Minggu, 04 Oktober 2015

Teknik Produksi Tanaman Jagung

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Tanaman jagung atau sering disebut (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan di Indonesia yang merupakan famili dari gramineae. Jagung merupakan tanaman semusim (annual), dengan satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum  dan padi. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Taksonomi  tanaman jagung adalah sebagai berikut: Kingdom: Plantae (tumbuh-tumbuhan), Divisio: Spermatophyta (tumbuhan berbiji), Sub Divisio: Angiospermae (berbiji tertutup), Classis : Monocotyledone (berkeping satu), Ordo: Graminae (rumput-rumputan),Familia: Graminaceae, Genus:  Zea, Species : Zea mays L.
Untuk budidaya jagung dapat dipengaruhi beberapa faktor umum yang harus diperhatikan. Faktor umum yang harus diperhatiakan antara lain seperti faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal menyangkut sifat genetis yang terkandung pada tanaman yang akan dibudidayakan. Faktor genetis pada tanaman yaitu keunggulan-keunggulan tertentu yang dimiliki oleh tanaman itu sendiri, seperti genetis yang mendukung jumlah produksi tanaman, mendukung tanaman agar toleran terhadap faktor biotik dan abiotik yang kurang menguntungkan. Sedangkan faktor eksternal mencakup keadaan lingkungan di sekitar tempat tanaman tumbuh, baik itu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Lingkungan biotik meliputi makhluk hidup yang ada disekitar jagung yang berperan positif ataupun berperan negatif sebagai hama bagi jagung, sedangkan lingkungan abiotik, meliputi iklim, tanah, tinggi tempat, intensitas cahaya, curah hujan dan lain sebagainya.
Ketinggian yang paling tepat untuk budidaya tanaman jagung adalah antara 0-1300 m di atas permukaan laut. Untuk varietas yang digunakan sebaiknya varietas-varietas unggul. Namun pada dasarnya ada beberapa varietas jagung yang biasa digunakan, antara lain Abimanyu, Arjuna, Bromo, Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas,dll. Untuk pemberian unsur hara, perlu dilakukan sesuai dengan dosis dan kebutuhan jagung. Sedangkan pemeliharaan dilakukan secara rutin, termasuk dalam hal pengairan dan pemberantasan organisme pengganggu tanaman yang bisa mengurangi hasil produksi jagung.
Tanaman jagung merupakan komoditi tanaman pangan yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak, di Indonesia jagung banyak digunakan sebagai produk konsumsi maupun sebagai pakan ternak. Sekarang ini telah banyak informasi yang menyebutkan bahwa harus ada bahan makanan pengganti beras. Selain gandum, singkong, dan sagu, sebenarnya jagung memiliki  potensi yang sangat besar untuk menggantikan beras. Karena, jagung merupakan sumber  karbohidrat sebagaimana beras, dan dapat dijadikan bahan baku untuk aneka ragam produk  olahan. Di beberapa daerah di Indonesia, misalnya Nusa Tenggara, telah  menggunakan jagung sebagai bahan pangan pokok Sehubungan dengan tingginya permintaan terhadap tanaman jagung dan produksi jagung di Indonesia yang kurang maksimal, maka dibutuhkan inovasi-inovasi baru yang bisa meningkatkan produksi tanaman ini.

1.2  Tujuan
1.  Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman jagung.
2.  Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jagung yang baik sesuai dengan kondisi tanah.



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Peranan strategis jagung sebagai subtitusi beras atau bahkan menjadi menu utama di beberapa wilayah tertentu, telah menempatkan jagung sebagai tanaman yang banyak diusahakan petani. Produktivitas jagung di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara penghasil jagung lainnya yakni baru mncapai 2,61 ton-1. Sendangkan Negara penghasil jagung utama di Asia seperti Kora selatan dan cina mampu menghasilkan jagung masing-masing 6,14 dan 3,85 ton ha-1 (Armando, 2009). Jagung merupakan sumber karbohidrat dan protein yang dapat digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku untuk industry. Akhir-akhir ini pengembangan jagung di Indonesia semakin pesat sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan jagung khususnya untuk pakan ternak. Di lain pihak pengembangan jagung yang intensif juga mengakibatkan munculnya berbagai masalah baik penurunan produksi maupun kualitas biji. Penurunan produksi maupun kualits biji jagung sangat ditentukan oleh factor abiotic dan biotik. Kendala dalam budidaya jagung menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain serangan hama dan penyakit sebagai factor biotik (Suprapto et al, 2012).
Peningkatan produksi jagung tergantung pada tingkat teknologi yang tersedia dan kesediaan petani untuk mengalokasikan faktor-faktor yang menjadi komponen dari teknologi tersebut di lokasi-lokasi usaha taninya. Penyebab rendahnya produksi jagung di Indonesia antara lain terbatasnya penggunaan varietas unggul, kualitas benih yang jelek, pengolahan tanah dan tanaman yang kurang tepat, kesuburan tanah rendah dan tekanan lingkungan (Irfan dan Chairunas dalam Armando, 2009). Saat ini petani kita umumnya menggunakan benih jagung varietas unggul yang mempunyai karakteristik antara lain adalah sangat sangat responsif terhadap pemupukan dan hanya cocok di tanam pada tanah yang subur dengan tingkat pemupukan yang tinggi (Suprapto et al, 2012). Program pemuliaan tanaman pangan untuk menghasilkan varietas unggul baru dengan produktivitas dan stabilitas hasil tinggi selalu membutuhkan sumber-sumber gen dari sifat-sifat tanaman yang mendukung tujuan tersebut. Sifat-sifat yang diingkan antara lain adalah potensi hasil tinggi, daya adaptasi lebih baik terhadap kondisi lingkungan suboptimal, lahan trhadap hama dan penyakit utama, umur lebih pendek (genjah), kandungan dan kualitas gizi yang baik. Sumber-sumber gen untuk sifat-sifat tersebut perlu diidentifikasi dan ditemukan pada koleksi plasma nutfah melalui kegiatan karakterisasi dan evaluasi.
Upaya peningkatan produksi tanaman perluasan tertentu dapat dilakukan dengan meningkatkan populasi tanaman dengan jarak tanam turut mempengaruhi produktifitas tanaman. Kerapatan atau ukuran populasi tanaman sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi persaingan dalam hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan tinggi dan kedalaman akar tanaman (Dahlan dan Zaqi, 2008). Pengaturan populasi tanaman melalui pengaturan jarak tanam pada suatu tanaman akan mempengaruhi keefisienan tanaman dalam memanfaatkan matahari dan pesaingan tanaman dalam pemanfaatan hara dan air yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Dengan pengaturan jarak tanam yang baik, maka pemanfaatan ruang yang ada bagi pertumbuhan tanaman dan kapasitas penyangga terhadap peristiwa yang merugikan dapat diefesienkan.
Perubahan iklim global yang sekarang makin terasa dengan kenaikan suhu udara, saat ini dituduh sebagai penyebab krisis pangan dunia. Menurut laporan IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change), perubahan suhu rata-rata yang terjadi belakangan ini berdampak pada produksi pangan. Hal ini tentu juga berpengaruh pada produksi pangan Indonesia. Sejalan dengan itu menurut Suastini dalam Saleh (2012), perubahan iklim berdampak terhadap pertanian dan persediaan pangan, karena menyebabkan pergantian musim tidak pasti, gagal tanam, gagal panen, musim kemarau lebih panjang, serangan hama penyakit, dan degradasi hutan lahan.
Warisno (2008) mengungkapkan bahwa faktor-faktor iklim yang perlu diperhatikan agar tanaman jagung dapat tumbuh baik dan berproduksi cukup tinggi, atara lain adalah suhu, curah hujan, sinar matahari, tinggi tempat.


1.    Suhu
Suhu yang dikehendaki tanaman jatanaman jagung adalah antara 210C-300C. Akan tetapi, untuk pertumbuhan yang baik bagi tanamn jagung, suhu optimum adalah 230C-270C. Suhu yang terlalu tinggi dan kelembaban yang rendah akan dapat mengganggu proses persarian. Suhu yang rndah (sekitar 150C) akan mengakibatkan perkecambahan tertunda sehingga muncul dia atas tanah lebih dari tujuh hari. Suhu di suatu daerah erat sekali hubungannya dengan ketinggian tempat. Makin tinggi suatu daerah, suhunya sakan semakin rendah; demikian juga sebaliknya.
2.      Curah hujan
Curah hujan berhubungan erat dengan ketersediaan air. Proses fotosintesis, mengubah zat hara menjadi makanan yang diperlukan, sangat memerlukan air di samping bantuan dari sinar matahari. Air merupakan media pengatur suhu bagi tanaman sebab air dapat menyalurkan panas. Dan paling vital, air merupakan sarana tranportasi untuk mengangkut hara dari luar kedalam tubuh tanaman jagung. Untuk mudahnya curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar 250 mm/tahun sampai 2.000 mm/tahun, dan yang paling penting adalah distribusinya pada setiap tahap pertumbuhan.
3.      Sinar Matahari
Kebutuhan akan sinar matahari bagi suatu tanaman adalah mutlak, tidakterkecuali untuk tanaman jagunga hibrida. Sinar matahari sangat brguna bagi proses fotosintesis. Tanpa sinar matahari, proses fotosintesis suatu tanaman sulit terlasana. Kebutuhan akan sinar matahari berbeda-beda anatara jenis tanaman yang satu dan jenis tanaman yang lain. Dari hasil penelitian, intensitas cahaya yang tinggi baik untuk pertumbuhan tanaman jagung. Intensitas cahaya yang rendah akan berakkibat tanaman jagung tumbuh memanjang (tinggi), tongkolnya ringan dan bijinya kurang berisi.
4.      Tinggi Tempat
Jagung dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi yang memiliki ketinggian 1.000 m atau lebih dari permukaan air laut. Umumnya, jagung tyang ditanam di daerah dengan ketinggian antara 800 m sampai 1.200 m dari permukaan air laut juga masih bisa berproduksi dengan baik. Keadaan tinggi tempat erat kaitannya dengan suhu udara, kelembapan, dan intensitas penyinaran matahari. Semuanya itu akan saling mempengaruhi keadaan fisiologis tanaman jagung.
Novriani (2010) mengatakan bahwa tanaman jagung memerlukan media tumbuh yang gembur dan subur karena tanaman ini memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung mampu tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asalkan mendapatkan pengelolaan yang baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu adalah tanah yang terbaik untuk pertumbuhan jagung. Untuk tanah yang bertekstur berat dapat dilakukan pengolahan secara optimal sehingga aerasi dan ketersediaan air dalam tanah berada dalam kodisi baik.
Kemasaman tanah juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan jagung karena ini berkaitan erat dengan ketersediaan hara dalam tanah. pH yang baik untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 5,5–7,0. Tanaman jagung juga akan tumbuh baik ada daerah dengan ketinggian 0–1300 m dpl. Tanah yang tingkat kemiringannya tidak lebih dari 8%, masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah kemiringan tanah, dengan maksud mencegah erosi tanah apabila ada hujan (Diniz dan Oliviera, 2009).
Pupuk yang sering diberikan untuk tanaman jagung adalah pupuk Urea, TSP dan KCl dengan kisaran Urea 200 kg/ha yang diberikan tiga kali tahapan 1/3 pada saat tanam, 1/3 pada waktu 30 hari dan / lainnya pada umur 40-45 hari.TSP sekitar 80 kg/ha dan KCl 50 kg/ha. TSP dan KCl diberikan sebagai pupuk dasar yang diberikan pada saat tanam dengan cara dibuat tugal di kiri dan kanan lubang tanam dengan jarak 5 cm dan kedalaman 10 cm (Bavec et al, 2011).
Oseni dan Masarirambi (2011) menyatakan bahwa bentuk P organik di dalam tanah sekitar 1% terdapat dalam mikroorganisme, berarti dalam 1 ton bahan organik P dapat dibebaskan 10 kg (setara degan 22 kg TSP) berarti terdapat 200 kg P-organik/ha/ton bahan organik. P organik ini terdistribusi paling besar di permukaan tanah dibandingkan dengan subsoil, karena sesuai akumulasi bahan organik tanah.
Fosfor (P) termasuk unsur hara makro yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman, namun kandungannya di dalam tanaman lebih rendah dibanding nitrogen (N), dan kalium (K). Tanaman menyerap P dari tanah dalam bentuk ion fosfat, terutama H2PO4- dan HPO42- yang terdapat dalam larutan tanah. Ion H2PO4- lebih banyak dijumpai pada tanah yang lebih masam, sedangkan pada pH yang lebih tinggi (>7) bentuk HPO42- lebih dominan. Di samping ion-ion tersebut, tanaman dapat menyerap P dalam bentuk asam nukleat, fitin, dan fosfohumat (Rukmana, 2005).






BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum Produksi Tanaman dengan judul acara “Teknik Produksi Tanaman Jagung” ini dilakukan pada hari Senin, 24 Oktober 2013 pada pukul 08.00 WIB - selesai, bertempat di lahan agroteknopark Universitas Negeri Jember desa jubung.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Benih kedelai
2. Tanah
3. Pupuk (urea, SP-36, KCl)
4. Tanah kering angin diayak.

3.2.2 Alat
1. Cangkul
2. Tugal
3. Roll meter
4. Tali rafia
5. Papan nama
6. Ayakan
7. Timba

3.3 Cara Kerja
1.  Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah, dan menjemur sampai kering angin.
3. Mengambil sampel tanah kemudian dianalisis sidik cepat untuk mengetahui kondisi tanah melalui pH, C-Organik, dan sifat fisik tanah.
4. Memasukkan tanah sebanyak 10 kg ke dalam polibag, untukperlakuan dengan penambahan BO berat tanah disesuaikan, kemudian menyiram dengan air.
5.  Menanam benih kedelai pada masing-masing perlakuan, satu lubang diisi 2 benih.
6.  Pemupukan SP-36 dan KCl serta penambahan bahan organik sesuai dengan dosis anjuran sidik cepat sedangkan untuk pupuk urea sesuai dengan perlakuan.
7.  Melakukan pengamatan secara rutin.















BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil
4.2    Pembahasan
Jagung tidak hanya digunakan untuk bahan pangan tetapi juga untuk pakan. Dalam beberapa tahun terakhir proposi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam 20 tahun ke depan, penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan bahkan setelah tahun 2020 lebih dari 60% dari total kebutuhan nasional. Ditinjau dari sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk berswasembada jagung dan bahkan berpeluang pula menjadi pemasok di pasar dunia mengingat makin meningkatnya permintaan dan makin menipisnya volume jagung di pasar internasonal.
Jagung memiliki potensi yang cukup besar, hal ini karena tanaman ini memiliki prospek yang cerah untuk diusahakan baik dari aspek budidaya maupun dari aspek peluang pasar. Dari aspek budidaya tanaman jagung tidak sulit untuk dibudidayakan. Tanaman jagung dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah. Yang terpenting dan sangat berhubungan erat dengan hasil jagung adalah tersedianya unsur hara NPK pada tanah tersebut. Untuk pertumbuhan yang lebih baik lagi, tanaman jagung memerlukan tanah yang subur, gembur dan kaya humus (Rukmana, 2005).
Demikian juga benih jagung telah banyak varietas-varietas unggul yang dilepas. Menurut Armando (2009), perkembangan daya hasil dari varietas-varietas unggul yang diadopsi petani telah terbukti memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional. Dari aspek peluang pasar tanaman jagung mempunyai prospek yang cerah untuk diusahakan, karena permintaan konsumen dalam negeri dan peluang ekspor yang terus meningkat.
Novriani (2010) mengemukakan bahwa prospek usahatani tanaman jagung cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Permintaan pasar dalam negeri dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan. Disamping itu juga prospek pasar produksi jagung semakin baik, karena didukung oleh adanya kesadaran gizi dan diversifikasi bahan makanan pada masyarakat. Demikian juga untuk keperluan bahan baku industri rumah tangga seperti emping jagung, wingko jagung dan produk jagung olahan lainnya dan untuk keperluan bahan baku pakan ternak, serta untuk ekspor memerlukan produk jagung dalam jumlah yang besar. Keadaan ini merupakan peluang pasar yang potensial bagi petani dalam mengusahakan tanaman jagung. Dengan demikian peningkatan produksi jagung baik kualitas maupun kuantitas sangat penting.
Adapun morfologi tanaman jagung sebagai berikut:
1.    Biji
Biji tanaman jagung dikenal sebagai kernel terdiri dari 3 bagian utama, yaitu dinding sel, endosperma, dan embrio. Bagian biji ini merupakan bagian yang terpenting dari hasil pemaneman. Bagian biji rata-rata terdiri dari 10% protein, 70% karbohidrat, 2.3% serat. Biji jagung juga merupakan sumber dari vitamin A dan E.
Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b) endosperm, sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya; dan (c) embrio (lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil.
Kulit biji merupakan bagian dari biji yang terdiri dari dua lapis sel yang menyelubungi biji yang disebut integumen. Pada biji yang telah masak, didnding sel telur (perikarp) melekat sangat erat pada kulit biji, sehingga perikarp dan kulit biji ini seolah-olah merupakan selaput tunggal. Kulit biji dan perikarp yang bersatu dan merupakan satu lapisan disebut hull yang merupakn cirikhas dari tanaman rumput-rumputan. Embrio dan endosperm yang merupakan sumber makanan terdiri dari yaitu eksternal dan internal. Bagian eksternal adalah endosperma, sedangkan bagian internal terdapat pada kotiledon atau skutellum. Skutellum merupakan penghubung yang terletak di bagian tengah kotiledon. Pada umumnya endosperm terdiri dari dua macam yaitu endosperm lunak dan endosperm keras. Kotiledon diselubungi oleh lapisan sel-sel tipis tipis yang disebut epithelium yang terletak di antara kotiledon dan endosperm. Koleoptil adalah adalah calon daun yang berfungsi untuk penetrasi ke atas permukaan tanah selama proses perkecambahan.
2.  Daun
Pada awal fase pertumbuhan, batang dan daun tidak bisa dibedakan secara jelas. Ini dikarenakan titik tumbuh masih dibawah tanah. Daun baru dapat dibedakan dengan batang ketika 5 daun pertama dalam fase pertumbuhan muncul dari tanah. Daun terbentuk dari pelepah dan daun (leaf blade & sheath). Daun muncul dari ruas-ruas batang. Pelepah daun muncul sejajar dengan batang. Pelepah daun bewarna kecoklatan yang menutupi hampir semua batang jagung.
Daun baru akan muncul  pada titik tumbuhnya. Titik tumbuh daun jagung berada pada ruas batang. Daun jagung berjumlah sekitar 20 helai tergantung  dari varietasnya. Sejalan dengan pertumbuhan jagung, diameter batang akan meningkat. Pertumbuhan diameter pada tanaman jagung menyebabkan 7-8 daun pada bagian bawah tanaman jagung mengalami kerontokan.
3.  Batang
Jagung berbentuk ruas. Ruas-ruas berjajat secara vertikal pada batang jagung. Pada tanaman jagung yang sudah tua, jarak antar ruas semakin berkurang.
Batang tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah 10-40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang. Batang memiliki dua fungsi yaitu sebagai tempat daun dan sebagai tempat pertukaran unsur hara. Unsur hara dibawa oleh pembuluh bernama  xilem  dan  floem. Floem bergerak dua arah dari atas kebawah dan dari bawah ke atas. Floem membawa sukrose menuju seluruh bagian tanaman  dengan bentuk cairan.

4.  Akar
Pada tanaman jagung, akar utama yang terluar berjumlah antara 20-30 buah. Akar lateral yang tumbuh dari akar utama mencapai ratusan dengan panjang 2,5-25 cm. Botani tanaman jagung termasuk tanaman monokotil (Warisno, 2008). Sistem perakaran tanaman jagung terdiri atas akar-akar seminal, koronal, dan akar udara. Akar utama muncul dan berkembang kedalam tanah saat benih ditanam. Pertumbuhan akar melambat ketika batang mulai muncul keluar tanah dan kemudian berhenti ketika tanaman jagung telah memiliki 3 daun.
Pertumbuhan akar kemudian dilanjutkan dengan pertumbuhan akar adventif yang berkembang pada ruas pertama tanaman jagung. Akar adventif yang tidak tumbuh dari radikula tersebut kemudian melebar dan menebal. Akar adventif kemudian berperan penting sebagai penegak tanaman dan penyerap unsur hara. Akar adventif juga ditemukan tumbuh pada bagian ruas ke 2 dan ke 3 batang, namun fungsi utamanya belum diketahui secara pasti.
5.  Bunga
Tanaman jagung memiliki bunga jantan dan betina yang letaknya terpisah. Bunga jantan terdapat pada malai bunga di ujung tanaman, sedangkan bunga betina  terdapat pada tongkol jagung. Tangkai kepala putik merupakan rambut yang terjumbai di ujung tongkol yang selalu dibungkus kelobot yang jumlahnya 6-14 helai. Pada bunga betina, terdapat sejumlah rambut yang ujungnya membelah dan jumlahnya cukup banyak (Warisno, 2008).
6.  Tongkol
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.
Pertumbuhan adalah proses perubahan pada makhluk hidup yang berupa pertambahan ukuran (volume, massa, dan tinggi). Ciri pertumbuhan adalah sel bertambah banyak, 2 selnya membesar, 3 bersifat irreversible. Perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan pada masing-masing individu. Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan:
1.  Cahaya merupakan factor utama sebagai sumber energy dalam fatosintesis untuk memproduksi tepung atau karbohidrat, namun cahaya juga sebagai penghambat pertumbuhan meninggi karena cahaya dapat mengurangi auksin.
2.  Suhu atau Temperatur, mempengaruhi pertumbuhan pada rproduksi tumbuhan . Perubahan temperature dari dingin atau panas mempengaruhi kemampuan fotosintesis ,translokasi, respirasi, dan transpirasi.
3.  Kelembaban , kondisi lembab menyebabkan banyak air yang diserap tumbuhan dan lebih sedikit yang di uapkan. Kondisi tersebut mendukung pemanjangan sel-sel.
4.  Air merupakan senyawa utama yang sangat dibutuhkan tumbuhan . Air berfungsi untuk fotosintesis , mengatifkan reaksi enzimatik, menjaga kelembaban dan membantu perkecambahan biji. Tanpa air reaksi kimia dalam sel tidak dapat berlangsung sehingga mengakibatkan kematian tumbuhan.
5.  Nutrisi (makanan) merupakan bahan baku utama untuk organism dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Seperti karbon, oksigen, hydrogen, nitrogen, sulfur, fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium. Jika tumbuhan kekurangan sebagian nutrisi itu maka akan mengalami defisien.
6.  Oksigen, berfungsi dalam reaksi metabolism tumbuhan karena oksigen penting dalam respirasi yang menghasilkan energy.
7.  Grafitasi, Bila cahaya mempengaruhi arah tumbuhan tunas maka pengaruhi bumi akan mempengaruhi pertumbuhan akar menuju ke pusat bumi. Arah gerak akar yang membumi disebut Geotropisme.
Jarak tanam dan populasi sangat mempengaruhi kerapatan daun. Semakin tinggi kerapatan daun maka jumlah cahaya yang masuk ke tanaman bagian bawah menjadi lebih sedikit. Penurunan jumlah cahaya yang masuk ini akan menurunkan laju fotosintesis. Akibatnya produksi biomassa akan menurun.
Ada beberapa macam Kendala yang dihadapi praktikan saaat mencoba membudidayakan Jagung. Kendala yang dialami adalah sebagai berikut:
Gulma
Pengendalian gulma seharusnya menjadin suatu keharusan pada budidaya jagung. Ini dikarenakan gulma yang tumbuh cepat menyesuaikan diri dengan cara bercocock tanam yang dilakukan. Umumnya pengendalian gulma hanya mengandalkan tangan sehingga terkadan kurang efisien karena butuh waktu dan tenaga lebih. Metode lain yang lebih mudah yakni secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. Apabila gulma dapat dikendaliakan pada masa awal pertumbuhan, tanaman akan mempunyai daa persaingan yang lebih tinggi dari pada pertumbuhan gulma. Perkecambahan biji dan saat awal perkembangan biji merupakan masa yang penting karena tanaman akan peka terhadap kompetisi gulma dalam daur hidup gulma.
Permasalahan gulma di kebun percobaan memang menjadi kendala yang cukup serius. Seperti yang diuraikan diatas pada awal pertumbuhan jagung gulma menjadi sulit dikendalikan karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan kurangnya perisapan dari praktikan untuk pencegahan kompetisi dari gulma terhadap tanaman jagung. Perlakuan penyiangan juga menjadi kurang efisien karena membutuhkan waktu yang cukup lama terlebih perkaluan ini hanya dilakukan seminggu sekali saat pelaksanaan praktikum. Gulma mulai dapat terkendali saat tanaman jagung sudah cukup dewasa, pada saat itu pertumbuhan jagung sudah dapat menekan pertumbuhan gulma yang ada di lahan.
Tanaman budidaya seperti jagung, selain memerlukan unsur hara dalam tanah juga memerlukan tambahan hara agar pertumbuhannya optimal.tidak dapat dipungkiri bahwa pemupukan mengambil peran yang cukup penting dalam budidaya tanaman semusim. Pemupukan harusla dilakuakan secara tepat baik dosis, cara dan waktu pemupukan agar dapat diserap tanaman secara maksimal.
Pemupukan sangat diperlukan bagi tanaman dalam penambahan nutrisi, utamanya N, P, dan K. N merupakan hara yang penting bagi tumbuhan, termasuk jagung. Nitrogen berpengaruh besar pada kuantitas jumlah helaipada tanaman jagung, yang secara tidak langsung berhubungan dengan kuantitas hasil panen. Dalam 1 hektar, tanaman jagung  membutuhkan 115 kg/ha. N dapat diperoleh dari pupuk organik atau  urea. Kekurangan N pada jagung  terlihat pada saat fase pertumbuhan awal. Tanaman yang kekurangan unsur tersebut akan akan bewarna kuning, dan ketika tanaman telah dewasa. Bagian daun yang tidak terkena sinar matahari akan menguning dan nampak terbakar.
P (phosporus) merupakan unsur hara makro yang penting bagi jagung. Pada tanaman Jagung, P harus diberkan  langsung pada saat penanaman benih ditanah. P merunpakan unsur hara yang diambil oleh  tanaman pada saat  muda (pertumbuhan). Hal itu disebabkan oleh  P sangat  berperan  penting bagi pertumbuhan akar. P dapat ditingkatkan pengambilannya oleh tanaman jagung secara organik jika terdapat mikoriza pada tanaman jagung. Kekuranan P diindikasikan dengan akar yang tidak kuat danpendek, serta daunnya melengkung tidak beraturan.
K adalah unsur yang sangat berperan penting dalam  pembungaan tanaman jagung. Sekitar 86% Kalium diserap oleh bunga. Dalam 1 hektar wilayah, jagung membutuhkan 75 kg. Kekurangan unsur K akan berdampak buruk pada biji jagung yang akan dipanen.


DAFTAR PUSTAKA

Armando, Y.G. 2009. Peningkatan Produktivitas Jagung pada Lahan Kering Utisol Melalui Penggunaan Bokashi Serbuk Gergaji Kayu. Akta Agrosia, 12(2): 124-129.

Bavec, O., Bavec, M., dan Fekonja, M. 2013. Organic And Mineral Nitrogen Fertilizers In Sweet Maize (Zea mays L. saccharata Sturt.) Production Under Temperate Climate. Zemdirbyste-Agriculture, 100(3): 243-150.

Dahlan dan Zaqi, A.P. 2008. Pengaruh Jarak Tanam Pagar Berganda Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung. Agrisistem. 4(2): 101-108.

Diniz, SPSS., dan Oliveira, R.C. 2009. Effects Of Fusaric Acid on Zea Mays L. Seedlings. Experimental Botany, 78(3): 155-160.

Novriani. 2010.  Alternatif Pengelolaan Unsur Hara P (Fosfor) Pada Budidaya Jagung. Agronobis, 2(3): 42-49.

Oseni, T.O., dan Masarirambi, M.T. 2011. Effect of Climate Change on Maize (Zea mays) Production and Food Security in Swaziland. Agric & Environ, 11(3): 385-391.

Rukmana, R. 2005. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta: Kanisius.

Saleh, W., Angela, F., dan Butarbutar, L. 2012. Budidaya Padi di Dalam Polibeg Dengan Irlgasl Bertekanan Untlik Antisipasi Pesatnya Perubahan Fungsi Lahan Sawah. Teknotan, 6(1): 692-699.

Suprapto., Zulaiha, S., dan Apriynto, D. 2012. Infestasi Beberapa Hama Penting Terhadap Jagung Hibrida Pengembangan Dari Jagung Local Bengkulu Pada Kondisi Input Rendah di Dataran Tinggi Andisol. Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingungan, 1(1): 15-28.


Warisno. 2008. Jagung Hibrida.Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar