BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Upaya
yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kendala tidak tersedianya unsur hara,
baik makro maupun mikro pada berbagai jenis tanah yang kurang subur adalah
dengan pemberian pupuk. Pemberian pupuk atau unsure hara ini selain diberikan
lewat tanah juga bias diberikan lewat daun. Kelebihan utama dari pemberian
pupuk dari daun yaitu penyerapan haranya lebih cepat dibandingkan pupuk yang
diberikan lewat akar. Karena saat ini banyak produk pupuk daun dengan berbagai
merek dagang dengan komposisi hara makro dan mikro yang bervariasi. Namun,
secara umum unsur hara yang dominan dalam pupuk daun adalah hara makro yang
ditambahkan dengan hara mikro, dalam arti bahwa hara makro sebagai pokok pemberian
unsur sedangkan hara mikro sebagai penambah atau penunjang dari hara makro.
Seperti contohnya pada tanaman sayur, maka pupuk daun yang diberikan harus
berkadar N yang tinggi. Beberapa contoh pupuk daun yang berkadar N tinggi
dengan kadar P dan K yang bervariasi banyak ditemukan di pasaran, seperti
Growmore 32-10-10 (32 % N, 10 % P dan 10 % K), Hyponex 25-5-10 (25 % N, 5 % P
dan 10 % K) atau Mamigro 25-6-6 (25 % N, 6 % P dan 6 % K).
Beragamnya
komposisi unsur unsur yang dikandung pupuk daun yang dijual di pasaran
tersebut, hal ini memerlukan suatu kajian yang ilmiah untuk mengaplikasikannya
pada tanaman karena masing masing tanaman mempunyai respon yang berbeda
kebutuhannya terhadap pupuk khususnya pada unsur hara. Peran utama dari unsur
N, P dan K bagi pertumbuhan tanaman yaitu unsur N sangat penting untuk
pertumbuhan vegetative tanaman karena dapat merangsang pertumbuhan secara
keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Ketersediaan unsur N adalah
penting saat pertumbuhan tanaman, karena N berperan dalam proses biokimia
tanaman. Sedangkan unsur P berperan untuk pembentukan sejumlah protein
tertentu, berperan dalam proses fotosintesis dan juga respirasisehingga sangat
berperan penting saat pertumbhan tanaman keseluruhan, selain itu juga dapat berperan
untuk memperbaiki sistem perakaran tanaman. Sedangkan unsur K merupakan unsur
yang berperan untuk membuat tanaman itu tumbuh tinggi. Apabila tanaman memiliki
kekurangan unsur maka tanaman tersebut menjadi kerdil.
Pupuk
adalah material yang sangat penting bagi tanaman yang berperan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman
sehingga memenuhi produksi tanaman tersebut dengan baik. Pemupukan dapat
dilakukan lewat daun, pupuk lewat daun yaiu dimana proses bahan dan juga unsur
yang diberikan melalui daun dan juga dan juga disemprotkan lewat kanopi atau
daun supaya menambah zat yang dibutuhkan oleh tanaman untuk memberikan hasil
yang optimal. Proses masuknya unsure hara melalui daun, terjadi karena adanya
difusi dan osmosis serta penetrasi melalui lubang yang disebut ektodesmata.
Ekdomesta ini merupakan suatu lubang atau pori yang berada disekitar stomata.
Kemungkinan lain melalui lubang stomata apabila pupuk yang di semprotkan lewat
daun tersebut menjadi gas atau uap.
1.2
Tujuan
1. Untuk
mengetahui respon pertumbuhan tanaman akibat pemberian pupuk lewat daun.
2. Untuk
mengetahui konsentrasi pemupukan lewat daun yang tepat (optimum) dengan dosis
yang sama pada tanaman.
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA
Penurunan kemampuan produksi dan
pro-duktivitas tanaman disebabkan karena pengelolaan tanaman oleh petani sangat
rendah, seperti pemupukan, pemangkasan, sanitasi kebun dan panen yang sering
terlambat. Kondisi yang demikian meng-akibatkan penurunan populasi tanaman per
satuan luas. Keberhasilan
peningkatan produksi dan produktivitas karena penggunaan pupuk kimia, disisi
lain berdampak pada perusakan dan pengurasan lahan serta lingkungan biotik
maupun abiotik melebihi kemampuan ekosistem tersebut untuk memulihkan dirinya.
Pengelolaan kesuburan tanah pada sitem ini hanya ditekankan pada penggantian
hara melalui penambahan pupuk anorganik secara berlebihan tanpa adanya upaya
untuk mempertahankan kesuburan tanah secara menyeluruh yang mencakup kesuburan
fisik, kimia maupun biologi tanah. Hal ini berdampak pada makin meluasnya
lahan-lahan krisis. Selain itu, subsidi harga untuk pupuk anorganik dari tahun
ke tahun terus meningkat, dari sisi distribusi pun sering bermasalah. Sering
terjadi disaat petani sangat membutuhkan pupuk selalu terjadi kelangkaan pupuk
(Nasaruddin dan Rosmawati, 2011).
Menyadari hal tersebut, maka telah
diupayakan bentuk-bentuk teknologi alternatif untuk menekan penggunaan pupuk
kimia dengan memanfaatkan materi atau pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk
yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan dan hewan. Pupuk organik sangat ramah
lingkungan sehingga tidak akan mengakibatkan kerusakan daya dukung lingkungan
termasuk aman bagi pengguna. Prihmantoro (2007) nengatakan bahwa pupuk organik
cair (POC) yaitu pupuk organik dalam sediaan cair. Unsur hara yang terkandung
didalamnya berbentuk larutan yang sangat halus sehingga sangat mudah diserap
oleh tanaman, sekalipun oleh bagian daun atau batangnya. Oleh sebab itu selain
dengan cara disiramkan pupuk jenis ini dapat digunakan langsung dengan cara
disemprotkan pada daun atau batang tanaman. Sumber bahan baku pupuk organik
tersedia dimana saja dengan jumlah yang melimpah yang semuanya dalam bentuk
limbah, baik limbah rumah tangga, rumah makan, pasar pertanian, peternakan,
maupun limbah organik jenis lain.
Menurut Lingga dan Marsonodalam Albert et al.,
(2008) pemupukan daunmemiliki beberapa kelebihan antara lain penyerapan
haralebih cepat, tidak merusak tanah dan dalam pupuk daunterkandung unsur-unsur
mikro yang dibutuhkan tumbuhan.Nurmas dan Putri (2011) menjelaskan pemupukan
Nitrogenterutama Urea melalui daun sangat efektif dan cepat terjadipenyerapan
ke dalam daun. Pemupukan unsur-unsur haramikro seperti Fe, Zn, Co, dan Mn
sering dilakukan melaluidaun karena unsur-unsur tersebut sangat miskin
dalamtanah. Selain itu pemupukan melalui daun juga untukmengatasi secara cepat
penyakit defi siensi hara. Penyerapanhara dan air melalui daun karena pada daun
tanamanterdapat mulut daun atau stomata. Lingga dan Marsono (2008) mengatakanjumlah
stomata sangat bervariasi baik pada daun yang samamaupun pada daun yang
berbeda. Variasi tersebut karenapengaruh lingkungan.
Sejalan dengan itu Menurut Sudarmono
(1997), Pertumbuhan suatu tanaman bergantung pada jumlah unsur hara yang
diberikan dan banyaknya unsur hara yang diambil oleh suatu tanaman itu
berpengaruh secara timbal balik. Kebutuhantanaman akan unsur hara dapat
diperoleh dari media tanam, namun biasanya unsur hara yang terdapat di dalam
media tanam tidak selalu lengkap sehingga kebutuhan tanaman tidak terpenuhi.
Untuk itu, diperlukan tambahan unsur hara berupa pupuk yang dapat diberikan
melalui tanah maupun melalui daun.
Syarifudin dalam Nurmas dan Putri
(2011) menyatakan bahwa pemberian pupuk melalui daun lebih efektif dibanding
melalui tanah. Hal ini disebabkan daun mampu menyerap pupuk sekitar 90 %,
sedangkan akar hanya mampu menyerap sekitar 10 %. Penerapan teknologi tepat guna seperti
penggunaan pupuk daun dan mulsa dapat menunjang pertumbuhan dan produksi
sayuran pada umumnya dan khususnya sayuran daun seperti bayam perlu
ditingkatkan agar supaya kebutuhan konsumsi sayuran minimum yang telah
direkomendasikan FAO dapat terpenuhi guna memenuhi konsumsi sayuran nasional
per kapita per tahun.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Liu
dan Shi (2013), menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk melalui daun pada
tanaman kedelai yang sebelumnya ditanami padi varietas Cisadane dan diberi mulsa
jerami padi secara berjalur diantara baris tanaman system double row, ternyata
menghasilkan berat kering brangkasan dan berat kering biji cenderung lebih
tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Selanjutnya, Balal et al., (2011)
menyatakan bahwa pemupukan lewat daun cenderung lebih berhasil pada tanaman
yang luas permukaan daunnya lebih lebar. Proses pemasukan unsur hara melalui
daun karena terjadi proses difusi dan osmosis lewat lubang stomata. Syarief dalam Sulistyono dan Widiwurjani (2012) menyatakan bahwa membuka dan
menutupnya stomata secara mekanis diatur oleh tekanan furgor. Prinsip kerja
stomata akan terbuka bila sel penutup mempunyai tekanan furgoe rendah,
penguapan dapat menurunkan tekanan furgor, sehingga prosentase pupuk yang diberikan
lewat daun akan menurun sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan
generatif tanaman, sehingga menurunkan jumlah buah total pada saat panen.
Pemberian pupuk sangat erat kaitannya
dengan fase pertumbuhan vegetatif dan generatif. Nitrogen merupakan unsur hara
utama tanaman bagi pertumbuhan tanaman, yang pada umumnya yang sangat
diperlukan untuk pembentukan atau per-tumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman,
seperti daun, batang dan akar. Fosfor dapat mempercepat serta memperkuat
pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa. Sedangkan kalium ber-peran
dalam pembentukan protein dan karbohidrat (Lingga dan Marsono, 2008).
BAB
3. METODOLOGI
3.1
Waktu dan tempat
Praktikum
Teknologi Inovasi Produksi Pertanian dengan acara Respon Tanaman Terhadap Pemupukan
Lewat Daun (Foliar Feeding)
dilaksanakan mulai tanggal 26 Oktober 2013 jam 13.00 WIB sampai selesai.
Bertempat di Laboraturium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas
Negeri Jember.
3.2
Alat dan bahan
3.2.1 Alat
1. Polibag (60 x 40 cm)
2. Timbangan
3. Sprayer 1000 ml
4. Pipet
5. gelas ukur
6. Beaker glass
3.2.2 Bahan
1. Bibit tanaman sawi umur 2 minggu
2. Pupuk daun bypolan
3. Pasir steril
4. Aquadest
3.3
Cara kerja
1. Mempersiapkan alat dan bahan praktikum.
2. Mengisi polybag dengan 5 kg pasir
steril dan menanam bibit sawi yang berumur 2 minggu.
3. Menyiapkan pupuk daun dengan 4
perlakuan, yaitu 0 ml/l; 1,5 ml/l; 3 ml/l; 4,5 ml/l aquadest dan menyemprotkan
secara merata pada tiap tiap perlakuan pada interval 3 hari (satu kali aplikasi
peyemprotan) selama 1 bulan.
4. Menyiram konsentrasi 0 ml/l
(control); 1,5 ml/l; 3 ml/l; 4,5 ml/l dua kali sehari dengan interval 3 hari.
5. Melakukan pemeliharaan dan
pemberantasan hama dan penyakit yang mungkn menyerang.
BAB
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
4.1.1 Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm)
|
HST
|
PERLAKUAN
|
|||
|
|
0 ml/l
|
1,5
ml/l
|
3 ml/l
|
4.5
ml/l
|
|
0
|
2,68
|
2,92
|
5,25
|
2,83
|
|
3
|
3,33
|
8,42
|
7,8
|
8,23
|
|
6
|
10,92
|
11,48
|
10,58
|
12,12
|
|
9
|
12,25
|
13,1
|
12,53
|
13,92
|
|
12
|
16,68
|
15,63
|
11,92
|
15,52
|
|
15
|
14,12
|
16,5
|
14,58
|
17,08
|
|
18
|
14,58
|
17,58
|
16,1
|
17,78
|
|
21
|
17,67
|
18,5
|
16,73
|
18,83
|
|
24
|
17,2
|
17,08
|
16,08
|
20,2
|
4.1.2 Tabel pengamatan rerata panjang daun
|
HST
|
PERLAKUAN
|
|||
|
|
0 ml/l
|
1,5 ml/l
|
3 ml/l
|
4.5 ml/l
|
|
0
|
1,67
|
1,68
|
1,51
|
3,05
|
|
3
|
2,3
|
2,03
|
2,21
|
2,5
|
|
6
|
3,8
|
4,9
|
3,28
|
3,95
|
|
9
|
4,5
|
3,9
|
3,36
|
4,18
|
|
12
|
5,82
|
7,63
|
3,7
|
4,09
|
|
15
|
4,96
|
5,43
|
4,22
|
5,34
|
|
18
|
5,31
|
5,85
|
4,62
|
5,36
|
|
21
|
7,15
|
6,47
|
8,67
|
6,9
|
|
24
|
5,57
|
6,48
|
5,02
|
6,67
|
4.1.3 Tabel rerata jumlah daun
|
HST
|
PERLAKUAN
|
|||
|
|
0 ml/l
|
1,5 ml/l
|
3 ml/l
|
4.5 ml/l
|
|
0
|
5,83
|
6,3
|
6,3
|
6,3
|
|
3
|
7,3
|
7,3
|
7,5
|
8,2
|
|
6
|
8,2
|
7,67
|
6,3
|
6,3
|
|
9
|
8,83
|
8,67
|
8
|
8,67
|
|
12
|
7,5
|
8,83
|
8,67
|
9,3
|
|
15
|
7,5
|
8,67
|
8
|
10,83
|
|
18
|
7,83
|
9,5
|
8,3
|
10,67
|
|
21
|
7,5
|
10,5
|
8,5
|
9,3
|
|
24
|
8,83
|
12
|
9,5
|
11,67
|
Tabel panjang akar (cm)
|
HST
|
PERLAKUAN
|
|||
|
0
ml/l
|
1,5
ml/l
|
3
ml/l
|
4.5
ml/l
|
|
|
H24
|
13,72
|
14,5
|
12
|
12,6
|
4.2
Pembahasan
4.2.1 Rerata
Tinggi Tanaman (cm)

4.2.2 Grafik Rerata Panjang Daun (cm)

4.2.3 Grafik Rerata Jumlah Daun

4.2.4 Grafik Rerata Panjang Akar (cm)

4.2
Pembahasan
Dari
data yang diperoleh dalam praktikum respon tanaman terhadap pemupukan lewat
daun, diperoleh data bahwa tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, dan
panjang akar bahwa pada perlakuan pemberian larutan 4,5 ml/l pertumbuhan dapat
dikatakan stabil dalam tingkatan pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan
bahwa pada pertumbuhan dan perkembangan yang paling maksimal dapat dilihat pada
perlakuan pemberian larutan 3 ml/l dalam tinggi tanaman, panjang daun, lebar
daun dan panjang akar karena pada pemberian konsentrasi pemberian pupuk 3 ml/l
memberikan kebutuhan pokok unsure hara terpenuhi yang dapat mendukung proses
fisiologis tumbuhan. Apabila pemberian konsentrasi lebih maka akan menimbulkan
dampak kematian atau kelayuan pada tanaman, apabila pemberian pada konsentrasi
rendah akan memberikan dampak yang kurang efektif pada pertumbuhan dan
perkembangan pada tanaman seperti yang dijelaskan pada data hasil di atas.
Pada
tabael 4.1.1 dan grafik 4.2.1 didapatkan data untuk rata-rata keseluruhan dari
data tinggi tanpa perlakuan dari keseluruhan hari pengamatan adalah 12,15 cm.
Untuk rata-rata keseluruhan dari data tinggi tanaman perlakuan 1,5 ml/l dari
keseluruhan hari pengamatan adalah 13,46 cm. Untuk rata-rata keseluruhan dari
data tinggi tanaman perlakuan 3 ml/l dari keseluruhan hari pengamatan adalah
12,39 cm. Untuk rata-rata keseluruhan dari data tinggi tanaman perlakuan 4,5
ml/l dari keseluruhan hari pengamatan adalah 42,17 cm. Dari data yang telah
didapat, perlakuan untuk tinggi tanaman yang paling baik adalah perlakuan
dengan pemberian pupuk daun sebanyak 4,5 ml/l.
Pada tabel 4.1.2 dan grafik
4.2.2 didapatkan data rerata panjang daun pada kesempatan pengamatan
menunjukan hasil yang sangat dinamis, naik turunya grafik panjang daun dapat
disebabkan dengan jumlah daun dan panjang daun yang dibagi sehingga jika pada
pengamtan selanjutnya terdapat daun yang gugur maka mempengaruhi hasil data
yang diperoleh. Namun perlakuan 3 ml/l dan 4,5 ml/l dianggap memilki
peningkatan panjang daun yang lebih baik meskipun pada perlakuan 3 ml/l sempat
mengalami penurunan pada hari akhir, namun itu bisa diasumsikan bahwa terdapat
daun yang rontok sehingga mempengari hasil atau data yang dipeoleh. Sedang
perlakuan 4,5 ml/l, peningkatan panjang daunnya lebih stabil pada setiap waktu
pengamatan. Meskipun hasil data dari penghitunga kontrol ini sangat sulit untuk
menentukan perlakuan mana yang terbaik, namun perlakuan 4,5 ml/l masih bisa
dianggap perlakuan yang lebih baik dari perlakuan lainnya. Alasannya perlakukan dengan pemberian pupuk
dengan konsentrasi 4 ml/l menunjukan hasil yang stabil dari pada perlakuan
lainnya.
Pada
tabel 4.1.3 dan grafik 4.2.3 pada parameter pengamatan jumlah dapat diketahui
dari grafik diatasa bahwa semua perlakuan terdapat rata-rata jumlah daun yang
berbeda-beda. Namun perlakuan yang paling baik terdapat pada perlakuan yang
menggunakan pemupukan lewat daun pada konsentrasi 3 ml/l, dari hari pertama
sampai pada hasil akhir terdapat rata-rata nilai jumlah daun mendapatkaan hasil
yang stabil serta mendapat hasil akhir yang paling tinggi. Hal tersebut dapat
dikatakan bahwa pemupukan lewat daun dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
serta pada daun tanaman. Sedangkan perlakuan yang paling buruk yaitu pada
perlakuan kontrol karena hasil rata-rata jumlah daun tidak stabil dan
terdapatnya nilai naik turun dari hasil pengamatan pada H-9 sampai H-24.
Perlakuan kontrol tidak mendapat pupuk daun hanya saja disiram menggunakan air
biasa sehingga pertumbuhannya biasa-biasa saja. Pada hasil akhir (H-24) pada
perlakuan kontrol mendapatkan hasil terendah dari pada perlakuan yang lain.
Padat tabel 4.1.4 dan grafik 4.2.4 pada
parameter panjang akar diketahui rerata panjang akar pada setiap ulangan
perlakuan, yaitu pada perlakuan kontrol dengan panjang akar 13,7 cm, dan
perlakuan 1,5 ml/l dengan panjang akar 14,67 cm. selanjutnya pada perlakuan 3
ml/l dengan panjang akar 11,92 cm. Dari data tersebut dapat diasumsikan bahwa akar tanaman
kontrol dan 1,5 ml/l memiliki usaha yang lebih tinggi untuk memperoleh nutrisi
dalam akar, karena pupuk yang diberikan lewat daun masih kurang mencukupi,
sedangkan perlakuan 3 ml/l dan 4,5 ml/l memiliki panjang akar yang relatif
lebih pendek, hal ini dikarenakan daun pada tanaman telah menerima nutrisi
lebih banyak, sehingga usaha atau fentrasi akar
untuk mencari sumber hara tidak terlalu besar, maka dari itu panjang
akarnya relatif pendek
Pemupukan
melalui daun memberikan pengaruh yang lebih cepat terhadap tanaman dibanding
lewat akar. Kecepatan penyerapan hara juga dipengaruhi oleh status hara dalam
tanah. Bila kadar hara dalam tanah rendah maka penyerapan unsur hara melalui
daun relatif lebih cepat dan sebaliknya bila kadar hara dalam tanah tinggi maka
penyerapan unsur hara melalui daun relative rendah. Pupuk daun merupakan pupuk organik yang
mengandung unsur makro dan mikro (tunggal dan majemuk) dalam bentuk padat atau
cair yang dapat langsung diserap oleh daun tanaman Pupuk daun diberikan dengan
cara menyemprotkan pupuk lewat daun.
Tentunya dengan dosis yang sesuai dengan tanamannya. Ada satu kelebihan
pemberian pupuk lewat daun, yaitu penyerapan haranya jadi lebih cepat
dibandingkan pupuk yang diberikan lewat akar. Berikut kelebihan pemberian pupuk
lewat daun dibandingkan lewat akar pupuk daun dapat memberikan hara sesuai
kebutuhan tanaman. Hara yang dibutuhkan
tanaman memang relatif sedikit, tapi bersifat kontinyu. Sebab itu, pupuk daun diberikan lebih sering
tapi dosisnya rendah, pupuk yang diberikan lewat tanah tidak seluruhnya
mencapai akar tanaman karena adanya beberapa kedala, baik dari sifat kimia
pupuk maupun sifat tanah, kelarutan pupuk daun lebih baik dibandingkan pupuk
lewat tanah, pengaruh kekurangan hara berlangsung lebih cepat dibandingkan
pupuk akar, pemberiannya dapat lebih merata, kepekatannya dapat diatur sesuai
pertumbuhan tanaman. Meskipun pupuk daun mempunyai banyak kelebihan, tetap saja
dalam penggunaannya terdapat kekurangan. Beberapa kekurangannya adalah sebagai
berikut bila dosis pemupukannya salah (misalnya terlalu tinggi), maka daun akan
rusak, terutama sering terjadi pada musim kering, tidak semua pupuk daun dapat
digunakan untuk tanaman yang langsung dikonsumsi seperti sayuran atau buah
berkulit tipis. Akibatnya kita harus
lebih selektif memilih jenis pupuk daun yang diizinkan untuk tanaman tersebut,
biaya yang digunakan lebih mahal.
Disamping harga pupuk daun lebih mahal dari pupuk akar, dalam
pengaplikasiannya pun perlu peralatan khusus.
Pada
awal pemunculan pupuk daun, dikatakan penyerapan unsur hara dilakukan melalui
stomata daun. Tapi hal ini kemudian diralat, karena ternyata stomata hanya bisa
dilalui gas. Kemudian berkembang isu lain, penyerapan dilakukan melalui
permukaan daun (sel epidermis dan kultikula), yang bentuknya seperti tenunan.
Faktanya, kebanyakan permukaan daun tanaman diselimuti oleh lapisan minyak,
lilin, dan bahkan ditumbuhi bulu-bulu halus. Keadaan yang tentunya akan menjadi
faktor penghambat masuknya unsur hara melalui daun. Memang daun, atau bahkan
batang tanaman dapat menyerap unsur hara, namun demikian akar tetap saja lebih
efektip dan efisien dalam menyerap unsur hara. Dalam beberapa kasus, memang
unsur hara seperti K, dan Ca gampang masuk ke jaringan tanaman malalui daun dan
bahkan batang tanaman. Tapi bukan berarti semua unsur hara lebih gampang
diserap tanaman melalui bagian tanaman di luar akar. Bila penggunaan pupuk akar
sulit diaplikasikan, misal pada tanaman epifit, seperti kebanyakan tanaman
anggrek. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa pupuk daun sangat populer dan banyak
digunakan di kalangan pecinta anggrek. Tanaman yang baru saja mengalami pruning
akar, pemindahan pot, atau kondisi-kondisi dimana untuk sementara waktu akar
sulit berlaku sebagaimana mestinya, pupuk daun akan sangat membantu dan
bermanfaat (Sudarmono, 1997).
Upaya
yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kendala tidak tersedianya unsur hara,
baik makro maupun mikro pada berbagai jenis tanah yang kurang subur adalah
dengan pemberian pupuk. Pemberian pupuk atau unsure hara ini selain diberikan
lewat tanah juga bias diberikan lewat daun. Kelebihan utama dari pemberian
pupuk dari daun yaitu penyerapan haranya lebih cepat dibandingkan pupuk yang
diberikan lewat akar. Karena saat ini banyak produk pupuk daun dengan berbagai
merek dagang dengan komposisi hara makro dan mikro yang bervariasi. Namun,
secara umum unsur hara yang dominan dalam pupuk daun adalah hara makro yang
ditambahkan dengan hara mikro, dalam arti bahwa hara makro sebagai pokok
pemberian unsur sedangkan hara mikro sebagai penambah atau penunjang dari hara
makro. Seperti contohnya pada tanaman sayur, maka pupuk daun yang diberikan
harus berkadar N yang tinggi maka dari itu pemupukan daun ini dapat dikatan
sebagai teknik inovasi dalam pengelolahan pertanian.
BAB
5. KESIMPULAN
Dari
praktikum respon tanaman terhadap pemupukan lewat daun dapat ditarik kesimpulan
bahwa :
1. Dari
data diatas perlakuan terbaik pada perlakuan dengan konsentrasi 3 ml/l ,hal ini
dikarenakan semakin tinggi konsentrasi yang diberikan akan menambah jumlah daun
tanaman, akan tetapi jika telah mencapai titik optimum maka konsentrasi pupuk
daun akan mengakibatkan tanaman mengalami pengguguran daun dan lama-kelamaan
akan mati.
2. Pada
pemupukan lewat daun pemberian dosis yang berlebihan maka akan mengakibatkan
sel sel daun akan rusak dan layu, apabila pemberian dosis yang sedikit maka
tidak akan terjadi proses apa-apa atau kurang efektif.
3. Hasil
berbeda dari setiap kelompok dengan perlakuan yang sama terjadi karena pengaruh
factor lain, misalnya intensitas penyiraman dan perawatan tanaman atau
kesalahan dalam pengukuran tinggi tanaman.
5.2
Saran
Dalam
pengamatan praktikum kali ini seharusnya praktikan dalam melakukan pengukuran
sebaiknya mengetahui cara mengukur parameter yang telah disesuaikan supaya
tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran, sehingga tidak terjadi perbedaan cara
pengukuran antar praktikan pada saat waktu pengamatan nantinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Albert, H.W., Syarif, F., dan Budiardjo. 2008. Peranan
Pohon Induk dan Pengaruh Pemupukan Daun Terhadap Pola
Pertumbuhan Semai Cendana (Santalum album L.). Panel Hayati, 14(1): 55-61.
Balal, R.M., et
al. 2011. Effects of Phosphorus Fertilization on Growth, Leaf Mineral
Concentration and Xylem-Phloem Nutrient Mobility in Two Rootstocks of Prunus (Prunus
persica × Prunus amygdalus) and (Prunus insititia) In The Mediterranean
Area. Crop Science, 5(12): 1542-1549.
Lingga, P., dan Marsono. 2008.Petunjuk Penggunaan Pupuk. Depok: Penebar Swadaya.
Liu, D., dan Shi,
Y. 2012.Effects of Controlled Release Fertilizer on the Flag Leaves Senescence
in Dry-land Wheat. Food Science and
Technology, 5(5): 557-560.
Nasaruddin dan Rosmawati. 2011.Pengaruh Pupuk
Organik Cair (POC) Hasil Fermentasi Daun Gamal, Batang Pisang dan Sabut Kelapa
Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao. Agrisistem, 7(1): 29-37.
Nurmas,
A., dan Putri, S.F. 2011. Pengaruh
Jenis Pupuk Daun dan Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) Varietas Bisi. Agroteknos, 1(2): 89-95.
Prihmatoro, H. 2007. Memupuk Tanaman Sayur. Depok: Penebar Swadaya.
Sudarmono, A. 1997.
Mengenal dan Merawat Tanaman Hias
Ruangan. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar