar Berganda Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung. Agrisistem. 4(2): 101-108.
Diniz, SPSS., dan Oliveira, R.C. 2009. Effects Of
Fusaric Acid on Zea Mays L. Seedlings. Experimental Botany, 78(3): 155-160.
Novriani. 2010. Alternatif
Pengelolaan Unsur Hara P (Fosfor) Pada Budidaya Jagung. Agronobis, 2(3): 42-49.
Oseni,
T.O., dan Masarirambi, M.T. 2011. Effect of Climate Change on Maize (Zea mays) Production and Food
Security in Swaziland. Agric
& Environ, 11(3): 385-391.
Rukmana, R. 2005. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta: Kanisius.
Saleh,
W., Angela, F., dan Butarbutar, L. 2012. Budidaya Padi di Dalam Polibeg Dengan Irlgasl Bertekanan Untlik
Antisipasi Pesatnya Perubahan Fungsi Lahan Sawah. Teknotan, 6(1): 692-699.
Suprapto.,
Zulaiha, S., dan Apriynto, D. 2012. Infestasi Beberapa Hama Penting Terhadap
Jagung Hibrida Pengembangan Dari Jagung Local Bengkulu Pada Kondisi Input
Rendah di Dataran Tinggi Andisol. Penelitian
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingungan, 1(1): 15-28.
Warisno.
2008. Jagung Hibrida.Yogyakarta:
Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar