Minggu, 04 Oktober 2015

Respon Tanaman Terhadap Pemupukan Lewat Daun (Foliar Feeding)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kendala tidak tersedianya unsur hara, baik makro maupun mikro pada berbagai jenis tanah yang kurang subur adalah dengan pemberian pupuk. Pemberian pupuk atau unsure hara ini selain diberikan lewat tanah juga bias diberikan lewat daun. Kelebihan utama dari pemberian pupuk dari daun yaitu penyerapan haranya lebih cepat dibandingkan pupuk yang diberikan lewat akar. Karena saat ini banyak produk pupuk daun dengan berbagai merek dagang dengan komposisi hara makro dan mikro yang bervariasi. Namun, secara umum unsur hara yang dominan dalam pupuk daun adalah hara makro yang ditambahkan dengan hara mikro, dalam arti bahwa hara makro sebagai pokok pemberian unsur sedangkan hara mikro sebagai penambah atau penunjang dari hara makro. Seperti contohnya pada tanaman sayur, maka pupuk daun yang diberikan harus berkadar N yang tinggi. Beberapa contoh pupuk daun yang berkadar N tinggi dengan kadar P dan K yang bervariasi banyak ditemukan di pasaran, seperti Growmore 32-10-10 (32 % N, 10 % P dan 10 % K), Hyponex 25-5-10 (25 % N, 5 % P dan 10 % K) atau Mamigro 25-6-6 (25 % N, 6 % P dan 6 % K).
Beragamnya komposisi unsur unsur yang dikandung pupuk daun yang dijual di pasaran tersebut, hal ini memerlukan suatu kajian yang ilmiah untuk mengaplikasikannya pada tanaman karena masing masing tanaman mempunyai respon yang berbeda kebutuhannya terhadap pupuk khususnya pada unsur hara. Peran utama dari unsur N, P dan K bagi pertumbuhan tanaman yaitu unsur N sangat penting untuk pertumbuhan vegetative tanaman karena dapat merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Ketersediaan unsur N adalah penting saat pertumbuhan tanaman, karena N berperan dalam proses biokimia tanaman. Sedangkan unsur P berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam proses fotosintesis dan juga respirasisehingga sangat berperan penting saat pertumbhan tanaman keseluruhan, selain itu juga dapat berperan untuk memperbaiki sistem perakaran tanaman. Sedangkan unsur K merupakan unsur yang berperan untuk membuat tanaman itu tumbuh tinggi. Apabila tanaman memiliki kekurangan unsur maka tanaman tersebut menjadi kerdil.
Pupuk adalah material yang sangat penting bagi tanaman yang berperan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman sehingga memenuhi produksi tanaman tersebut dengan baik. Pemupukan dapat dilakukan lewat daun, pupuk lewat daun yaiu dimana proses bahan dan juga unsur yang diberikan melalui daun dan juga dan juga disemprotkan lewat kanopi atau daun supaya menambah zat yang dibutuhkan oleh tanaman untuk memberikan hasil yang optimal. Proses masuknya unsure hara melalui daun, terjadi karena adanya difusi dan osmosis serta penetrasi melalui lubang yang disebut ektodesmata. Ekdomesta ini merupakan suatu lubang atau pori yang berada disekitar stomata. Kemungkinan lain melalui lubang stomata apabila pupuk yang di semprotkan lewat daun tersebut menjadi gas atau uap.

1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman akibat pemberian pupuk lewat daun.
2.      Untuk mengetahui konsentrasi pemupukan lewat daun yang tepat (optimum) dengan dosis yang sama pada tanaman.





BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Penurunan kemampuan produksi dan pro-duktivitas tanaman disebabkan karena pengelolaan tanaman oleh petani sangat rendah, seperti pemupukan, pemangkasan, sanitasi kebun dan panen yang sering terlambat. Kondisi yang demikian meng-akibatkan penurunan populasi tanaman per satuan luas. Keberhasilan peningkatan produksi dan produktivitas karena penggunaan pupuk kimia, disisi lain berdampak pada perusakan dan pengurasan lahan serta lingkungan biotik maupun abiotik melebihi kemampuan ekosistem tersebut untuk memulihkan dirinya. Pengelolaan kesuburan tanah pada sitem ini hanya ditekankan pada penggantian hara melalui penambahan pupuk anorganik secara berlebihan tanpa adanya upaya untuk mempertahankan kesuburan tanah secara menyeluruh yang mencakup kesuburan fisik, kimia maupun biologi tanah. Hal ini berdampak pada makin meluasnya lahan-lahan krisis. Selain itu, subsidi harga untuk pupuk anorganik dari tahun ke tahun terus meningkat, dari sisi distribusi pun sering bermasalah. Sering terjadi disaat petani sangat membutuhkan pupuk selalu terjadi kelangkaan pupuk (Nasaruddin dan Rosmawati, 2011).
Menyadari hal tersebut, maka telah diupayakan bentuk-bentuk teknologi alternatif untuk menekan penggunaan pupuk kimia dengan memanfaatkan materi atau pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan dan hewan. Pupuk organik sangat ramah lingkungan sehingga tidak akan mengakibatkan kerusakan daya dukung lingkungan termasuk aman bagi pengguna. Prihmantoro (2007) nengatakan bahwa pupuk organik cair (POC) yaitu pupuk organik dalam sediaan cair. Unsur hara yang terkandung didalamnya berbentuk larutan yang sangat halus sehingga sangat mudah diserap oleh tanaman, sekalipun oleh bagian daun atau batangnya. Oleh sebab itu selain dengan cara disiramkan pupuk jenis ini dapat digunakan langsung dengan cara disemprotkan pada daun atau batang tanaman. Sumber bahan baku pupuk organik tersedia dimana saja dengan jumlah yang melimpah yang semuanya dalam bentuk limbah, baik limbah rumah tangga, rumah makan, pasar pertanian, peternakan, maupun limbah organik jenis lain.
Menurut Lingga dan Marsonodalam Albert et al., (2008) pemupukan daunmemiliki beberapa kelebihan antara lain penyerapan haralebih cepat, tidak merusak tanah dan dalam pupuk daunterkandung unsur-unsur mikro yang dibutuhkan tumbuhan.Nurmas dan Putri (2011) menjelaskan pemupukan Nitrogenterutama Urea melalui daun sangat efektif dan cepat terjadipenyerapan ke dalam daun. Pemupukan unsur-unsur haramikro seperti Fe, Zn, Co, dan Mn sering dilakukan melaluidaun karena unsur-unsur tersebut sangat miskin dalamtanah. Selain itu pemupukan melalui daun juga untukmengatasi secara cepat penyakit defi siensi hara. Penyerapanhara dan air melalui daun karena pada daun tanamanterdapat mulut daun atau stomata. Lingga dan Marsono (2008) mengatakanjumlah stomata sangat bervariasi baik pada daun yang samamaupun pada daun yang berbeda. Variasi tersebut karenapengaruh lingkungan.
Sejalan dengan itu Menurut Sudarmono (1997), Pertumbuhan suatu tanaman bergantung pada jumlah unsur hara yang diberikan dan banyaknya unsur hara yang diambil oleh suatu tanaman itu berpengaruh secara timbal balik. Kebutuhantanaman akan unsur hara dapat diperoleh dari media tanam, namun biasanya unsur hara yang terdapat di dalam media tanam tidak selalu lengkap sehingga kebutuhan tanaman tidak terpenuhi. Untuk itu, diperlukan tambahan unsur hara berupa pupuk yang dapat diberikan melalui tanah  maupun melalui daun. Syarifudin dalam Nurmas dan Putri (2011) menyatakan bahwa pemberian pupuk melalui daun lebih efektif dibanding melalui tanah. Hal ini disebabkan daun mampu menyerap pupuk sekitar 90 %, sedangkan akar hanya mampu menyerap sekitar 10 %.  Penerapan teknologi tepat guna seperti penggunaan pupuk daun dan mulsa dapat menunjang pertumbuhan dan produksi sayuran pada umumnya dan khususnya sayuran daun seperti bayam perlu ditingkatkan agar supaya kebutuhan konsumsi sayuran minimum yang telah direkomendasikan FAO dapat terpenuhi guna memenuhi konsumsi sayuran nasional per kapita per tahun.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Liu dan Shi (2013), menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk melalui daun pada tanaman kedelai yang sebelumnya ditanami padi varietas Cisadane dan diberi mulsa jerami padi secara berjalur diantara baris tanaman system double row, ternyata menghasilkan berat kering brangkasan dan berat kering biji cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Selanjutnya, Balal et al., (2011) menyatakan bahwa pemupukan lewat daun cenderung lebih berhasil pada tanaman yang luas permukaan daunnya lebih lebar. Proses pemasukan unsur hara melalui daun karena terjadi proses difusi dan osmosis lewat lubang stomata. Syarief dalam Sulistyono dan Widiwurjani (2012) menyatakan bahwa membuka dan menutupnya stomata secara mekanis diatur oleh tekanan furgor. Prinsip kerja stomata akan terbuka bila sel penutup mempunyai tekanan furgoe rendah, penguapan dapat menurunkan tekanan furgor, sehingga prosentase pupuk yang diberikan lewat daun akan menurun sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, sehingga menurunkan jumlah buah total pada saat panen.
Pemberian pupuk sangat erat kaitannya dengan fase pertumbuhan vegetatif dan generatif. Nitrogen merupakan unsur hara utama tanaman bagi pertumbuhan tanaman, yang pada umumnya yang sangat diperlukan untuk pembentukan atau per-tumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Fosfor dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa. Sedangkan kalium ber-peran dalam pembentukan protein dan karbohidrat (Lingga dan Marsono, 2008).



BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat
Praktikum Teknologi Inovasi Produksi Pertanian dengan acara Respon Tanaman Terhadap Pemupukan Lewat Daun (Foliar Feeding) dilaksanakan mulai tanggal 26 Oktober 2013 jam 13.00 WIB sampai selesai. Bertempat di Laboraturium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember.

3.2 Alat dan bahan
3.2.1 Alat
1. Polibag (60 x 40 cm)
2. Timbangan
3. Sprayer 1000 ml
4. Pipet
5. gelas ukur
6. Beaker glass

3.2.2 Bahan
1. Bibit tanaman sawi umur 2 minggu
2. Pupuk daun bypolan
3. Pasir steril
4. Aquadest

3.3 Cara kerja
1. Mempersiapkan alat dan bahan praktikum.
2. Mengisi polybag dengan 5 kg pasir steril dan menanam bibit sawi yang berumur 2 minggu.
3. Menyiapkan pupuk daun dengan 4 perlakuan, yaitu 0 ml/l; 1,5 ml/l; 3 ml/l; 4,5 ml/l aquadest dan menyemprotkan secara merata pada tiap tiap perlakuan pada interval 3 hari (satu kali aplikasi peyemprotan) selama 1 bulan.
4. Menyiram konsentrasi 0 ml/l (control); 1,5 ml/l; 3 ml/l; 4,5 ml/l dua kali sehari dengan interval 3 hari.
5. Melakukan pemeliharaan dan pemberantasan hama dan penyakit yang mungkn menyerang.




BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm)
HST
PERLAKUAN

0 ml/l
1,5 ml/l
3 ml/l
4.5 ml/l
0
2,68
2,92
5,25
2,83
3
3,33
8,42
7,8
8,23
6
10,92
11,48
10,58
12,12
9
12,25
13,1
12,53
13,92
12
16,68
15,63
11,92
15,52
15
14,12
16,5
14,58
17,08
18
14,58
17,58
16,1
17,78
21
17,67
18,5
16,73
18,83
24
17,2
17,08
16,08
20,2

4.1.2 Tabel pengamatan rerata panjang daun
HST
PERLAKUAN

0 ml/l
1,5 ml/l
3 ml/l
4.5 ml/l
0
1,67
1,68
1,51
3,05
3
2,3
2,03
2,21
2,5
6
3,8
4,9
3,28
3,95
9
4,5
3,9
3,36
4,18
12
5,82
7,63
3,7
4,09
15
4,96
5,43
4,22
5,34
18
5,31
5,85
4,62
5,36
21
7,15
6,47
8,67
6,9
24
5,57
6,48
5,02
6,67

4.1.3 Tabel rerata jumlah daun
HST
PERLAKUAN

0 ml/l
1,5 ml/l
3 ml/l
4.5 ml/l
0
5,83
6,3
6,3
6,3
3
7,3
7,3
7,5
8,2
6
8,2
7,67
6,3
6,3
9
8,83
8,67
8
8,67
12
7,5
8,83
8,67
9,3
15
7,5
8,67
8
10,83
18
7,83
9,5
8,3
10,67
21
7,5
10,5
8,5
9,3
24
8,83
12
9,5
11,67

Tabel panjang akar (cm)
HST
PERLAKUAN
0 ml/l
1,5 ml/l
3 ml/l
4.5 ml/l
H24
13,72
14,5
12
12,6

4.2    Pembahasan
4.2.1 Rerata Tinggi Tanaman (cm)




4.2.2 Grafik Rerata Panjang Daun (cm)
4.2.3 Grafik Rerata Jumlah Daun
4.2.4 Grafik Rerata Panjang Akar (cm)
4.2 Pembahasan
Dari data yang diperoleh dalam praktikum respon tanaman terhadap pemupukan lewat daun, diperoleh data bahwa tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, dan panjang akar bahwa pada perlakuan pemberian larutan 4,5 ml/l pertumbuhan dapat dikatakan stabil dalam tingkatan pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan bahwa pada pertumbuhan dan perkembangan yang paling maksimal dapat dilihat pada perlakuan pemberian larutan 3 ml/l dalam tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun dan panjang akar karena pada pemberian konsentrasi pemberian pupuk 3 ml/l memberikan kebutuhan pokok unsure hara terpenuhi yang dapat mendukung proses fisiologis tumbuhan. Apabila pemberian konsentrasi lebih maka akan menimbulkan dampak kematian atau kelayuan pada tanaman, apabila pemberian pada konsentrasi rendah akan memberikan dampak yang kurang efektif pada pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman seperti yang dijelaskan pada data hasil di atas.
Pada tabael 4.1.1 dan grafik 4.2.1 didapatkan data untuk rata-rata keseluruhan dari data tinggi tanpa perlakuan dari keseluruhan hari pengamatan adalah 12,15 cm. Untuk rata-rata keseluruhan dari data tinggi tanaman perlakuan 1,5 ml/l dari keseluruhan hari pengamatan adalah 13,46 cm. Untuk rata-rata keseluruhan dari data tinggi tanaman perlakuan 3 ml/l dari keseluruhan hari pengamatan adalah 12,39 cm. Untuk rata-rata keseluruhan dari data tinggi tanaman perlakuan 4,5 ml/l dari keseluruhan hari pengamatan adalah 42,17 cm. Dari data yang telah didapat, perlakuan untuk tinggi tanaman yang paling baik adalah perlakuan dengan pemberian pupuk daun sebanyak 4,5 ml/l.
Pada tabel 4.1.2 dan grafik 4.2.2 didapatkan data  rerata panjang daun pada kesempatan pengamatan menunjukan hasil yang sangat dinamis, naik turunya grafik panjang daun dapat disebabkan dengan jumlah daun dan panjang daun yang dibagi sehingga jika pada pengamtan selanjutnya terdapat daun yang gugur maka mempengaruhi hasil data yang diperoleh. Namun perlakuan 3 ml/l dan 4,5 ml/l dianggap memilki peningkatan panjang daun yang lebih baik meskipun pada perlakuan 3 ml/l sempat mengalami penurunan pada hari akhir, namun itu bisa diasumsikan bahwa terdapat daun yang rontok sehingga mempengari hasil atau data yang dipeoleh. Sedang perlakuan 4,5 ml/l, peningkatan panjang daunnya lebih stabil pada setiap waktu pengamatan. Meskipun hasil data dari penghitunga kontrol ini sangat sulit untuk menentukan perlakuan mana yang terbaik, namun perlakuan 4,5 ml/l masih bisa dianggap perlakuan yang lebih baik dari perlakuan lainnya.  Alasannya perlakukan dengan pemberian pupuk dengan konsentrasi 4 ml/l menunjukan hasil yang stabil dari pada perlakuan lainnya.
Pada tabel 4.1.3 dan grafik 4.2.3 pada parameter pengamatan jumlah dapat diketahui dari grafik diatasa bahwa semua perlakuan terdapat rata-rata jumlah daun yang berbeda-beda. Namun perlakuan yang paling baik terdapat pada perlakuan yang menggunakan pemupukan lewat daun pada konsentrasi 3 ml/l, dari hari pertama sampai pada hasil akhir terdapat rata-rata nilai jumlah daun mendapatkaan hasil yang stabil serta mendapat hasil akhir yang paling tinggi. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa pemupukan lewat daun dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman serta pada daun tanaman. Sedangkan perlakuan yang paling buruk yaitu pada perlakuan kontrol karena hasil rata-rata jumlah daun tidak stabil dan terdapatnya nilai naik turun dari hasil pengamatan pada H-9 sampai H-24. Perlakuan kontrol tidak mendapat pupuk daun hanya saja disiram menggunakan air biasa sehingga pertumbuhannya biasa-biasa saja. Pada hasil akhir (H-24) pada perlakuan kontrol mendapatkan hasil terendah dari pada perlakuan yang lain.
Padat tabel 4.1.4 dan grafik 4.2.4 pada parameter panjang akar diketahui rerata panjang akar pada setiap ulangan perlakuan, yaitu pada perlakuan kontrol dengan panjang akar 13,7 cm, dan perlakuan 1,5 ml/l dengan panjang akar 14,67 cm. selanjutnya pada perlakuan 3 ml/l dengan panjang akar 11,92 cm. Dari data tersebut dapat diasumsikan bahwa akar tanaman kontrol dan 1,5 ml/l memiliki usaha yang lebih tinggi untuk memperoleh nutrisi dalam akar, karena pupuk yang diberikan lewat daun masih kurang mencukupi, sedangkan perlakuan 3 ml/l dan 4,5 ml/l memiliki panjang akar yang relatif lebih pendek, hal ini dikarenakan daun pada tanaman telah menerima nutrisi lebih banyak, sehingga usaha atau fentrasi akar  untuk mencari sumber hara tidak terlalu besar, maka dari itu panjang akarnya relatif pendek                                                                                                     
Pemupukan melalui daun memberikan pengaruh yang lebih cepat terhadap tanaman dibanding lewat akar. Kecepatan penyerapan hara juga dipengaruhi oleh status hara dalam tanah. Bila kadar hara dalam tanah rendah maka penyerapan unsur hara melalui daun relatif lebih cepat dan sebaliknya bila kadar hara dalam tanah tinggi maka penyerapan unsur hara melalui daun relative rendah.  Pupuk daun merupakan pupuk organik yang mengandung unsur makro dan mikro (tunggal dan majemuk) dalam bentuk padat atau cair yang dapat langsung diserap oleh daun tanaman Pupuk daun diberikan dengan cara menyemprotkan pupuk lewat daun.  Tentunya dengan dosis yang sesuai dengan tanamannya. Ada satu kelebihan pemberian pupuk lewat daun, yaitu penyerapan haranya jadi lebih cepat dibandingkan pupuk yang diberikan lewat akar. Berikut kelebihan pemberian pupuk lewat daun dibandingkan lewat akar pupuk daun dapat memberikan hara sesuai kebutuhan tanaman.  Hara yang dibutuhkan tanaman memang relatif sedikit, tapi bersifat kontinyu.  Sebab itu, pupuk daun diberikan lebih sering tapi dosisnya rendah, pupuk yang diberikan lewat tanah tidak seluruhnya mencapai akar tanaman karena adanya beberapa kedala, baik dari sifat kimia pupuk maupun sifat tanah, kelarutan pupuk daun lebih baik dibandingkan pupuk lewat tanah, pengaruh kekurangan hara berlangsung lebih cepat dibandingkan pupuk akar, pemberiannya dapat lebih merata, kepekatannya dapat diatur sesuai pertumbuhan tanaman. Meskipun pupuk daun mempunyai banyak kelebihan, tetap saja dalam penggunaannya terdapat kekurangan. Beberapa kekurangannya adalah sebagai berikut bila dosis pemupukannya salah (misalnya terlalu tinggi), maka daun akan rusak, terutama sering terjadi pada musim kering, tidak semua pupuk daun dapat digunakan untuk tanaman yang langsung dikonsumsi seperti sayuran atau buah berkulit tipis.  Akibatnya kita harus lebih selektif memilih jenis pupuk daun yang diizinkan untuk tanaman tersebut, biaya yang digunakan lebih mahal.  Disamping harga pupuk daun lebih mahal dari pupuk akar, dalam pengaplikasiannya pun perlu peralatan khusus.
Pada awal pemunculan pupuk daun, dikatakan penyerapan unsur hara dilakukan melalui stomata daun. Tapi hal ini kemudian diralat, karena ternyata stomata hanya bisa dilalui gas. Kemudian berkembang isu lain, penyerapan dilakukan melalui permukaan daun (sel epidermis dan kultikula), yang bentuknya seperti tenunan. Faktanya, kebanyakan permukaan daun tanaman diselimuti oleh lapisan minyak, lilin, dan bahkan ditumbuhi bulu-bulu halus. Keadaan yang tentunya akan menjadi faktor penghambat masuknya unsur hara melalui daun. Memang daun, atau bahkan batang tanaman dapat menyerap unsur hara, namun demikian akar tetap saja lebih efektip dan efisien dalam menyerap unsur hara. Dalam beberapa kasus, memang unsur hara seperti K, dan Ca gampang masuk ke jaringan tanaman malalui daun dan bahkan batang tanaman. Tapi bukan berarti semua unsur hara lebih gampang diserap tanaman melalui bagian tanaman di luar akar. Bila penggunaan pupuk akar sulit diaplikasikan, misal pada tanaman epifit, seperti kebanyakan tanaman anggrek. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa pupuk daun sangat populer dan banyak digunakan di kalangan pecinta anggrek. Tanaman yang baru saja mengalami pruning akar, pemindahan pot, atau kondisi-kondisi dimana untuk sementara waktu akar sulit berlaku sebagaimana mestinya, pupuk daun akan sangat membantu dan bermanfaat (Sudarmono, 1997).
Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kendala tidak tersedianya unsur hara, baik makro maupun mikro pada berbagai jenis tanah yang kurang subur adalah dengan pemberian pupuk. Pemberian pupuk atau unsure hara ini selain diberikan lewat tanah juga bias diberikan lewat daun. Kelebihan utama dari pemberian pupuk dari daun yaitu penyerapan haranya lebih cepat dibandingkan pupuk yang diberikan lewat akar. Karena saat ini banyak produk pupuk daun dengan berbagai merek dagang dengan komposisi hara makro dan mikro yang bervariasi. Namun, secara umum unsur hara yang dominan dalam pupuk daun adalah hara makro yang ditambahkan dengan hara mikro, dalam arti bahwa hara makro sebagai pokok pemberian unsur sedangkan hara mikro sebagai penambah atau penunjang dari hara makro. Seperti contohnya pada tanaman sayur, maka pupuk daun yang diberikan harus berkadar N yang tinggi maka dari itu pemupukan daun ini dapat dikatan sebagai teknik inovasi dalam pengelolahan pertanian.
BAB 5. KESIMPULAN

Dari praktikum respon tanaman terhadap pemupukan lewat daun dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1.      Dari data diatas perlakuan terbaik pada perlakuan dengan konsentrasi 3 ml/l ,hal ini dikarenakan semakin tinggi konsentrasi yang diberikan akan menambah jumlah daun tanaman, akan tetapi jika telah mencapai titik optimum maka konsentrasi pupuk daun akan mengakibatkan tanaman mengalami pengguguran daun dan lama-kelamaan akan mati.
2.      Pada pemupukan lewat daun pemberian dosis yang berlebihan maka akan mengakibatkan sel sel daun akan rusak dan layu, apabila pemberian dosis yang sedikit maka tidak akan terjadi proses apa-apa atau kurang efektif.
3.      Hasil berbeda dari setiap kelompok dengan perlakuan yang sama terjadi karena pengaruh factor lain, misalnya intensitas penyiraman dan perawatan tanaman atau kesalahan dalam pengukuran tinggi tanaman.

5.2  Saran
Dalam pengamatan praktikum kali ini seharusnya praktikan dalam melakukan pengukuran sebaiknya mengetahui cara mengukur parameter yang telah disesuaikan supaya tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran, sehingga tidak terjadi perbedaan cara pengukuran antar praktikan pada saat waktu pengamatan nantinya.




DAFTAR PUSTAKA

Albert, H.W., Syarif, F., dan Budiardjo. 2008. Peranan Pohon Induk dan Pengaruh Pemupukan Daun Terhadap Pola Pertumbuhan Semai Cendana (Santalum album L.). Panel Hayati, 14(1): 55-61.

Balal, R.M., et al. 2011. Effects of Phosphorus Fertilization on Growth, Leaf Mineral Concentration and Xylem-Phloem Nutrient Mobility in Two Rootstocks of Prunus (Prunus persica × Prunus amygdalus) and (Prunus insititia) In The Mediterranean Area. Crop Science, 5(12): 1542-1549.

Lingga, P., dan Marsono. 2008.Petunjuk Penggunaan Pupuk. Depok: Penebar Swadaya.

Liu, D., dan Shi, Y. 2012.Effects of Controlled Release Fertilizer on the Flag Leaves Senescence in Dry-land Wheat. Food Science and Technology, 5(5): 557-560.

Nasaruddin dan Rosmawati. 2011.Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Hasil Fermentasi Daun Gamal, Batang Pisang dan Sabut Kelapa Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao.  Agrisistem, 7(1): 29-37.

Nurmas, A., dan Putri, S.F. 2011. Pengaruh Jenis Pupuk Daun dan Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) Varietas Bisi. Agroteknos, 1(2): 89-95.

Prihmatoro, H. 2007. Memupuk Tanaman Sayur. Depok: Penebar Swadaya.

Sudarmono, A. 1997.  Mengenal dan Merawat Tanaman Hias Ruangan. Yogyakarta: Kanisius.

Sulistyono, A., dan Widiwurjani. Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi Daun NU_Clear Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Strawberry. Plumula, 1(1): 81-85.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar